Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Pindah ke Rumah Baru


__ADS_3

Sudah dua pekan berlalu, kali ini Abraham dan Marsha akan bersiap untuk pindah ke rumah baru yang mereka beli dari Agastya Properti. Rumah baru yang berada di cluster perumahan yang nyaman dan juga dekat dengan rumah milik Belva Agastya. Kali ini, Marsha dan Abraham benar-benar memulai kehidupan yang baru dan juga menjauh dari incaran Melvin Andrian yang bisa saja mengusiknya sewaktu-waktu.


Akan tetapi, beberapa hari sebelumnya, Abraham dan Marsha memang sudah mengirim beberapa barangnya. Hanya tinggal beberapa barang yang nanti akan mereka kirimkan usai menempati rumah baru.


“Sudah siap pindahan?” tanya Abraham kepada istrinya itu.


“Iya … siap tidak siap, harus siap,” balas Marsha.


Sama seperti yang pernah Marsha sampaikan sebelumnya bahwa tidak mudah baginya untuk meninggalkan unit apartemen milik Abraham yang memiliki beribu kenangan. Banyak kisahnya dan Abraham yang terangkai di dalam unit apartemen itu. Akan tetapi, mereka juga harus bersiap untuk segala kemungkinan yang bisa terjadi. Terlebih karena wanita simpanan Melvin yang tinggal satu apartemen dengan Abraham, tentu ini menjadi ancaman tersendiri.


"Iya, aku siap kok. Asalkan bersamamu, kemana saja aku mau," balas Marsha.


"Yang benar Shayang ... kalau misal, aku mengajakmu untuk pindah ke Semarang dan memulai semuanya dari awal di sana apakah kamu juga mau?" tanya Abraham.


"Mau-mau saja, aku tidak keberatan kok," balas Marsha.


Abraham tersenyum, istrinya memang wanita yang menurut dan juga tidak banyak menuntut. Hanya saja, memang Abraham juga masih ingin mengembangkan diri dan pekerjaannya di bidang fotografi yang sudah dirintisnya sekian tahun di Jakarta. Memang tidak akan keluar dari Jakarta, karena bagi Abraham yang penting adalah keluar dari apartemen itu terlebih dahulu.


Kini, Abraham mengajak Marsha, Mama Diah, dan Baby Mira untuk meninggalkan apartemen itu dan menuju ke rumah yang sudah dia beli dari pengusaha properti yang dikenalnya dengan baik yaitu Belva Agastya. Rumah dua lantai yang dibelinya dengan harga bersahabat. Marsha dan Abraham pun yakin bahwa harga murah barunya bisa di atas 500 juta Rupiah. Akan tetapi, Pak Belva memberikannya harga yang begitu murah. Untuk itu, Marsha pun tentu bersyukur.


Menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, kini keluarga Abraham sudah tiba di rumah baru mereka. Dengan bangga, Abraham mempersembahkan rumah ini untuk Istri dan putrinya tercinta. Rumah yang semula hanya berwarna putih, kini sudah berganti warna dengan perpaduan warna cokelat muda dan cokelat tua. Begitu membuka rumah itu, seluruh furniture juga sudah mengisi rumah itu.


"Selamat datang ...."


Tampak wajah bahagia dari Marsha dan juga Mama Diah. Dulu, kali pertama dilihat rumah ini tampak biasa saja dengan ruangan kosongnya. Akan tetapi, kini hasil desain yang dikerjakan oleh staf Coffee Bay milik Bu Sara benar-benar luar biasa. Penempatan furniture yang disesuaikan dengan tema desain interior dan juga pemilihan komponen pemanis benar-benar mengubah rumah itu terkesan mewah dan juga mahal.


"Jadi bagus banget," gumam Marsha.


"Iya ... beda banget sama waktu kita melihatnya dua pekan yang lalu," ucap Mama Diah.

__ADS_1


"Ini akan menjadi rumah bagi Abraham, Marsha, Mira, dan juga Mama jika ke Jakarta, Ma," ucap Abraham.


"Bagus Bram ... memang keluarga kecil seperti kalian lebih baik tinggal di rumah. Walau kecil tidak masalah, tetapi banyak sinar matahari, udara yang sirkulasinya bagus tentu akan lebih baik untuk tumbuh kembang Mira," balas Mama Diah.


"Benar Ma ... semoga kami di sini bisa membentuk keluarga kecil bahagia sejahtera," balas Abraham.


Mama Diah pun tertawa mendengar perkataan Abraham itu, "Kamu seperti pemerintah saja untuk membentuk keluarga kecil bahagia sejahtera yah Bram," balas Mama Diah.


"Iya Ma ... dalam hidup ini apalagi yang mau dicari selain kebahagiaan dan kesejahteraan," balas Abraham lagi.


"Ya sudah ... Mama pilih kamar yang di bawah saja ya Bram ... Mama sudah tua, naik turun tangga tidak kuat," balasnya.


