
Keesokan harinya pun tiba. Begitu Abraham mengantarkan Marsha, rupanya Mama Diah pun bersiap untuk memesan beberapa kue yang bisa dibawa untuk melamar Marsha. Tak hanya itu, Mama Diah juga meminta kepada Abraham untuk membeli cincin untuk mengikat Marsha sampai masa Iddah Marsha usai, dan juga berkas pernikahan selesai diurus.
Kini, Abraham sudah bersiap mengenakan kemeja batik lengan panjang. Pria itu bersama Mama Diah dan beberapa kerabat dekat yang datang ke rumah Marsha, di rumah Mamanya Marsha untuk melamar Marsha dengan baik-baik.
"Selamat sore," sapa Abraham begitu tiba di depan rumah calon mertuanya itu.
“Sore, mari silakan masuk ….”
Suara seorang wanita paruh baya yang mempersilakan Abraham dan kurang lebih lima orang dari kerabatnya itu untuk masuk ke dalam rumah. Rombongan itu kemudian mengambil duduk di kursi yang berada di ruang tamu, dan tidak berselang lama Mama dan Papanya Marsha datang dan memberikan salam untuk seluruh rombongan yang datang.
“Perkenalkan kami orang tuanya Marsha ….”
Dengan sopan kedua orang tua Marsha pun memperkenalkan dirinya kepada keluarga Abraham. Mereka adalah Papa Budiman dan Mama Ria. Walau sudah cukup lama mereka memilih mengakhiri kehidupan pernikahan mereka, tetapi kali ini keduanya terlihat kompak menerima kedatangan keluarga Abraham.
__ADS_1
Oleh karena ini, hanya lamaran sederhana sehingga hanya dilakukan oleh kedua belah pihak keluarga, perwakilan dari RT dan tetangga saja yang hadir. Lagipula, Marsha juga baru mengalami kegagalan rumah tangga, dan sudah ada pria lain yang mempersuntingnya. Sudah pasti banyak gonjang-ganjing yang terjadi dan menjadi perbincangan warga. Akan tetapi, keluarga Marsha berusaha tenang dan tetap melangsungkan itikad baik dari keluarga Abraham.
"Begini Bapak Budiman dan Ibu Ria, tujuan kami datang ke mari untuk meminta kepada Bapak dan Ibu, kiranya Bapak dan Ibu berkenan untuk memberikan izin, doa, dan restu untuk Abraham yang memiliki niat baik untuk mempersunting Marsha," ucap perwakilan keluarga dari pihak Abraham.
Sebagai juru bicara, tentu akan memberitahu tujuan mereka datang dan meminta kepada kedua orang tua Marsha untuk sudi memberikan izin, doa, dan restunya.
Terlihat Bapak Budiman dan Bu Ria yang menganggukkan kepalanya, keduanya sama-sama mendengarkan itikad baik dari Abraham dan keluarga yang baik dan meminta dengan baik untuk bisa mempersunting Marsha.
"Ya, kami sudah cukup lama mengenal Abraham ... Mas Bram ini bukan orang baru bagi Marsha. Tentu kami pun sudah mengenalnya. Hanya saja untuk pernikahan sebatas mengenal saja belum cukup, harus ada keterbukaan antara masing-masing pasangan untuk menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Menerima kekurangan Marsha dan segala kelemahannya. Kami orang tua hanya bisa memberikan doa dan restu, yang menjalani nanti tentu Mas Bram dan Marsha. Kami hanya mendoakan yang terbaik," ucap Papa Budiman sebagai Ayah Marsha.
"Ya, kami terima ... Mas Bram, kepadamu kami menitipkan Marsha, putri kami. Besar harapan kami, bahwa ini akan menjadi pernikahan yang terakhir untuk Marsha," balas Papa Budiman.
Sebagai orang tua tentu Papa Budiman mengharapkan kebahagiaan untuk Marsha. Walau rumah tangganya sendiri bersama Mama Ria kandas, tetapi untuk putrinya Papa Budiman mengharapkan hal yang sebaliknya. Papa Budiman berharap bahwa Abraham akan menjadi pelabuhan terakhir bagi Marsha.
__ADS_1
Setelah kedua keluarga sama-sama bersepakat untuk memilih hari yang baik untuk melangsung pernikaha keduanya. Syarat untuk mendaftarkan diri ke Kantor Urusan Agama sekurang-kurangnya sepuluh hari. Untuk itu, pihak keluarga Abraham akan berusaha maksimal untuk bisa mewujudkan pernikahan dalam sepuluh hari ini. Sebab, Abraham sendiri tak ingin menunda sampai perut Marsha membesar. Abraham lebih baik segera menikahi Marsha, walaupun itu hanya pernikahan sederhana.
Setelah prosesi dilangsungkan, kini Mama Ria masuk ke dalam kamar dan membawa Marsha untuk keluar dari kamar. Marsha begitu cantik mengenakan Kebaya berwarna merah muda yang begitu lembut, berpadu dengan kain jarik yang bisa membungkus pinggang hingga kakinya. Marsha beruntung karena perutnya belum terlalu besar, sehingga dirinya masih bisa mengenakan kebaya.
"Ayo, Sha ... calon pengantin priamu sudah menunggu," ucap Mama Ria kali ini.
Pelan-pelan Marsha berdiri, dan memantaskan dirinya di cermin. Takut jika ada yang kurang, karena untuk riasan dan penataan rambut kali ini dilakukan sendiri oleh Marsha. Bekal make up dan hair do yang kuasai saat masih menjadi model ternyata berguna juga untuk sekarang ini.
Dengan digandeng oleh Mama Ria, Marsha pun keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga dan menuju ke ruang tamu. Terlihat Abraham yang begitu kagum menatap Marsha. Di matanya, Marsha terlihat begitu cantik, tampil begitu anggun dengan mengenakan Kebaya dan Kain Jarik itu.
Sampai akhirnya, Abraham tersenyum saat matanya bersitatap dengan Marsha. Sampai akhirnya Mama Ria mendudukkan Marsha di dekat Abraham. Acara kemudian dilanjutkan dengan bertukar cincin.
“Cincin ini simbol cinta dan perasaanku yang tidak akan putus untuk kamu, Marsha … aku cinta kamu,” ucap Abraham dengan lirih saat menyematkan cincin bertahta berlian itu di jari manis Marsha.
__ADS_1
Marsha meneteskan air matanya saat menerima cincin pertunangan dari Abraham itu. Cincin yang menjadi bukti bahwa Abraham benar-benar mencintai Marsha. Perasaan dan cinta yang tak pernah putus.
Hanya menunggu sepuluh hari lagi, Abraham akan segera mempersunting Marsha. Walau terkesan dadakan, tetapi ini sekaligus menjadi bukti keseriusan Abraham. Maksimalkan waktu yang ada untuk menjadikan Marsha menjadi miliknya seutuhnya dan sepenuhnya.