Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Braxton Hicks


__ADS_3

Dengan perasaan yang tidak tenang, Abraham membawa Marsha menuju ke Rumah Sakit. Dalam hatinya, Abraham berharap bahwa Marsha bisa bertahan dan tentunya bersabar.


"Sabar yah Shayang ... biar nanti dicek oleh Dokter Indri," ucap Abraham.


"Euhm, iya Mas," balas Marsha.


Beberapa saat mereka menunggu, sampai akhirnya kini Marsha diperiksa oleh Dokter Indri. Tidak banyak berbicara, Dokter Indri meminta Marsha untuk berbaring di atas brankar terlebih dahulu. Kemudian ada beberapa pertanyaan yang ditanyakan oleh Dokter Indri.


"Sakitnya sering tidak Bu Marsha?" tanya Dokter Indri.


"Tidak sih Dok ... cuma kadang datang dan kadang hilang," balas Marsha.


Pemeriksaan masih dilakukan dengan USG untuk melihat usia bayi, kadar air ketuban di dalam rahim, dan posisi bayinya.


"Ya, ini usia kehamilan 39 minggu. Jadi, memang memungkinkan terjadi tanda-tanda persalinan. Kepala bayi juga sudah turun ya Bu Marsha ... lalu, jumlah air ketuban masih cukup. Air ketubannya juga bersih dan baik yah, karena di monitor terlihat bahwa air ketubannya tidak keruh," jelas Dokter Indri.


Marsha dan Abraham pun mendengarkan prosedur pemeriksaan yang dilakukan oleh Dokter Indri. Lega rasanya mendengar bayinya baik, air ketubannya cukup, hanya saja ada hal yang membuat keduanya merasa tidak tenang yaitu tanda-tanda kehamilan yang seakan sudah terjadi.


"Sekarang ... kita lakukan cek dalam ya Bu?" ucap Dokter Indri.


Sebagai orang yang baru pertama kali hamil, tentu Marsha bertanya-tanya apa itu cek dalam.


"Cek dalam itu gimana Dok?" tanya Marsha.


"Cek dalam atau pemeriksaan dalam adalah prosedur yang dilakukan oleh bidan atau dokter memasukkan jari-jari mereka ke dalam jalan lahir untuk merasakan serviks, dan untuk memperkirakan seberapa melebarnya saat menjalani proses persalinan," jawab Dokter Indir.


Marsha hanya mengangguk saja, lebih baik mengikuti instruksi dari Dokter Indri. Sebab, dia akan tahu pemeriksaan dalam itu yang seperti itu.

__ADS_1


"Sekarang, dengarkan instruksi saya ya Bu Marsha ... buka kedua pahanya, saya akan cek dalam, dan Bu Marsha jangan berpikiran yang aneh-aneh. Tarik nafas, dan tahan saat pemeriksaan terjadi yah," instruksi dari Dokter Indri.


Terlebih dahulu Dokter Indri mengenakan sarung tangan medis, kemudian dibantu oleh seorang perawat untuk membuka paha Marsha, kemudian kedua jarinya masuk ke dalam jalan lahir Marsha. Saat kedua jarinya masuk, Marsha merintih dan menangis.


"Aw, sakit Dok ...."


"Tidak apa-apa, Bu Marsha ... sebentar yah. Supaya kita tahu apakah si baby akan segera lahir."


Beberapa menit berlalu, dan saat jari tangan Dokter Indri keluar, rupanya di sana ada bercak darah. Kemudian Dokter Indri seolah mempertimbangkan darah dari serviks itu.


"Sudah pembukaan dua, Bu Marsha ... pembukaan dua untuk calon Ibu yang akan bersalin biasanya bisa membutuhkan waktu berhari-hari lagi sampai ke pembukaan sepuluh atau pembukaan sempurna," ucap Dokter Indri.


Kemudian Marsha merapikan kembali pakaiannya, dan kemudian duduk di depan depan meja sang Dokter dan kemudian kembali berkonsultasi.


"Jadi, sakit mules banget ini apa Dok?" tanya Marsha.


"Kontraksi palsu atau braxton hicks. Memang kontraksi palsu adalah hal yang wajar dialami saat Ibu sudah mendekati masa persalinan. Kontraksi palsu umumnya berlangsung lebih cepat dan tidak teratur dibandingkan dengan kontraksi asli. Kontraksi palsu biasanya terjadi sekitar 30-60 detik atau paling lama dua menit," jelas Dokter Indri.


