
Tidak dipungkiri bahwa Jakarta, dengan segala hiruk-pikuk dan aktivitas memberikan kenangan tersendiri bagi Marsha. Terlebih kenangan yang pernah lalui saat bersama Melvin dulu. Pahit dan manis, asam dan juga aneka rasa lainnya sudah Marsha cecap bersama Melvin. Rumah tangga yang semula manis, tetapi berakhir dengan penuh luka.
Sekarang, saat harus kembali ke Jakarta, tak dipungkiri bahwa semua kenangan itu terkadang muncul begitu saja. Akan tetapi, Marsha menekankan pada dirinya sendiri bahwa kisahnya dengan Melvin sudah usai. Saatnya dia bersama Abraham membuka lembaran baru kehidupan rumah tangga mereka.
“Mas, baru ngapain?” tanya Marsha yang sudah berdiri di belakang Abraham yang melihat apa yang sedang dikerjakan oleh suaminya itu.
“Baru ngedit foto saja, Shayang … kerjaanku kan kayak gini,” balas Abraham.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia menunggu duduk di sofa yang tempatnya tidak jauh dari meja kerja Abraham itu.
“Ya sudah, kerja dulu saja Mas … aku tungguin,” balas Marsha.
Tak ingin mengganggu dengan apa yang sedang dikerjakan oleh suaminya. Marsha memilih untuk menunggu di sofa, berselancar dengan ponsel pintarnya, melihat di media sosialnya sebatas melihat mungkin saja ada DM masuk ke instagram miliknya.
“Sebentar ya Shayang … sepuluh menit lagi,” balas Abraham.
Marsha menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Padahal baru beberapa jam yang lalu, mereka berdua tiba dari Semarang, tetapi sekarang Abraham sudah berkutat dengan pekerjaannya. Akan tetapi, Marsha pun memahami bahwa setelah cuti seminggu lebih sudah pasti banyak pekerjaan Abraham sekarang. Walaupun memiliki pekerja untuk menghandle pekerjaannya, tetapi tetap ada pekerjaan yang harus dikerjakan sendiri oleh Abraham.
Menit demi menit pun berlalu, sampai pada akhirnya hampir setengah jam barulah Abraham menyelesaikan pekerjaannya dan kemudian dia duduk di samping Marsha.
“Maaf yah … lebih dari sepuluh menit,” ucapnya yang langsung meminta maaf kepada Marsha.
“Enggak apa-apa kok Mas, kerjaan penting yah?” tanya Marsha.
“Iya Shayang … harus edit saja, dan besok bisa dicetak di studio. Biar enggak terlalu sibuk. Maaf yah, kerjaan suami kamu ya kayak gini. Cuma, aku janji bahwa aku akan memenuhi keperluan kamu dan bayi kita,” ucap Abraham dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Pria itu beringsut dan kemudian menggenggam tangan Marsha, “Shayang, aku mau tanya … dulu saat bersama Melvin, sebulan kamu dinafkahi berapa?” tanya Abraham.
Mungkin pertanyaan ini sifatnya klise, tetapi sebagai seorang suami tentu Abraham akan menafkahi Marsha lahir dan batin. Berapa pun Rupiah yang dia hasilkan setiap bulannya, Abraham ingin memberikan untuk Marsha.
Tampak Marsha menghela nafas, wanita itu membawa satu tangannya mengusapi punggung tangan Abraham.
“Gak usah tanya yang dulu ya Mas … kita buka lembaran baru cinta kita. Berapa pun yang kamu kasih aku menerimanya. Tidak dikasih juga tidak apa-apa,” balas Marsha dengan sungguh-sungguh.
Bukannya dia merendahkan Abraham dan pekerjaannya yang hanya fotografer dan pemilik studio foto. Hanya saja Marsha sejak dulu juga bukan tipe wanita yang menghambur-hamburkan uang. Melvin dulu memberinya berapa saja, Marsha lebih suka menabungnya.
“Bukan gitu Shayang … hanya saja kan bisa disesuaikan,” balas Abraham lagi.