"Iya Ma ... ada kamar di bawah yang bisa Mama tempati. Istirahat dulu saja Ma ... Bram ajak Marsha melihat kamar kami di lantai dua ya Ma," pamitnya.


Kemudian Abraham pun mengajak Marsha dan juga si kecil Mira untuk melihat kamar mereka yang letaknya berada di lantai dua. Abraham dengan senyumannya membukakan pintu kamar itu bagi Marsha.


"Silakan masuk Shayang ... our room. Sweet room," ucapnya.


"Benar loh ... ruangan kita. Memadu kasih bersama. Jadi, nanti malam bisa dong melakukan ritual di rumah baru?" tanya Abraham dengan tiba-tiba.


Marsha mengernyitkan keningnya dan menatap wajah suaminya itu, "Ritual baru?" tanyanya.


"Jatah Shayang ... ladang batinku sudah meronta-ronta," balas Abraham.


"Ihh, kamu bisa saja. Yakin? Langsung malam ini?" tanya Marsha kemudian.


"Ya, kalau kamu mau ngasih saja. Kalau enggak ya enggak apa-apa. Aku sabar menunggu kamu pokoknya," balas Abraham.


"Lihat saja nanti yah," balas Marsha.

__ADS_1


Marsha kini mengedarkan matanya mengamati kamar mereka berdua. Warna yang dicat dengan warna putih, dikombinasikan dengan warna abu-abu kesukaan Abraham dan juga warna pink kesukaan Marsha. Bed berukuran king size yang begitu besar dengan sprei bermotif floral kesukaan Marsha juga. Sofa berwarna abu-abu yang sengaja diletakkan di dekat jendela kamar. Bahkan Abraham menaruh kursi dan meja kayu di balkon kamar mereka. Mungkin di malam hari, bisa mereka manfaatkan untuk ngeteh bersama.


Kemudian Marsha melihat ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar itu. Kaca besar yang dipasang di dekat wastafel. Ada shower dan juga bath up. Tidak mengira bahwa ada bath up juga di dalam kamar mandinya.


"Ada bath up nya juga?" tanya Marsha.


"Iya ... ada. Aku yang meminta untuk menambahkannya, biar bisa berendam barengan kamu untuk melepaskan penat," balas Abraham.


"Kamu bisa aja sih Mas," sahut Marsha.


"Gimana, kamu suka enggak?" tanya Abraham lagi.


"Suka banget ... tahu enggak Mas, dari dulu aku tuh pengen punya rumah minimalis. Tidak terlalu besar, tetapi nyaman untuk keluarga yang menempatinya. Akhirnya sekarang terwujud. Terima kasih banyak Mas Suami," ucap Marsha yang berterima kasih kepada Abraham.


"Sama-sama Shayang ... semoga betah yah tinggal di sini. Mira juga tumbuh dengan sehat di rumahnya yang baru. Semoga juga kita dijauhkan oleh orang-orang yang jahat sama kita," balas Abraham.


Dengan menggendong Mira, Marsha kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Abraham. Rupanya tangan Abraham pun segera bergerak dan merangkul bahu istrinya itu.


"Ini dunia kita Shayang ... kita buat bersama dunia yang indah bagi kita. Semoga saja Tuhan menolong kita dan memang dijauhkan dari orang-orang yang memang jahat seperti Melvin. Sekarang di sinilah kita berada, rumah baru, suasana baru, dan tentunya banyak pengalaman baru dan kisah baru yang akan kita buat dan hadirkan bersama," ucap Abraham.


"Benar Mas ... terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk melindungi aku dan juga Mira. Kamu benar-benar sosok pria yang hebat, Mas," balas Marsha.


"Cuma hebat buat kamu saja Shayang," sahutnya.


"No, kamu pun anak yang taat kepada orang tua, dan tentunya kamu adalah Papa yang paling hebat dan terkeren untuk Mira. We Love U So Much," balas Marsha.


Abraham tersenyum, tangannya bergerak dan merangkul bahu Marsha, memberikan remasan kecil di bahu istrinya itu, "Makasih banget Shayangku. Memiliki kamu dan Mira yang membuatku tidak mau gagal menjadi seorang pria. Seumur hidupku aku akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kalian berdua," janji Abraham dengan sungguh-sungguh.


"Kami pun akan selalu memberikan cinta untuk kamu. I Love U," balas Marsha yang mencuri satu ciuman di pipi suaminya itu.

__ADS_1


Abraham dan Marsha sama-sama tersenyum. Keduanya memang bukan kategori super kaya raya, tetapi mereka lebih mendambakan kebahagiaan dan kesejahteraan dalam hidup mereka. Semoga saja kali ini kebahagiaan akan tinggal dan menyapa keduanya untuk waktu yang lama.


__ADS_2