Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Ungkapan Bahagia


__ADS_3

Malam harinya, begitu pesta ulang tahun telah usai, Marsha menidurkan Mira terlebih dahulu di dalam kamarnya. Mungkin karena kelelahan dan juga terlalu bahagia bermain dengan Evan dan Elkan, Mira pun begitu pulas tidur malam ini. Bahkan tidak butuh waktu lama bagi Mira untuk tertidur.


“Dia kecapekan Sayang,” ucap Abraham kemudian.


“Kecapekan, tetapi juga seneng banget, Mas … bisa main sama Evan dan Elkan. Serasa punya Kakak, Miranya,” balas Marsha.


“Iya, Evan dan Elkan justru kayak Kakaknya Mira yah … apalagi Elkan yang kelihatan banget jagain Mira,” balas Abraham kemudian.


Marsha lantas mengajak suaminya itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Kali ini keduanya juga harus beristirahat. Terlebih Abraham yang lebih repot dan juga lebih sibuk. Mulai dari mengambil kue, sampai menjemput Mama Diah di stasiun. Juga dengan acara ultah yang dilangsungkan. Marsha sangat tahu bahwa suaminya itu juga pasti kecapekan.


“Kamu capek enggak Mas?” tanya Marsha kemudian.


Terlihat Abraham menggelengkan kepalanya, “Enggak … aku enggak capek kok Sayang. Kenapa?”


“Oh, aku kirain capek … soalnya kamu sudah banyak beraktivitas dari mulai siang tadi. Dari ambil kue sampai ke ulang tahun. Kasihan kalau kamu sampai kecapekan,” balas Marsha.


“Aku seneng sih Sayang … hari ini putriku berulang tahun. Jadi, ya aku seneng banget. Mira sudah bisa berjalan, semoga tidak lama lagi bicaranya akan semakin lancar,” balas Abraham.


Itu adalah doa dari Abraham. Dia juga ingin bahwa putri kecilnya, mengalami tumbuh kembang yang pesat. Sekarang Mira sudah bisa berjalan, Abraham pun berharap bahwa Mira akan bisa berbicara juga. Rasanya banyak hal yang ingin Abraham ceritakan kelak kepada putrinya itu.


"Amin ... pelan-pelan juga Mas ... cakupan tumbuh kembang anak kan juga berbeda-beda. Jadi, ditunggu saja, dan juga jangan lupa untuk terus menstimulasi anak," jawab Marsha.

__ADS_1


"Iya Sayang ... kan sudah sering diajak bicara, sounding juga, dan juga dibacakan buku. Cuma memang masih pelan-pelan. Semoga tidak lama lagi," balas Abraham kemudian.


Marsha kemudian duduk di samping suaminya itu dengan bersandar di headboard ranjangnya, "Aku bahagia hari ini Mas," cerita Marsha kemudian.


"Karena apa Shayang?" tanya Abraham kemudian.


"Yang pertama karena Mira ulang tahun. Yang kedua karena kedatangan Mama, dan yang ketiga memiliki tetangga yang layaknya keluarga sendiri, keluarga Bu Sara dan Pak Belva. Banyak hal-hal di dunia ini yang mendatangkan kebahagiaan dan tidak bisa diukur dengan materi. Ulang tahun Mira berarti anak kita bertumbuh setiap harinya. Kemudian Mama datang kan melepas kerinduan. Kemudian keluarga Bu Sara yang baik. Mendapatkan tetangga yang baik itu, layaknya mendapatkan keluarga. Bukan terikat karena darah, tapi terikat dengan hati."


Marsha menceritakan semua itu kepada suaminya. Memang waktu di malam hari seperti ini banyak yang sering Marsha ceritakan kepada Abraham. Pun demikian dengan Abraham sendiri yang juga banyak bercerita kepada Marsha. Keduanya saling menceritakan kegiatan sehari-hari, ada kalanya juga bercanda, dan juga membahas Mira. Banyak hal yang justru bisa mereka bicarakan bersama di malam hari.


"Benar Shayang ... kebahagiaan itu tidak bisa dibeli dengan uang. Aku bersyukur kita menemui kebahagiaan dari berbagai kegiatan dalam keseharian kita. Aku bersyukur karena kita menemukan kebahagiaan yang terkadang tidak perlu mengeluarkan Rupiah yang banyak. Terima kasih kamu juga sederhana dan bisa menemukan banyak kebahagiaan di dalam rumah ini," balas Abraham.


