
“Sekarang … katakan dulu di mana kamu berada, Marsha. Aku akan menyusulmu sekarang juga,” ucap Abraham dengan begitu panik.
Ya, Abraham sangat panik bahkan gusar. Dia tidak menyangka bahwa hari ini begitu banyak kejadian buruk yang menimpa Marsha. Saat siang tadi, dia berhasil menenangkan Marsha, justru sekarang masalah besar kembali terjadi dan membuat mantan pacarnya itu sampai kabur dari rumah suaminya. Abraham menerka pastilah semuanya ini ada kaitannya dengan dirinya. Pertemuan siang tadi dengan Mama mertua Marsha pasti menyulut ke pertikaian lainnya. Hingga membuat Marsha menjadi seperti sekarang ini.
“Aku kirim lokasiku,” balas Marsha dan kemudian mematikan panggilan telepon dari Abraham itu.
Marsha sendiri merasa dia membutuhkan pertolongan. Untuk malam ini, dia butuh pertolongan. Mungkin saja, Abraham bisa menolongnya terlebih dahulu. Esok, Marsha akan menyusun rencana dan memutuskan masa depannya.
Abraham yang kini sudah mendapatkan lokasi Marsha pun bisa bernafas lega. Pria itu memilih memesan sebuah taksi yang akan mengantarkannya ke lokasi Marsha. Setelahnya, Abraham bisa membawa mobil Marsha tanpa perlu repot memikirkan mobilnya sendiri.
Selang hampir setengah jam, Abraham sudah menemukan lokasi Marsha sekarang ini. Pria itu segera keluar dari taksi yang dia tumpangi, dan mencari mobil Marsha.
Hingga kedua mata Abraham menemukan mobil putih di kawasan rest area dengan mesin mobil yang masih menyala. Dengan cepat Abraham berlari menggapai mobil itu, dan mengetuk kaca jendela mobil itu dengan tangannya.
“Marsha, Marsha … aku datang,” ucap Abraham dengan terlihat begitu panik.
Marsha pun segera membuka kunci mobilnya, sehingga Abraham bisa segera masuk ke dalam mobilnya itu. Tepat seperti yang Marsha pikirkan, Abraham segera masuk di samping stir mobil dan menatap Marsha dengan sorot mata yang iba. Ada kegeraman dan kemarahan yang tercetak jelas di wajah Abraham sekarang ini. Bagaimana bisa Marsha dalam keadaan menyedihkan seperti ini.
“Kenapa bisa seperti ini Marsha?” tanya Abraham kepada Marsha.
Melihat Abraham, air mata Marsha kembali berderai. Sangat sakit rasanya melihat dirinya dalam kondisi terburuk dan Abraham melihatnya. Sungguh, Marsha tidak pernah orang lain melihat kondisi terburuknya ini. Bahkan kepada orang tuanya sendiri pun Marsha tidak pernah menunjukkan kesedihannya selama ini.
Abraham membuang nafas secara kasar, tangannya terulur dan hendak menyeka darah yang sudah mulai mengering di kening Marsha itu. Akan tetapi, Marsha segera menghindar.
__ADS_1
“Sha, kening kamu berdarah … kita obati yah,” ucap Abraham kali ini dengan lembut.
Abraham kemudian meminta Marsha pun duduk di samping kursi kemudi. Sementara Abraham sendiri yang akan mengemudikan mobil Marsha. Melihat kondisi Marsha yang seperti ini, bahkan Marsha tidak mengenakan alas kaki, Abraham begitu iba. Dadanya begitu sesak. Seberapa parah pertikaian antara Marsha dengan suaminya, sampai kondisi Marsha terlihat kacau seperti ini. Marsha menganggukkan kepalanya, menuruti permintaan Abraham untuk berpindah posisi.
Wanita itu memilih diam dan membuang mukanya ke jendela kaca mobilnya. Pikirannya begitu penuh, sakit di hati dan fisiknya lebih mendominasi sekarang ini. Bahkan Marsha memilih diam dan tidak bertanya kemana Abraham membawanya sekarang ini. Sampai mobil itu kini terhenti di sebuah parkiran basement sebuah apartemen di Ibukota.
“Ayo, Sha … ikuti aku,” ucap Abraham.
