
"Apa masih ada yang ingin ditanyakan Bu Marsha?" tanya Dokter Rinta kepada Marsha.
Terlihat anggukan kepala dari Marsha dan juga Abraham. Menurut keduanya, apa yang sudah dijelaskan oleh Dokter Rinta begitu detail dan juga rinci. Sehingga, Marsha merasa bahwa sudah cukup dengan semua penjelasan dari Dokter Rinta.
"Oh, iya… saya tambahkan jika Ibu dan suami ingin berhubungan suami istri tentu boleh, karena trimester kedua, kondisi Ibu hamil lebih baik, selain itu janin juga lebih kuat karena sudah terbentuk plasenta. Hanya saja, jangan menekan area perut dan utamakan kenyamanan Ibu hamil," jelas Dokter Rinta lagi.
Marsha dan Abraham pun menganggukkan kepala, wajahnya bersemu merah lantaran malu. Tidak mengira bahwa perihal hubungan suami istri saja dijelaskan oleh sang Dokter. Maklum juga, keduanya sama-sama awam. Bahkan ini adalah pengalaman pertamanya untuk mengunjungi Dokter Kandungan berdua.
Usai pemeriksaan dan konsultasi, keduanya berpamitan dan kini keduanya berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit dan menuju ke Apotek untuk menebus obat dan membayar seluruh biaya pemeriksaan.
Abraham pun dengan gesit mengeluarkan dompetnya dan membayar biaya pemeriksaan istrinya itu. Marsha mengernyitkan keningnya melihat kuitansi bukti pembayaran yang nominalnya mendekati angka satu juta rupiah. Tentu ini terbilang mahal, karena waktu di Semarang, Marsha hanya mengeluarkan uang seratus ribu Rupiah saja untuk periksa dan sudah mendapatkan obat.
"Biar aku yang bayar aja, Mas," ucap Marsha.
Abraham dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Gak usah, biar suami kamu saja. Yang penting untuk periksa kamu setiap bulan ada kan? Kalau itu aman. Lebih malahan," balas Abraham.
Bukannya Marsha merendahkan Abraham secara finansial, hanya saja Marsha tahu bahwa pekerjaan seorang fotografer itu musiman. Jika musimnya laris, rupiah akan datang dengan sendirinya. Namun, jika memang baru sepi, bisa tidak mendapatkan pemasukan.
"Makasih Papa," balas Marsha dengan tersenyum menatap suaminya itu.
Usai semua obat sudah diberikan dan penerimaan biaya rincian dari konsultasi dan berbagai obat, Marsha mengernyitkan keningnya lagi.
"Pantesan habis banyak. Obat yang Asam Folat ini saja hampir Rp. 200.000,- sendiri. Aku padahal di Bidan, periksa cuma separuhnya ini sudah dapat obat," balas Marsha.
Abraham pun tersenyum, "Tidak apa-apa. Berikan yang terbaik untuk anak kita sejak dini. Obatnya ada tiga loh ini Shayang. Asam folat dan Omega 3, Kalsium, dan penambah darah. Tekanan darah kamu masih rendah, banyakin makan yang sehat dan kaya Zat Besi, Shayang," ucap Abraham.
__ADS_1
"Iya Mas, besok aku belanja sayur lagi. Kadang di depan apartemen ada penjual sayur yang lewat, hanya saja tidak lengkap. Aku pengen Sayur Bening kayak yang dibikinkan Mama Diah itu," balas Marsha.
"Mau aku belanjain sayuran?" tawar Abraham.
Marsha pun menggelengkan kepalanya perlahan, "Enggak usah, Mas. Aku belanja di bawah saja. Toh, sekarang aku juga keluar untuk belanja sayur saja," balas Marsha.
Sembari menjalankan mobilnya, banyak hal yang diobrolkan Marsha dan Abraham. Sampai akhirnya mereka tiba kembali di apartemen mereka.
Marsha memilih mengganti pakaiannya terlebih dahulu, sekaligus membersihkan wajahnya. Hamil kali ini, rasanya Marsha begitu malas untuk mengenakan make up. Lebih suka tampil natural dan apa adanya. Sementara, Abraham sudah berbaring di atas ranjang dengan posisi tengkurap. Pria itu terlihat asyik dengan ponsel di tangannya.
