Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Bayangan Pria Lain


__ADS_3

"Aku kangen kamu, Ayang." 


Melvin berbicara dengan suaranya yang dalam. Pria itu menatap lekat wajah Marsha di sana. Bahkan perlahan Melvin membawa tangannya menyisiri sisi wajah Marsha. Membelainya dengan begitu lembut. 


Akan tetapi, Marsha tampak terkesiap. Bahkan wanita itu menghela nafas dan berusaha membentengi dirinya. Yang menyentuhnya adalah suaminya sendiri, tetapi justru kegamangan yang memenuhi hati Marsha sekarang ini. 


"Sorry ya untuk sikapku yang kasar kepadamu," ucap Melvin lagi. 


Kini jari telunjuk pria itu yang menyentuh lipatan bibir bawah milik Marsha. Memberikan usapan di permukaan kulit yang kenyal itu. 


Marsha justru memalingkan wajahnya, tidak siap dengan segala kemungkinan yang terjadi antara dirinya dengan Melvin. Padahal Melvin adalah suaminya, memiliki hak penuh atasnya. Namun, sekarang Marsha merasa tidak bisa membuka diri sepenuhnya kepada Melvin. Perasaan apa ini? Kenapa justru hati dan dirinya bereaksi demikian? 


Melvin kian mendekat, mengikis jarak wajah keduanya yang hanya sejengkal. Pria itu bahkan sudah memiringkan wajahnya, dan siap untuk mendaratkan bibirnya di atas bibir Marsha. Namun, Marsha justru membuang muka. Sehingga bibir Melvin hanya mengenai pipinya saja. 


Melihat reaksi Marsha, Melvin tersenyum dan kemudian membawa wajah Marsha untuk berhadap-hadapan dengannya. 


"Kamu kenapa?" tanya Melvin. 


"Tidak apa-apa," balas Marsha. 


Wanita itu berdiri, menjauh dari Melvin dan menetralisir deru nafasnya yang sesak. Hanya sebatas Melvin yang ingin menyentuhnya, tetapi Marsha justru merasakan hal seperti ini. 


Melvin juga berdiri, pria itu mendekap tubuh Marsha dari belakang. Mendekapnya, tangannya bergerak menyisiri bahu, lengan, hingga telapak tangan Marsha. Memberi sentuhan di sana. 


"Ayang, boleh untuk hari ini? Sekarang," ucap Melvin dengan suara yang parau dan dalam. 

__ADS_1


Marsha merasa serba salah. Apakah memang itu hanya suaminya yang sedang menginginkannya sehingga berbicara lembut. Sementara, jika sudah tidak menginginkan mungkinkah Melvin akan kembali berbicara kasar kepadanya? 


Belum ada jawaban yang pasti dari Marsha, tetapi tangan Melvin telah menyusup di balik kaos yang Marsha kenakan. Memberikan usapan di punggung istrinya, bahkan tangan itu membuka pengait yang tersembunyi di balik punggung Marsha. Saat pengait dilepas, maka bongkahan buah persik yang ada di dada pun seolah kehilangan penyangganya. 


Melvin menyingkap ke atas kaos yang dikenakan Marsha, hingga kini bagian atas wanita itu sudah sepenuhnya terbuka. Melvin membawa bibirnya menyusuri punggung Marsha. Memberikan kecupan demi kecupan di punggung yang halus dan putih itu. Tangannya bergerak dan meremas buah persik Marsha. Memilin ujungnya, bahkan memberikan cubitan-cubitan kecil di puncak dada itu. 


Marsha memejamkan mata, tidak dipungkiri sentuhan yang diberikan suaminya begitu melenakan. Namun, Marsha pun masih gamang dengan perasaannya. Lebih sial, saat Melvin menyusuri lekuk-lekuk feminitas di tubuhnya, justru yang Marsha bayangkan sekarang adalah Abraham. 


Tentu adalah pikiran yang tidak benar. Namun, yang muncul dipikirannya sekarang adalah Abraham. Marsha kian memejamkan matanya dan menggigit bibir dalamnya. Menahan supaya mulutnya tidak membuka dan memanggil dengan de-sahan nama mantannya itu. 


"Ah, A …," ucap Marsha dengan tercekat. 


A yang dia maksud dan hendak dia suarakan adalah Abraham, bukan Ayang panggil sayangnya untuk Melvin. 


"Ya, Ayang," sahut Melvin. 


Lantas Melvin mengangkat kaos yang dia kenakan, melepasnya dan membuang asal. Lebih dari itu, Melvin juga meloloskan sisa-sisa benang yang menempel di tubuh keduanya. 


Seperti biasanya, Melvin mengarahkan pusaka ke mulut Marsha. Meminta istrinya itu untuk memuaskannya. Menekan kepala Marsha untuk memperdalam aktivitasnya, kemudian pria itu tersenyum. 


"Thanks Ay," ucapnya. 


Melvin kini menindih tubuh Marsha. Pria itu melakukan apa pun yang dia mau atas tubuh Marsha. Menyisiri lembah di bawah sana dengan jarinya. Memberi usapan di sana, bahkan tusukan yang dia berikan dengan jari tengahnya. 


Marsha yang terengah-engah justru menjadi pemandangan yang membuat Melvin kian gelap mata. Merasa bahwa milik istrinya telah basah, Melvin kemudian membuka kedua paha Marsha. Pria itu menempatkan diri di antara dua paha itu dan menghujamkan pusakanya. 

__ADS_1


Perlahan, hingga pergerakannya meningkat menjadi cepat dan lebih cepat. Melvin berkali-kali menggeram. Pria itu terlecut untuk terus bergerak, meniti puncak asmara yang dia raih bersama Marsha. 


Menghujam kian dalam, menusuk kian masuk, dan menghentak dalam irama yang serupa. Cengkeraman cawan surgawi di bawah sana membuat Melvin memejamkan matanya. 


"Ayang," ucap Melvin dengan bergerak kian liar, bak tak bisa terkendali lagi. 


Marsha hanya menahan nafas dan berusaha menahan de-sahannya untuk tidak keluar. Sebab, saat Melvin menindihnya justru bayangan Abraham yang muncul di benaknya sekarang ini. Saat Melvin menghujamnya dalam-dalam justru Marsha melihat wajah Abraham di sana. 


Perasaan ini tidak benar. Sangat terlarang, maka dari itu di tengah kenikmatan yang Marsha nikmati ada hatinya yang pilu dan sesak. 


Di ambang batas pergerakannya, Melvin bergerak dengan kian cepat. Sampai akhirnya pria itu merasakan ledakan dari dalam dirinya. Melvin rubuh di atas tubuh Marsha dengan peluh yang menambahkan kesan liat dan hangat di tubuh polos keduanya. 


"Love U Ayang," ucap Melvin. 


Marsha lagi-lagi diam. Rubuhnya Melvin di atas tubuhnya justru membuat Marsha menitikkan air mata. Bukan air mata kenikmatan, tetapi air mata untuk perasaan dan bayangan terlarang pria lain saat dirinya tengah meniti puncak asmara yang penuh gelora bersama suaminya itu.


Aku justru mengingatmu, Bram… 


Semua uang dilakukan suamiku barusan justru benakku terisi penuh olehmu. 


Bagaimana ini Bram? 


Apa perasaan ini? 


Mengapa hatiku justru kian sesak rasanya. 

__ADS_1


Marsha berbicara dengan hatinya sendiri, dan menekan rasa sesak di dada. Bahkan tidak ada rengkuhan erat yang dia berikan kepada Melvin saat tubuh pria itu rubuh dan bergetar di atas tubuhnya. 


__ADS_2