Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Dikunjungi Mertua


__ADS_3

Selang dua hari berlalu. Hari ini adalah hari di mana Mama dan Papa Melvin akan tiba dari Denpasar, Bali. Ada beberapa pesan yang disampaikan Melvin kepada Marsha sebelum pria itu berangkat ke lokasi syuting.


“Ayang, hari ini Mama dan Papa akan datang dari Bali. Tolong minta tolong Bibi Tini untuk memasakkan Ayam Betutu kesukaan Mama,” pinta Melvin kali ini kepada Marsha.


“Harus Ayam Betutu ya Yang?” tanya Marsha.


“Iya, soalnya Mama kan sukanya makanan khas Bali. Ayam Betutu, Sate Lilit, atau Serombotan (campuran aneka sayur seperti Kacang Panjang, Bayam, Kangkung, Buncis, Terong, Tauge, dan Pare. Sayuran ini disatukan dengan bumbu yang bernama Kalas, semacam parutan kelapa yang berisi campuran kunyit tumbuk, Bawang Merah, Bawang Putih, Ketumbar, dan Kencur.) Jadi, masak itu saja hari ini,” ucap Melvin yang seolah memberi perintah untuk masakan hari ini lebih baik adalah makanan khas Bali kesukaan Mama dan Papanya.


“Ya sudah … nanti aku bilang dulu deh ke Bibi Tini. Semoga saja bisa,” sahut Marsha.


“Iya Yang, biar Mama itu sayang sama kamu. Makanan kan bisa menggerakkan hati orang. Sapa tahu melihat menantunya menyiapkan masakan kesukaan Mama, Mama jadi seneng deh,” sahut Melvin.


Menyadari ucapan Melvin, justru membuat Marsha mengernyitkan keningnya. Mungkinkah selama ini Mama Saraswati tidak menyayanginya. Jikalau sayang, mungkinkah itu hanya kasih sayang semu belaka?


“Kenapa seolah-olah, Mama enggak sayang sih sama aku Yang? Apa semua menantu harus melakukan semua itu untuk menyambut mertuanya?” tanya Marsha.


Bahkan Marsha masih bertanya dengan baik-baik kepada Melvin. Dia hanya tergelitik dengan ucapan Melvin yang mengisyaratkan bahwa Mama Saraswati tidak menyayanginya. Sehingga Marsha harus berupaya untuk mengambil hati dan menyenangkan hati Mama mertuanya itu.


“Ya bukan gitu Yang … sesekali memasakkan untuk Mama mertua kan tidak apa-apa,” balas Melvin.

__ADS_1


“O … ya enggak apa-apa. Cuma kok dari perkataanmu tadi seolah-olah kalau Mama Saraswati enggak sayang sama aku,” sahut Marsha lagi.


“Udah, enggak usah dipikirkan. Mama kan sayang sama kamu. Kalau Mama enggak sayang mana mungkin Mama memberikan restu untuk kita berdua,” balas Melvin.


Kemudian Marsha menganggukkan kepalanya secara samar, wanita itu kemudian bertanya kepada Melvin lagi.


“Yang, nanti kalau Mama masih bertanya kenapa aku masih belum hamil, aku harus menjawab apa?”


Kali ini, Marsha seakan ingin meminta pendapat dari suaminya. Walaupun Marsha bisa memberikan jawaban sendiri, tetapi paling tidak dia bisa berbagi keresahannya dengan Melvin. Bagi mereka yang sudah bertahun-tahun berkeluarga dan belum memiliki anak, saat ditanyai kenapa belum hamil itu akan membuat orang yang bersangkutan merasa sedih bahkan terbeban secara mental.


“Tidak usah dipikirkan Yang … rumah tangga kita ini yang menjalani kita. Jawab saja seperti biasanya,” jawab Melvin.


Marsha menundukkan kepalanya, itu bukan jawaban yang dia mau. Jika memang harus menjawab seperti biasanya, untuk apa Marsha mengutarakan keresahannya itu kepada suaminya.