"Lalu, saya harus bagaimana Dok?" tanya Marsha.


"Melakukan aktivitas ringan yang lebih banyak, istirahat, mengubah posisi duduk menjadi berbaring, dan minum air putih yang cukup supaya Ibu tidak mehalami dehidrasi," jawab Dokter Indri.


Abraham pun turut memperhatikan penjelasan dari Dokter Indri. Rasanya sudah deg-degan saja, padahal masih sebatas kontraksi palsu, bagaimana jika benar-benar kontraksi nanti.


"Coba Ibu Marsha instal aplikasi ini untuk mencatat masa kontraksi. Tiap kali merasa mules, bisa Ibu pencet tombol ini supaya terecord yah. Sebab kontraksi palsu ini frekuensi kontraksinya tidak menentu, kontraksi tidak bertahan lama bahkan cenderung menghilang ketika ibu melakukan aktivitas ringan, kontraksi tidak disertai dengan adanya noda atau bercak darah, dan juga kontraksi tidak membuat air ketuban pecah," jelas Dokter Indri lagi.


"Dari pembukaan dua ke pembukaan selanjutnya berapa lama Dok?" tanya Abraham.

__ADS_1


"Bisa tergantung sih Pak ... ada yang hari ini pembukaan dua, malam sudah melahirkan. Akan tetapi, ada pula yang berhari-hari bahkan seminggu. Jadi, Bapak dan Ibu pulang tidak apa-apa. Jika frekuensi kontraksinya sudah lebih sering nanti bisa kembali ke Rumah Sakit."


Mendengar advice yang disampaikan Dokter Indri, Marsha dan Abraham kembali ke rumah. Perasaan yang tidak menentu. Terpikir dengan masa persalinan itu akan seperti apa. Sekadar kontraksi palsu saja untuk menimbulkan rasa sakit dan rasa tidak nyaman di bagian perut bagian bawahnya.


"Pulang dulu yah ... nunggu kontraksinya lebih teratur dan pembukaannya bertambah. Semoga gak lama lagi Dedek bayi akan segera launching. Aku panik tadi, bingung harus seperti apa," ucap Abraham dengan jujur.


Sementara Marsha pun berjalan mengikuti Abraham untuk masuk ke dalam ke dalam mobilnya. "Pasti Mama bingung karena kita pulang lagi," ucap Marsha.


"Tidak apa-apa Shayang ... lagian kita juga enggak tahu kapan pembukaannya bertambah. Yang lebih peka ya Shayang ... dicatat frekuensi kontraksinya. Jika gejala kehamilan datang, baru kita ke Rumah Sakit," balas Abraham.


Dengan menenangkan dirinya, Abraham membawa Marsha kembali ke unitnya. Sembari berdoa dalam hati bahwa jikalau bisa pembukaan dua ke pembukaan selanjutnya itu tidak memakan waktu berhari-hari.


"Loh, kok pulang lagi?" tanya Mama Diah yang juga bingung melihat Marsha dan Abraham yang kembali pulang ke unit.


"Iya Ma ... sudah pembukaan dua sih, tetapi baru sebatas kontraksi palsu," balas Marsha.


"Oalah ... masih kontraksi palsu. Untuk istirahat dulu, Sha ... sama untuk jongkok berdiri, biar makin turun dan menambah pembukaan," ucap Mama Diah.


"Iya Ma," balas Marsha.


Abraham membantu Marsha untuk duduk di sofa, kemudian mengusapi perut istrinya itu. "Adik bayi mau launching kapan nih? Berikan gelombang cinta ke Mama yah," balas Abraham.


Tidak berselang lama, Mama Diah berdiri dan memberikan secangkir teh panas untuk Marsha.


"Minum tehnya dulu, Sha ... biar lebih enak," ucap Mama Diah.


"Makasih Ma," balas Marsha.

__ADS_1


"Yang sabar yah ... tenang. Semoga tidak lama lagi," balas Mama Diah.


Baik Mama Diah dan Abraham sama-sama berdoa dan berharap semoga kontraksi palsu yang dialami Marsha akan berganti dengan kontraksi yang lebih teratur frekuensinya, dan tidak lama lagi bayi keduanya bisa segera lahir.


__ADS_2