“Sebisa kamu saja Mas … sungguh, aku tidak dikasih tidak apa-apa. Namun, nanti kalau belanja di rumah, kamu yang bayar dan untuk periksa Adik Bayi,” ucap Marsha.
Abraham kemudian tersenyum, “Itu sama saja, kamu nyuruh aku untuk mengelola keuangan rumah tangga. Kamu enggak ingin jadi Menteri Keuangan di rumah ini?” tanya Abraham.
Bukan sakit hati, tetapi Abraham justru tersenyum. Ya, dia tersenyum karena Marsha bukan istri yang menghisap darah suaminya. Istri yang mengharuskan suaminya menafkahinya sekian Rupiah per bulan.
“Ya sudah, per bulan aku akan kasih kamu. Hanya saja maaf, tidak sebanyak dulu,” balas Abraham.
“Enggak usah minta maaf, kayak sama siapa saja,” balas Marsha.
Marsha kini justru mendekat dan masuk ke dalam pelukan suaminya itu, “Aku memang model, Mas … penghasilanku lumayan dari sana. Aku ada tabungan kok. Bisa kita pakai bersama. Jangan sampai mempeributkan masalah finansial. Ya, kalau ribut enggak apa-apa sih, yang penting jangan sampai meledak ributnya,” balas Marsha.
Abraham pun memeluk Marsha, ada helaan nafas dari hidung pria itu, dagunya bergerak perlahan seolah mengusapi puncak kepala Marsha.
__ADS_1
“Kamu sebaik ini saja, dulu kamu dilukai Shayang … aku jadi sakit hati banget,” balas Abraham.
Ya, di mata Abraham, Marsha adalah wanita yang sangat baik. Tidak hanya cantik, tetapi juga baik hati, dan juga berpengertian. Melihat terlukanya Marsha di ujung pernikahannya dengan Melvin dulu membuat Abraham merasa sakit hati.
“Semua sudah berlalu, Mas … sekarang, kamu tidak akan melukai aku kan?” tanya Marsha.
“Janji Shayang … aku tidak akan melukai kamu. Namun, manusia terkadang ada khilaf dan salahnya, jadi kalau aku sudah mulai tegangan tinggi, ingatkan aku yah,” ucap Abraham.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, “Iya … nanti aku ingetin. Cuma seingatku, waktu pacaran dulu, kamu pernah marah-marah deh sama aku,” balas Marsha kemudian.
Abraham mengurai pelukannya, pria itu menatap Marsha dengan mengernyitkan keningnya, “Kapan Shayang, kapan aku pernah marah sama kamu?” tanya Abraham.
“Mau aku jelasin?” tanya Marsha kemudian.
Ada anggukan kepala Abraham yang mengisyaratkan dia mau mendengar cerita dan penjelasan dari Marsha.
“Waktu aku nolak permintaan kamu dulu,” jawab Marsha dengan malu-malu.
Sementara Abraham kian bertanya-tanya, mengingat kembali apa yang dulu dia minta dan Marsha menolaknya, sampai akhirnya dia berakhir dengan marah-marah kepada Marsha.
“Apa sih Shayang? Jelasin dong … aku beneran lupa, swear!” Abraham menjawab dan berkata dia benar-benar lupa.
“Itu, yang kamu pengen minta first kiss,” balas Marsha dengan kekehan geli.
Ya Tuhan, Abraham menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tawanya pun meledak. Tidak mengira bahwa Marsha masih mengingat bahwa dia dulu pernah marah-marah karena Marsha menolak memberikan first kiss-nya.
__ADS_1
“Astaga Shayang … kamu ini. Udah ah jangan bahas masa lalu, malu tahu. Katanya bukan lembaran baru, tetapi waktu aku uring-uringan masih saja dibahas,” balas Abraham yang tertawa dan tampak malu dengan masa lalu.
Masa lalu ketika dia masih berpacaran dengan Marsha. Gejolak kawula muda yang terkadang menyeruak dan membuatnya menginginkan petualangan dalam berpacaran. Hanya sebatas first kiss yang membuatnya uring-uringan dan marah pada Marsha sampai tiga hari lamanya. Mengingat semua itu, nyatanya Marsha dan Abraham justru tertawa.