Sepeninggal Melvin, Marsha kemudian meminta Bibi Tini untuk memasak aneka makanan khas Bali seperti yang dipesan oleh suaminya itu. Bahkan kali ini, Marsha meminta kepada Bi Tini untuk memberikan rempah-rempah yang kuat, karena Mama Saraswati dan Papa Wisesa menyukai masakan dengan rempah-rempah yang kuat.


Memastikan bahwa Bibi Tini akan memasak aneka masakan Bali yang enak. Kemudian Marsha memilih untuk membersihkan kamar yang akan ditempati Mama dan Papa mertunya. Mulai dari mengganti sprei, sampai membersihkan lantai dengan vacuum cleaner semua dikerjakan Marsha sendirian. Kendati terkadang dia merasa tertekan dengan Mama mertunya, tetapi Marsha juga ingin memberikan yang terbaik untuk mertuanya.


Sehingga praktis setengah hari lebih Marsha berkutat dengan berbagai pekerjaan rumah. Hingga menjelang hampir sore, datanglah Mama Saraswati dan Papa Wisesa. Dengan senyuman di wajahnya, Marsha pun menyambut kedatangan Mama dan Papanya itu.

__ADS_1


“Selamat datang Mama dan Papa,” sapanya sembari mencium punggung tangan Mama dan Papa mertuanya, dan kemudian memeluk Mama Saraswati.


“Baru ngapain Sha?” tanya Mama Saraswati.


Baru saja tiba di rumah, Mama Saraswati tidak menjawab sapaan selamat datang dari Marsha atau bertanya kabar menantunya, tetapi Mama Saraswati justru bertanya apa yang sedang Marsha lakukan di rumah.


“Sedang menata makanan di meja makan, Ma … mari Mama dan Papa sekalian makan dulu,” ucap Marsha dengan sopan.


“Oh, Mama kirain kamu sedang sibuk … sampai tidak ikut ke Bandara untuk menjemput kami,” balas Mama Saraswati.


Marsha pun menunduk, senyuman di wajahnya hilang. Baru saja tiba, Marsha sudah tertuduh dan merasa bersalah di hadapan mertuanya itu. Seharusnya Marsha turut ke bandara dan menjemput kedatangan mertuanya. Namun, Marsha memilih di rumah dan menyiapkan makanan khas Bali dan menyiapkan kamar yang bersih, rapi, dan wangi bagi mertuanya.


“Maaf Ma … Marsha pikir untuk membantu Bi Tini memasak,” balas Marsha.


Mama Saraswati kemudian menganggukkan kepalanya. Wanita paruh baya dan suaminya berlalu begitu saja dari hadapan Marsha dan menuju ke kamarnya. Tinggallah Marsha di depan pintu itu sendirian. Wanita itu menghela nafas panjang dan mengusap dadanya.


Sabar Marsha … sabar.


Sedikit kesabaran bisa menanggung berbagai cobaan dalam hidup. Ingat mereka adalah orang tua suamimu sendiri.

__ADS_1


Sabar … Sabar ….


Marsha memilih berjalan dan menuju ke dapur, menyelesaikan membantu Bibi Tini. Marsha belajar bersabar dalam satu minggu ke depan. Tidak masalah, apa pun penilaian mertuanya terhadapnya. Sebab, setiap orang memiliki prioritas sendiri-sendiri. Marsha pikir menyambut mertua di rumah saja juga tidak masalah. Dia tidak mengira bahwa sebenarnya mertunya menginginkannya untuk datang ke bandara dan menjemput di sana. Andai saja, Marsha tahu keinginan mertuanya itu sudah pasti Marsha akan turut bersama supirnya untuk menjemput mertuanya ke bandara. Semoga saja usai ini tidak ada percikan pertikaian atau ucapan pahit yang akan menyakiti hati Marsha. Semoga saja usai ini juga tidak ada berbagai hal yang akan diributkan oleh Mama Saraswati kepada Marsha. Doa Marsha dalam hati, kiranya saja dirinya bisa sabar dan tetap bersikap sopan kepada kedua mertuanya itu.


__ADS_2