Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Perasaan yang Membuncah


__ADS_3

Sungguh, pagi ini menjadi pagi yang gila. Hanya selang beberapa jam, Marsha sudah kembali mandi. Badannya pun terasa lemas, sampai Marsha kini hanya bisa bersandar di headboard ranjang berukuran super king size di hotel bintang lima itu.


“Istriku, kamu lemes yah?” tanya Abraham kepada Marsha.


Bukan menjawab, nyatanya Marsha justru mengerucutkan bibirnya. “Yang bikin aku lemes, siapa coba?” tanyanya.


Abraham pun tertawa, dia segera merangkul bahu Marsha, “Maaf … aku terlalu bersemangat Shayang … mungkin karena melepas masa lajang,” jawabnya dengan tertawa.


“Lajang apaan, kamu sudah menjadi calon Papa sejak 14 minggu yang lalu tahu,” sahut Marsha masih dengan cemberut.


“Maaf … ya sudah, hari ini istirahat. Udahan dulu, sarapan enggak? Yuk, biar keisi lagi tenaganya,” ajak Abraham kali ini.


“Lima belas menit lagi Mas,” sahutnya.


Merasa bahwa Marsha mengganti nama panggilannya, Abraham menyipitkan kedua matanya. Mungkinkah dia salah dengar dengan panggilan yang diucapkan Marsha barusan. “Kamu manggil aku apa Shayang?” tanya Abraham.


“Mas … Mas Bram,” jawabnya dengan tersenyum dan membelai sisi wajah Abraham.


“Pinter banget sih bikin aku seneng kayak gini,” balas Abraham dengan mencubit puncak hidung Marsha yang mancung.


Sungguh, hanya sekadar mendapat panggilan ‘Mas’ dari Marsha saja sudah membuat dada Abraham begitu membuncah. Penuh dengan kebahagiaan. Sampai-sampai Abraham ingin mengabadikan momen di saat Marsha mengganti panggilannya itu.


“Jadi, sekarang officially, kamu manggil aku Mas?” tanya Abraham lagi.


“Iya … boleh enggak? Biar lebih sopan sama suami,” balas Marsha dengan nyengir kepada Abraham.

__ADS_1


“Boleh saja … kamu mau panggil aku apa saja juga tidak masalah kok,” balas Abraham.


Abraham memang tidak mempermasalahkan panggilan apa yang Marsha berikan kepadanya, yang pasti cinta di hatinya tetaplah untuk Marsha seorang.


“Mas aja deh … Mas Bram cocok kok,” gumam Marsha.


“Iya-iya … tapi aku tetap panggil kamu Shayang sama seperti waktu kita pacaran dulu saja yah,” balas Abraham.


“Iya, boleh Mas … apa pun itu tidak masalah,” balas Marsha.


“Yuk, sudah sepuluh menit. Sarapan dulu yuk … perutku udah bunyi Shayang. Semalam gak sempat makan malam,” sahut Abraham dengan mengusapi perutnya yang memang berbunyi.


“Sebentar yah, aku rapikan rambutku dulu dan pakai jaket,” jawab Marsha.


Wanita itu lantas berdiri di depan cermin rias, dan Marsha merapikan rambutnya, kemudian memulas sedikit bibirnya dengan lipstik berwarna pink.


“Wajahku pucat, Mas … dikasih sedikit lipstik biar enggak terlalu pucat,” balas Marsha.


“Pucat karena bulan madu kita, karena hamil, atau apa?” tanya Abraham dengan begitu polosnya.


“Tahu ah … kamu ini, malahan nanya,” balas Marsha yang kembali cemberut saat ini.


Marsha kian cemberut saat melihat jejak-jejak merah di lehernya. “Ya ampun Mas, kenapa sebanyak ini?”


Dia mempertanyakan kenapa suaminya itu memberikan jejak merah di leher hingga di dadanya. Merah yang menyala, sudah pasti akan susah ditutupi.

__ADS_1


“Biar semua orang tahu kalau kamu adalah milikku,” jawab Abraham.


“Ya kan sebanyak ini kan malu,” sahut Marsha sembari mengambil foundation dari pouch make up miliknya dan menutupi tanda-tanda merah itu dengan foundation. Setidaknya di area yang terlihat sudah ditutupinya. Sementara untuk di dada, Marsha biarkan saja.


“Yang lihat kan cuma aku, Shayang … biar menjadi tanda yang sah kalau kita pasangan suami istri,” sahut Abraham.


Keduanya lantas bergandengan tangan menyusuri koridor dan masuk ke dalam lift. Kemudian turun di lantai tiga, di bagian restoran. Lantaran Hotel Bintang Lima, fasilitas sarapan di sana benar-benar lezat dan istimewa. Mulai dari toast, Bubur Ayam, sampai aneka jajanan tradisional ada. Minumannya bervariasi, tetapi karena masih pagi, Marsha cukup mengambil secangkir Teh Panas saja.


“Kamu duduk saja Shayang … tadi kamu kelihatan lemes kan, biar aku yang ambilkan,” ucap Abraham.


Marsha pun mengangguk. Dia duduk dengan menikmati Teh Panas yang benar-benar enak, sensasi aroma melati yang seolah membuatnya kembali segar. Sembari menunggu Abraham yang datang dan mengambil berbagai menu sarapan untuknya.


“Makan dulu yuk Shayang … ini semuanya sudah ada di sini. Ada kue, jajanan tradisional kesukaan kamu, dan aku emang sengaja enggak ambil saladnya karena Ibu Hamil gak boleh makan sayuran mentah,” ucap Abraham.


“Kamu tahu dari mana kalau Ibu Hamil tidak boleh makan sayur mentah?” tanya Marsha.


“Dari ponsel pintar, biar dedek bayi sehat, enggak kena virus dan tokso,” jawabnya dengan yakin.


Marsha menganggukkan dengan tersenyum, “Persiapan matang menjadi Ayah ya Pak Bram?” goda Marsha kali ini.


“Iya dong … aku akan jadi suami siaga dan Papa yang siaga untuk kalian berdua. Walau aku sendiri tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang Ayah itu, tetapi aku mau mencurahkan seluruh kasih sayangku untuk baby kita,” ucap Abraham dengan sungguh-sungguh.


Mendengar apa yang diucapkan Abraham barusan membuat Marsha tertegun. Dia benar-benar merasakan bahwa Abraham bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Perlahan Marsha mengusap perutnya perlahan.


“Dengarkan Dedek Bayi … Papa sangat sayang sama kamu. Jadi, nanti Papa akan mencurahkan kasih sayangnya buat kamu, dan kamu selalu sayangi Papa yah,” ucap Marsha.

__ADS_1


Abraham tersenyum, tangannya terulur dan memberikan usapan di puncak kepala Marsha, “Makasih Shayang … kamu memberikan begitu banyak kebahagiaan dalam hidupku. Makasih. Aku akan selalu mencintaimu, menjagamu, mari kita terus bergandengan tangan dan mengarungi samudera yang tanpa ujung yang bernama pernikahan ini. Aku akan menjadi nahkodamu, dan kamu jadilah petunjuk arah ku. Kita bekerja sama, dan bahu membahu untuk membawa perahu kita berlayar,” ucap Abraham dengan sungguh-sungguh.


Sebab, kehidupan rumah tangga sesungguhnya layaknya perahu yang berlayar di tengah samudera yang luas. Terkadang lautan tenang, terkadang badai, bahkan gelombang tinggi siap mewarnai perjalanan sang perahu mengarungi samudera luas tak berujung itu.


__ADS_2