Marsha yang mendengarkan ucapan suaminya pun perlahan tertawa, "Makasih juga Mas ... karena salah satu sumber kebahagiaanku adalah kamu. Kamu yang mengajarkanmu untuk menilai kebahagiaan dari materi. Terima kasih," balas Marsha.


Abraham pun tersenyum di sana, "Sama-sama Shayangku ... aku juga menemukan kebahagiaanku di dalam kamu. Salah satu sumber kebahagiaan dalam hidupku," balas Abraham.


Kemudian Abraham merangkul istrinya itu, mendekatkan kepala istrinya itu di dadanya. Tangan Abraham bergerak dan memberikan usapan yang begitu lembut di puncak kepala Marsha.


"Bahkan bahagiaku sesederhana ini Shayang ... memeluk kamu seperti ini saja, aku sudah bahagia," aku Abraham.


"Sama Mas ... aku juga bahagia banget kamu peluk kayak gini. Bahkan kamu selalu memeluk aku waktu aku begitu terpuruk dulu. Sampai sekarang dan sampai tua nanti selalu peluk aku ya Mas," pinta Marsha.

__ADS_1


Abraham tersenyum di sana, "Tentu Shayangku ... aku akan selalu memeluk kamu. Terima kasih juga karena waktu aku terpuruk dulu, dan aku di hari-hari terberatku ketika kehilangan Papaku, kamu juga selalu memeluk aku. Terima kasih banyak," ucap Abraham sekarang ini.


Ada dua hal yang selalu Marsha dan Abraham biasakan dalam hidup mereka. Yang pertama adalah meminta tolong, yang kedua adalah berterima kasih. Meminta tolong ketika mereka sama-sama membutuhkan bantuan, dan setelahnya mereka akan saling mengucapkan terima kasih. Sehingga keduanya merasa kebahagiaan itu datang juga karena membiasakan hal yang baik dalam kehidupan rumah tangganya.


"Mau bobok sekarang?" tanya Abraham kemudian.


"Kalau kamu ngantuk, kita bobok sekarang saja tidak apa-apa, Mas," balas Marsha.


Abraham pun kemudian tersenyum di sana, "Lumayan ngantuk sih Shayang ... cuma ya banyak bahagianya jadi rasanya seneng banget. Banyak hal di hidup ini yang membuat kita bahagia. Walaupun harta kita tidak banyak," ucap Abraham.


"Sama seperti katamu, Mas ... harta itu sifatnya fana dan bisa dicari. Akan tetapi, kebahagiaan hati itu yang lebih mahal dan sukar untuk didapatkan. Jadi, ya tidak apa-apa. Tidak perlu kaya raya, yang penting kaya hati," balas Marsha.


Ini yang membuat Abraham lebih bersyukur dalam hidupnya. Marsha yang sederhana dan bisa menerima keadaan mereka. Bahkan Marsha yang sebelumnya adalah seorang model juga jarang membeli barang branded, apalagi setelah menikah dengan Abraham, barang yang sering Marsha dapatkan justru dari endorse saja.


"Kamu yang seperti ini yang mahal, Sayang ... kamu yang sederhana dan bisa menyingkapi kehidupan dengan begitu baik. Walau aku tidak kaya raya, tetapi rasanya memiliki kamu dalam hidup, aku serasa menjadi Sultan. Selevel dengan Pak Belva," balas Abraham kemudian.


Lantas, keduanya pun sama-sama tertawa. Bisa-bisanya Abraham menyamakan dirinya selevel dengan Belva Agastya, sang Crazy Rich yang jumlah kekayaannya begitu fantastis. Padahal sebenarnya, kekayaan Abraham tidak ada apa-apanya dibandingkan sang CEO itu.


"Iya Sultan Abraham," sahut Marsha dengan terkekeh bahagia.


"Gini aja sudah bahagia ya Shayang ... senengnya, banyak bercanda, banyak cerita, banyak ketawa, hasilnya bahagia dan awet muda," balas Abraham lagi.

__ADS_1


"Amin."


Hingga akhirnya, malam itu menjadi malam penuh dengan cerita bagi Marsha dan juga Abraham. Keduanya banyak bersyukur untuk apa yang mereka dapatkan dalam hidup ini. Bukan semata-mata perihal materi, tetapi karena banyak kebahagiaan yang mereka temukan dalam keseharian mereka berdua.


__ADS_2