
Malam ini, di depan api unggun rasanya tidak terkira ketika seorang Belva Agastya dan Sara Valeria meminta kepada Abraham dan Marsha untuk bisa menjadikan Mira sebagai menantu mereka di masa depan. Mungkin rasanya terkesan lucu, tetapi Belva dan Sara pun memiliki penilaian sendiri.
"Kenapa Pak Belva dan Bu Sara memilih Mira?" tanya Marsha kepada dua orang yang sudah seperti keluarga untuknya itu.
"Karena Elkan sayang sama Mira. Mungkin kalian tidak tahu, tetapi Elkan sering bercerita bahwa Elkan sayang kepada Adik Mira. Semoga di masa yang akan datang, ketika mereka dewasa, keduanya akan saling mencintai. Menghabiskan hidup bersama dengan orang yang sangat dicintai itu rasanya begitu menyenangkan," balas Bu Sara.
Mendengarkan ucapan Bu Sara, lantas Marsha kembali bertanya, "Sayang bagaimana Bu Sara maksudnya?"
Sebagai seorang ibu, Marsha pun ingin memastikan bahwa kelak Mira akan mendapatkan pasangan yang bisa menerimanya apa adanya. Pasangan yang akan mencintainya dan bisa melindunginya. Selain itu, Marsha yang pernah gagal di masa lalu juga tidak ingin bahwa Mira akan mengalami hal yang sama dengan dirinya. Mengingat latar belakang keduanya yang sangat berbeda, Marsha agaknya harus benar-benar bertanya kepada Bu Sara dan Pak Belva.
"Sejak bertemu Mira, Elkan sering cerita tuh Mira itu cantik, lucu, dan dia mengatakan sayang kepada Mira. Kita semua tahu bahwa anak kecil adalah makhluk yang paling jujur, Sha. Tidak mungkin Elkan berbohong. Jadi, aku dan Mas Belva sih berharap bahwa rasa sayang ini akan bertahan sampai Elkan dewasa nanti," balas Bu Sara.
"Latar belakang kita berbeda Bu Sara, apakah tidak menjadi masalah?"
Kembali Marsha bertanya karena memang mereka berdua dari latar belakang yang berbeda. Keluarga Agastya yang jutawan, sementara Abraham dan Marsha dari kalangan biasa.
__ADS_1
Di sana Pak Belva justru tertawa, "Aku pun menikahi gadis biasa, Marsha. Ya, bagiku tidak masalah, asalkan masih ada cinta," balasnya.
Mendengar apa yang disampaikan Belva, Marsha dan Abraham pun menganggukkan kepalanya perlahan.
"Benar Pak, kalau begitu baiklah," balas Marsha.
"Oh iya, kita tidak perlu memberitahu Elkan dan Mira. Biarkan mereka tumbuh alamiah, toh kalau sayang itu berubah menjadi cinta sudah pasti kita sebagai orang tua juga bisa mengetahuinya," pinta Pak Belva kali ini.
Dalam pemikiran Belva Agastya biarkanlah Elkan dan Mira tumbuh dengan alamiah. Tidak perlu dipusingkan dengan rencana perjodohan ini. Lagipula, anak-anak seusia mereka biarkan tumbuh dan bahagia tanpa memikirkan apa pun.
Abraham pun sepemikiran dengan Belva bahwa sangat penting anak-anak dalam hal ini adalah Elkan dan Mira yang bisa menikmati masa kecilnya dengan bahagia tanpa memikirkan perihal perjodohan di usia dini. Jika pun mereka saling sayang, sudah pasti dengan semakin berjalannya hari, sayang itu juga akan semakin dipupuk. Selain itu, tentu Abraham pun menginginkan Mira, putrinya bisa sekolah dan pintar tentunya.
“Soalnya begini Bram … Elkan dan Mira biarkan sekolah dan fokus dengan apa yang hendak mereka raih. Jangan membebani masa kecil mereka dengan hal-hal yang justru berdampak tidak baik ke Mira dan Elkan. Namun, nanti kami akan datang dan memberikan pengikat untuk Mira, Bram … biarkan ini hanya sekadar menjadi tanda kesepakatan antara kita berdua,” balas Belva.
“Setuju, nanti kami akan datang ke rumah kalian dan memberikan tanda untuk Mira. Aku sangat senang, lagipula Mira juga sudah memanggil kamu Mama dan Papa, tinggal menunggu mereka dewasa saja,” balas Mama Sara dengan begitu senangnya.
__ADS_1
Marsha dan Abraham yang mendengarkannya pun lega, karena memang di mata mereka berdua sosok Pak Belva dan Bu Sara adalah orang-orang yang baik. Elkan pun adalah sosok yang hangat dan memang terlihat menyayangi Mira.
“Di masa depan misal satu atau dua hal terjadi, dan mereka menemukan jodohnya masing-masing ya biarkan. Akan tetapi, kita sebagai orang tua akan berusaha untuk mendekatkan mereka yah … pelan-pelan saja,” ucap Pak Belva lagi.
Cukup lama mereka berbicara bersama di temani api unggun itu. Hingga akhirnya, dua pasangan itu memutuskan untuk beristirahat dan juga esok mereka akan jalan-jalan bersama di sekitaran villa saat pagi hari.
Begitu sudah berada di dalam kamar, Marsha menghela nafas dan bertanya kepada suaminya itu. “Kok Mas Bram setuju Mas?” tanyanya.
“Iya, karena keluarga Agastya adalah keluarga yang baik dan juga mendengar pengakuan Elkan sayang kepada Mira itu, aku merasakan memang Elkan sayang kepada Mira. Walaupun sekarang terlalu dini menyebut rasa sayang itu menjadi cinta, terlebih mereka yang masih anak-anak,” jawab Abraham kepada istrinya.
Marsha menganggukkan kepalanya perlahan, “Dulu, padahal omongan ini hanya sebatas wacana saja. Terbersit untuk menjodohkan Mira dan Elkan oleh Pak Belva. Rupanya sekarang, hal itu akan menjadi nyata. Aku terharu dan menganggap ini lucu,” balas Marsha.
“Bagaimana lagi Sayang … setidaknya keluarga yang meminta Mira sekarang adalah keluarga yang baik dan juga Elkan semoga tetap sayang kepada Mira ketika mereka dewasa nanti,” balas Abraham.
“Iya Mas … semoga saja. Kita orang tua mendoakan yang terbaik untuk Elkan dan Mira,” balas Mama Marsha.
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban dari suaminya, rasanya memang Marsha yakin bahwa keputusan ini untuk sementara waktu adalah keputusan yang tepat. Keputusan yang diharapkan di kemudian hari nanti ketika Elkan dan Mira dewasa mereka bisa saling jatuh cinta dan bersatu dalam pernikahan. Mungkin memang masih terlalu jauh, tetapi tidak ada salahnya berandai-andai untuk masa yang akan datang.