"Seru banget sih, Mas … baru ngapain?" tanya Marsha kepada suaminya itu.
"Ini Shayang, lihat video waktu kamu diperiksa tadi. Tadi aku kan rekam tampilan USG yang dimonitor. Dengar nih Shayang, detak jantung baby kita," ucap Abraham memperlihatkan hasil rekamannya saat Dokter Rinta memperdengarkan detak jantung bayinya.
Melihat Marsha yang menangis, Abraham pun beringsut. Pria itu duduk di hadapan Marsha, kemudian mulai menyeka buliran air mata di pipi Marsha.
"Kok malahan nangis sih?" tanya Abraham yang terlihat bingung melihat derai air mata di wajah Marsya.
"Aa … aku terharu," jawab Marsha dengan terisak.
Ya, mendengarkan detak jantung babynya membuat Marsha begitu terharu. Ada kehidupan yang bersemi di dalam rahimnya. Kehidupan baru yang akan terus berlangsung hingga 9 bulan 10 hari nanti.
"Sama Shayang, tadi aku juga terharu banget. Ada baby kita, buah hati kita," balas Abraham.
Kemudian Abraham merangkul bahu Marsha, memberikan usapan naik dan turun di lengan istrinya itu, kemudian Abraham sedikit menarik wajah Marsha dan dia mendaratkan kecupan hangat di kening istrinya itu.
__ADS_1
"Dijaga baik-baik ya babynya. Kita tunggu bersama sampai baby nanti lahir. Sudah, kamu tak perlu memikirkan finansial. Aku punya dan berlebih untuk kalian berdua. Kalian berdua prioritasku," ucap Abraham dengan sungguh-sungguh.
Marsha menganggukkan kepalanya, sepenuhnya akan menerima ucapan suaminya itu. "Aku cuma mau berbagi. Di rumah tangga kita, semua bisa kita lakukan bersama-sama bukan? Jadi, uang kita pakai bersama tidak masalah," balas Marsha.
"Tidak Shayang, itu uang kamu." Abraham menegaskan bahwa itu adalah uangnya.
Kemudian Abraham mengeluarkan sebuah kartu debit dari sebuah bank swasta. Memang bukan black card yang mencapai jumlah unlimited seperti milik orang-orang berduit. Abraham memberikan sebuah kartu debit berwarna putih kepada Marsha.
"Ini nafkah pertamaku untuk kamu. Pakai saja Shayang … kalau kurang, minta lagi boleh," ucap Abraham.
Debit card yang memang terisi saldo itu diberikan Abraham kepada Marsha sebagai nafkah pertamanya. Tanggung jawab pertamanya sebagai seorang suami yang harus menafkahi istrinya.
"Terima yah, nanti tiap bulan aku isiin. Sekalian buat kebutuhan sehari-hari. Buat dapur kita mengepul ya Shayang. Aku akan bekerja keras buat kamu dan anak kita," ucap Abraham.
Mendengar perkataan Abraham, justru Marsha kembali menangis. Bukan sedih, melainkan begitu terharu karena Abraham benar-benar menafkahinya secara lahir dan batin. Hatinya sebagai seorang istri merasa begitu terharu.
"Aku Terima ya Mas, terima kasih banyak," ucap Marsha dengan menerima Debit Card itu.
Abraham menganggukkan kepalanya, "Sama-sama. Jadi Menteri Keuangan di rumah tangga kita yah, kalau kurang, minta lagi boleh," ucap Abraham lagi.
"Enggak, justru kalau bisa kita punya tabungan berdua," sahut Marsha.
Abraham pun tersenyum, "Shayang, kamu kan hamil, bagaimana kalau aku cuti dari profesimu sebagai model?" pinta Abraham kali ini.
Sekaligus kali ini Abraham meminta kepada Marsha untuk cuti dari dunia modelling yang sudah membesarkan namanya. Abraham berjanji, dia akan bekerja sekuat tenaga untuk keluarga kecilnya. Menjadi suami dan calon ayah justru membuat Abraham kian bersemangat untuk bekerja keras dan menghasilkan pundi-pundi Rupiah untuk keluarga kecilnya.
__ADS_1