Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Sebatas Persaudaraan


__ADS_3

Malam harinya, tampak Marsha melakukan pillow talk dengan suaminya itu. Dalam benar Marsha, memang bahwa suaminya itu dan Melvin bersaudara. Akan tetapi, Marsha seolah masih menanti penjelasan dari Abraham.


“Kamu serius ingin mengunjungi Melvin Mas?” tanya Marsha kepada suaminya itu.


"Iya Shayang ... kenapa?" tanya Abraham yang justru berbalik tanya kepada istrinya itu.


"Aku cuma bingung, kenapa pada akhirnya kamu mau. Sebab, ku pikir, kamu tidak akan mau mengunjungi dia lagi," balas Marsha.


Ya, itu adalah pemikiran awal dari Marsha yang mengira bahwa suaminya tidak akan mau mengunjungi Melvin lagi. Namun, pada akhirnya justru Abraham setuju untuk mengunjungi Melvin di sel tahanan.


"Awalnya aku ragu, Shayang ... bukan karena aku benci, tidak. Aku sudah melupakan semuanya dan mengikhlaskan semuanya. Hanya saja, aku ingin mengunjungi sebagai saudara. Seorang kakak kepada adiknya," balas Abraham.


Oh, rupanya Abraham memiliki pandangan tersendiri. Tujuannya untuk bisa mengunjungi Melvin adalah karena ingin mengunjungi sebatas persaudaraan. Kunjungan seorang kakak kepada adiknya.

__ADS_1


"Begitu ya Mas ... kalau mengunjungi Melvin lagi, berarti siap dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi dong?" tanya Marsha lagi,


"Iya, harus siap Shayang ... apa pun keputusannya harus siap. Lagipula kan, aku tidak mungkin memutuskan itu tanpa persiapan sebelumnya. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Abraham kemudian.


Marsha tampak beringsut. Wanita yang sebelumnya rebahan itu, kemudian beringsut dan menaruh satu bantal di pahanya, menepukinya perlahan.


"Gimana ya Mas ... aku awalnya takut. Aku tidak pernah mengunjungi lembaga permasyarakatan sebelumnya. Aku juga tidak membayangkan kondisi Melvin seperti apa. Hanya saja, mendengarkan bahwa Mama Saras mengatakan Melvin kondisinya memprihatikan, aku kok kasihan ya Mas," aku Marsha dengan jujur. Bahkan dengan suaminya sendiri, Marsha bisa mencurahkan isi hatinya dan juga bayangan di dalam otaknya.


"Ya kasihan aja, Mas ... dulu, Melvin begitu angkuh dan arogan. Sekarang hanya sekadar mendengar Mama Saraswati menyampaikan permintaan maaf dari Melvin saja, membuatku merasa tidak enak, Mas."


Nah, kali ini Marsha mengatakan bahwa dia merasakan sesuatu yang tidak enak. Entah apakah itu jawabannya. Namun, jika menilik sifat Melvin dahulu, pria yang sebelumnya adalah aktor ibukota itu tidak akan bisa mengucapkan maaf.


"Ya, kita kunjungi saja dulu Shayang ... kita jenguk dia sebagai saudara dan kamu sebatas ipar," balas Abraham.

__ADS_1


"Iya Mas ... perasaanku juga dulu menganggapnya musuh, ancaman buatku. Namun, perlahan-lahan aku bisa memaafkan, dan aku menganggap dia sebagai adik ipar," balas Marsha.


Abraham pun menganggukkan kepalanya dan mulai merangkul bahu Marsha di sana, "Masih ada yang ingin ditanyakan?" tanyanya perlahan.


Marsha menggelengkan kepalanya, "Tidak ... lebih ke mempersiapkan diri untuk menemui Melvin lagi. Walau, aku masih merasa tidak enak dan tidak tenang sekarang," balas Marsha.


"Serahkan semua kepada Allah, Shayang ... tenang saja, kita ke lembaga permasyarakatan juga bersama, kita akan selalu bergandengan tangan. Aku akan menjaga kamu dari apa pun itu," balas Abraham.


"Makasih Mas Abraham ... sudah selalu menjagaku. Nanti anak-anak biar dijaga Mama dulu ya Mas, palingan hanya sebentar kan?" tanya Marsha lagi.


"Iya, sebentar saja. Toh, tidak perlu berlama-lama. Hanya menjenguk dan menyapanya saja," balas Abraham.


Sekarang semuanya sudah terbuka untuk Marsha bahwa memang suaminya itu ingin mengunjungi Melvin hanya berdasar pada persaudaraan antara keduanya sebagai kakak dan adik. Pun dengan Marsha yang akan memposisikan diri sebagai ipar. Walau dulu dia pernah menjalin hubungan dengan Melvin, tapi semua telah berlalu. Hubungan keduanya hanya ipar saja, dan Marsha akan mempersiapkan diri untuk menemui Melvin lagi, setelah sekian tahun lamanya berlalu.

__ADS_1


__ADS_2