
Keluarga, adalah unit terkecil dalam masyarakat. Akan tetapi, begitu banyak kisah hingga instrik yang terjadi di dalam keluarga. Tidak jarang dalam keluarga tumbuh rasa sayang secara alamiah, tetapi masalah di dalam keluarga pun begitu beragam. Itulah kenapa, sebelum bersosialisasi dengan orang lain, manusia harus tumbuh dan bersosialisasi dalam keluarganya sendiri, di dalam rumahnya sendiri.
"Butuh apa Shayang?" tanya Abraham kepada istrinya itu.
Marsha pun menggelengkan kepalanya perlahan, "Enggak ... butuh pelukan dari kamu saja, Mas," balas Marsha.
Abraham pun tersenyum, tidak banya berbicara, Abraham segera mendekap erat tubuh Marsha, tangannya bergerak perlahan dan mengusapi punggungnya. "Kangen yah?" tanya Abraham kemudian.
"Iya, kangen banget," balas Marsha.
"Kelihatannya sejak pulang ke rumah, baru sekarang dipeluk sama kamu," jawab Marsha dengan menghela nafas dan memejamkan matanya perlahan dengan wajahnya yang dekat dengan dada suaminya. Hingga dengan telinganya, Marsha bisa mendengarkan degup jantung Abraham di sana.
"Maaf, waktunya dibagi-bagi Shayang ... katamu, aku juga mengurus Mira dulu biar Mira tidak merasa terabaikan. Jadi, dalam dua hari ini, aku banyak dengan Mira," balas Abraham.
Sepenuhnya Abraham juga melakukan pesan Marsha kepadanya untuk bisa mengasuh Mira dengan baik. Membagi waktu dengan Mira, dan juga kadang mereka bergantian. Jika, Mira sedang ingin dengan Mamanya, maka Abraham lah yang akan menjaga Marvel. Begitu juga sebaliknya. Sehingga, Mira sendiri bisa memahami bahwa kasih sayang Mama dan Papanya tidak berkurang, hanya saja memang disesuaikan dengan sebaik mungkin karena ada baby Marvel juga.
"Iya sih Mas ... mungkin aku yang baru kangen sama kamu," balas Marsha.
__ADS_1
Dia mengakui bahwa sebenarnya Marsha merasa kangen dengan suaminya. Beradaptasi dengan Mira dan Baby Marvel mau tidak mau membuat waktu berdua dengan pasangan berkurang. Tak jarang para ibu terbenam dengan urusan rumah tangga dan anak-anak, sementara para ayah akan terbenam dengan pekerjaan. Oleh karenanya, tak jarang banyak pasangan merasa bahwa kemesraan dengan pasangannya berkurang setelah memiliki anak.
"Sama, aku juga kangen, Shayang ... sabar dan beradaptasi yah. Inilah keluarga kita sekarang ini," balas Abraham.
"Hem, iya ... dan kita bertumbuh di dalam keluarga ini. Lingkungan tumbuh kembang kita," balasnya.
"Benar Shayang ... ini lingkungan tumbuh kembang kita. Mama Marsha, Papa Abraham, Mira, dan Marvel. Jadi, mari kita saling bertumbuh dan menumbuhkan satu sama lain," balas Abraham.
Marsha kemudian menganggukkan kepalanya, "Benar banget ... keluarga ini seperti pohon ... kamu adalah akarnya, aku adalah batangnya, dan anak-anak kita adalah ranting-rantingnya. Terus berakar dan tumbuh kokoh ke atas, dan ranting-ranting akan menghasilkan daun yang berisi nilai, norma, etika, dan semua hal baik yang kita berikan. Hingga akhirnya tumbuhlah buah di setiap ranting itu," balas Marsha.
"Kalau butuh apa-apa, bilang saja Shayang ... aku akan merawat kamu sampai sembuh. Aku membaca kalau caesar itu membutuhkan waktu pulih lebih lama. Jadi, nanti aku akan selalu merawat kamu," balas Abraham.
"Iya Mas ... kan juga sudah dirawat dan dibantuin banyak hal. Secara khusus, ada Mama Diah yang sangat membantu banget. Masalah dapur dihandle penuh oleh Mama Diah, itu meringankan aku banget. Di Semarang sana ... Mamaku baru ngapain yah Mas? Kenapa sejak pertemuan kami waktu itu, Mama tidak menghubungiku lagi yah?" tanya Marsha kemudian.
Ya, walau hidupnya sudah bahagia dengan suami, anak-anak, dan keberadaan Mama mertuanya. Ada satu titik di mana Marsha merasakan rindu dengan Mama kandungnya. Pertemuan di Semarang dan fakta yang Marsha dapati ketika Mamanya sudah menikah lagi, nyatanya tidak merekatkan hubungan keduanya. Sejak saat itu, Mamanya juga tidak pernah menghubunginya lagi.
"Mungkin Mama kamu baru sibuk Shayang," balas Abraham. Sepenuhnya jawaban ini adalah formalitas semata karena memang Abraham juga bingung harus memberikan jawaban apa kepada Marsha.
__ADS_1
"Dulu, sewaktu aku kecil, kupikir keluargaku adalah keluarga yang sempurna. Mama yang cantik, Papa dengan pekerjaan yang baik dan rumah yang baik. Namun, semuanya itu berganti. Ya, seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak belang yang bisa kulihat. Keharmonisan dalam keluargaku tidak ada lagi. Semuanya berganti dengan luka dan duka. Padahal, aku dulu merasa lingkungan tumbuh kembang di keluargaku sangat ideal," cerita Marsha kemudian.
"Baru kangen Mama yah?" tanya Abraham kemudian.
Marsha pun meneteskan air matanya. Sebagai seorang anak, walau dia banyak terluka, tetap saja dia kangen dengan Mamanya. Kebetulan juga, Marsha sudah bersalin juga. Ada rasa rindu bisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari ibu kandungnya sendiri.
"Iya ... mungkin aku sedang rindu. Aku memiliki mama mertua yang super baik, tetapi mama kandungku sendiri seakan tidak menaruh sedikit hatinya untukku," balas Marsha.
Abraham mengusapi kepala Marsha yang berada dekat dengan dadanya, dan kemudian mengecup kening Marsha di sana. "Menangis boleh ... penting jangan terlalu bersedih. Mama Diah menyayangi kamu, lebih dari dia menyayangi aku. Setidaknya itu juga bentuk kebaikan dari Tuhan untukmu," balas Abraham.
"Iya, apa cinta seorang berondong, sudah sepenuhnya mengalihkan hati dan perasaan Mamaku ya Mas? Pun begitu juga dengan Papaku."
Marsha bercerita semua itu dengan menghela nafas yang terasa begitu berat. Lantas, dia mengurai pelukannya.
"Potret keluargaku tidak baik dan tidak sempurna ... maukah kita berdua membuat potret yang indah yang bisa dipandang anak-anak kita hingga dewasa nanti?" pinta Marsha.
"Iya bisa ... hari demi hari kita akan potret yang indah, biar nanti menjadi potret yang indah untuk Mira dan Marvel yah ...."
__ADS_1