Marsha menganggukkan kepalanya, dia segera turun dari mobil dan mengikuti Abraham. Tebakan Marsha mungkin saja ini adalah apartemen milik Abraham. Namun, Marsha juga tidak bertanya banyak hal kepada mantan kekasihnya itu. Marsha mengikuti Abraham menaiki lift, dan pria itu menekan angka 11 di sana. Itu menandakan bahwa mungkin saja unit apartemen Abraham berada di lantai 11.
“Masuk Sha,” ucap Abraham mempersilakan Marsha masuk ke unit apartemennya.
Marsha masuk dan mengamati unit apartemen mewah dengan didonimasi warna abu-abu itu. Semerbak pengharum ruangan khas cowok, tercium indera penciuman Marsha begitu memasuki apartemen itu. Sementara Abraham tengah menjadi kotak P3K miliknya dan mengambil air hangat di wadah kecil dan sapu tangan hangat. Pria itu ingin merawat luka yang berada di wajah Sara.
Dengan hati-hati, Abraham menyeka wajah Marsha terlebih dahulu dengan air hangat. Kemudian Abraham membersihkan luka dengan darah yang mulai mengering di kening Marsha, dan mengoleskan obat merah di sana.
“Sakit,” ucapnya dengan rintihan yang seakan di tahan.
“Sabar yah … aku obatin,” jawab Abraham.
Usai memberikan obat merah, Abraham meniupi luka di kening Marsha itu. Hembusan nafas beraroma mint dan meninggalkan kesan hangat menerpa wajah Marsha, tetapi Marsha memilih untuk menundukkan wajahnya.
Kemudian mata Abraham kini tampak memindai wajah Marsha, dan mencari-cari apakah ada luka lain di sana yang bisa dia obati dengan segera. Hingga akhirnya retina matanya menangkap jejak merah di pipi mulus Marsha.
__ADS_1
“Pipi kamu,” ucap Abraham dengan menghela nafas yang terasa berat.
Dengan cepat Marsha membawa tangannya dan memegangi sisi wajahnya itu. Akan tetapi, Abraham segera menahan tangan Marsha itu. Abraham ingin melihat bekas seperti apa lagi yang tertinggal di sana.
“Ini tidak bisa dibenarkan … Marsha, kamu capek tidak?” tanya Abraham kemudian.
“Hmm, kenapa?” tanya Marsha.
“Kita ke Rumah Sakit sekarang. Lakukan visum. Jangan mandi terlebih dahulu, supaya luka di wajah dan tubuh kamu lainnya bisa terlihat,” ucap Abraham.
Ya, karena prosedur visum, seorang korban tidak diperkenankan untuk mandi terlebih dahulu supaya luka atau memar yang tetinggal di tubuh bisa divisum dengan nyata. Sungguh, Abraham begitu geram dengan setiap luka yang ada di wajah Marsha sekarang ini. Sehingga tanpa berpikir lama, Abraham ingin mengajak Marsha ke Rumah Sakit untuk melakukan visum.
“Aku sudah melakukannya,” ucap Marsha dengan berlinang air mata.
“Kapan?” tanya Abraham seakan tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Marsha.
“Tadi pagi,” jawab Marsha.
Abraham memejamkan matanya, apa sebenarnya yang terjadi di kehidupan Marsha. Semuanya seakan bersifat teka-teki, bahkan tadi pagi Marsha sudah melakukan visum terlebih dahulu. Itu artinya, dirinya bertemu dengan Marsha di Coffee Bay siang tadi dalam kondisi Marsha usai melakukan visum.
“Untuk luka yang sekarang?” tanya Abraham.
Marsha menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu, Bram … sudah cukup pagi tadi,” balas Marsha.
__ADS_1
“Ya Tuhan, Marsha.” Abraham berbicara dan tanpa panjang lebar, pria itu segera merengkuh tubuh Marsha yang terlihat begitu ringkih dan rapuh. Membawa tubuh itu dalam dekapan pelukannya yang hangat.
Abraham tahu di saat-saat seperti ini, Marsha sangat membutuhkan sebuah pelukan. Abraham akan dengan suka rela memeluk Marsha. Membenamkan wajah sayu wanita itu di dada bidangnya, dan memeluk Marsha dengan lembut. Biarkan Marsha menangis dengan bahunya yang bergetar dalam dekapannya. Abraham begitu ingin melindungi Marsha sekarang ini.