
Masih dengan memeluk tubuh Marsha, Abraham memilih diam. Tidak perlu mengatakan banyak hal. Sebab, dia sepenuhnya tahu bahwa Marsha dalam kondisi yang tidak baik. Marsha membutuhkan ketenangan sekarang ini. Terlalu banyak bicara justru membuat Abraham menambah pikiran Marsha.
Yang Abraham lakukan adalah terus memeluk wanita yang mengisi hatinya itu. Sekali lagi, Abraham menjadi pria yang melihat Marsha di kondisi terburuknya. Bukan hanya sekali, tetapi sudah berkali-kali Abraham yang berada di samping Marsha dan memberikan pelukan seperti kepada Marsha. Seakan kenangan di masa lalu kembali lagi.
***
Beberapa tahun yang lalu …
“Marsha, kamu di mana?” tanya Abraham yang saat itu masih duduk di bangku kuliah. Pria itu menempelkan handphone di telinganya, mencari keberadaan Marsha.
“Kenapa Bram?” tanya Marsha yang menjawab. Ada isakan tangis dalam jawabannya.
Mendengar bahwa suara Marsha terisak, Abraham begitu kalut dan ingin mencari keberadaan Marsha. Sungguh, tiap kali melihat Marsha menangis, rasanya Abraham sangat tidak bisa menahan gejolak di hatinya.
“Katakan Marsha, di mana kamu sekarang ini? Aku akan ke sana,” balas Abraham yang seakan ingin segera menemui Marsha.
“Di rumah, Bram … aku masih di rumah,” balas Marsha.
“Baiklah … aku ke rumahmu yah,” balas Abraham.
“Iya,” jawab Marsha dengan mematikan panggilan telepon dari Abraham itu.
Selang dua puluh berlalu, sebuah sepeda motor CBR tampak terparkir di depan rumah Marsha. Pemuda tampan tampak menyandarkan sepeda motor di sana dan kemudian membuka helm yang melindungi kepalanya selama berkendara.
“Permisi, Marsha,” ucap pemuda itu sembari mengetuk pintu rumah Marsha.
Tidak berselang lama, seorang gadis dengan matanya yang sembab membukakan pintu rumah itu dan tersenyum melihat Abraham yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
“Sendirian di rumah?” tanya Abraham.
“Iya, Mama dan Papa sudah pergi,” jawab Marsha.
“Ke karaokean yuk … aku tunggu yah,” balas Abraham.
__ADS_1
Pria itu kemudian memilih duduk di kursi kayu yang berada di luar rumah Marsha. Menunggu Marsha untuk bersiap dan akan mengajak Marsha untuk karaokean bersama. Di saat hati Marsha pilu, Abraham memang memiliki cara tersendiri untuk menenangkan Marsha.
“Sudah Bram,” ucap Marsha yang sudah bersiap dengan celana jeans dan tidak lupa mengenakan jaket.
Tanpa menunggu lama, Abraham pun segera memboncengkan Marsha dengan Kuda Besinya dan membawanya ke salah satu tempat perbelanjaan di Kota Semarang yang terdapat tempat karaokean miliki salah satu artis Indonesia.
Membiarkan Marsha memilih dan menyanyikan lagu demi lagu di sana, membiarkan air mata Marsha yang terurai saat wanita cantik itu menyanyikan bait demi bait lagu pilu yang dipilihnya. Sebab, seseorang yang merasakan kekalutan dalam dirinya, terkadang membutuhkan waktu sesaat untuk menangis. Sebab, air mata adalah salah satu bahasa yang memang Tuhan ciptakan. Segala sesuatu yang tidak bisa diucapkan oleh bibir, bisa terucapkan dengan air mata.
Menyadari saat isakan Marsha kian pilu, sampai wanita itu tidak bisa bernyanyi lagi. Abraham pun berdiri, dan segera memeluk tubuh Marsha. Mendekap hangat tubuh yang ringkih itu, membenamkan wajah Marsha ke dadanya, dan gerakan usapan tangan di rambut panjang Marsha.
“Aku ada di sini, Marsha … menangislah. Tumpahkan semua kesedihanmu itu,” ucap Abraham.
Hingga seluruh air mata tumpah di dada Abraham. Isakan sedu-sedan yang pilu dan menyayat hati, sementara Abraham memeluk dan siap menampung semua air mata kesedihan itu.
“Bram, Mama dan Papa mau bercerai Bram,” ucap Marsha pada akhirnya.
Sebagai seorang anak, kenyataan terpahit adalah saat anak tahu bahwa kedua orang tuanya hendak berpisah. Ada rasa takut karena tidak akan bisa bertemu dengan salah satu orang tuanya. Ada rasa kecewa dengan keputusan yang hendak diambil orang tua. Ada juga rasa bingung karena tidak memiliki orang tua yang utuh. Untuk semua itulah, Marsha menangis.
Setidaknya Abraham ingin mengatakan eksistensinya bahwa dia ada untuk Marsha. Di hari-hari terberat Marsha, Abraham akan memastikan bahwa dia akan selalu berada untuk Marsha.
“Aku takut, Bram … aku sedih, aku tidak ingin Mama dan Papa bercerai,” aku Marsha dengan jujur.
Di usia yang baru menginjak dua puluhan, Marsha sudah dihadapkan dengan kenyataan pahit dengan kedua orang tuanya yang memutuskan bercerai. Tentu ini adalah pukulan besar bagi seorang anak. Sebab, dalam perceraian antara kedua orang tua, anaklah yang lebih menderita. Akan tetapi, terkadang penderitaan dan kekecewaan anak itu tidak dilihat oleh orang tua. Perceraian menghancurkan hidup anak, menghancurkan anak secara mental. Keluarga yang utuh nyatanya hanya ada di sebuah cerita, tetapi Marsha tidak merasa keutuhan dan kasih sayang penuh dari keluarga.
***
Kini …
“Ya ada aku, Marsha … Ya Tuhan, Marsha … kenapa kamu bisa seperti ini?” ucap Abraham dengan menggerakan tangannya naik dan turun, memberikan usapan yang lembut di puncak kepala Marsha.
Pria itu menghela nafas yang begitu berat dan masih memeluk Marsha di sana. “Yang sakit mana saja?” tanya Abraham.
Mendengar pengakuan Marsha bahwa pagi tadi, Marsha sudah melakukan visum, Abraham berpikir bahwa luka yang ada di tubuh Marsha begitu banyak. Ingin rasanya dia mengobati Marsha, membalut lukanya sekarang ini.
__ADS_1
Di dada bidang Abraham, ada gelengan samar dari kepala Marsha. Wanita itu menggelengkan kepalanya, “Banyak Bram, sakit,” ucapnya dengan sebuah pengakuan bahwa dirinya kesakitan.
“Apa yang bisa kulakukan Sha?” ucap Abraham kali ini.
“Peluk aku, Bram … peluk aku saja,” jawab Marsha.
Ya, di titik terendahnya seperti ini hanya pelukan Abraham saja yang dia butuhkan. Sama seperti di masa lalu di mana Abraham selalu datang dan memeluknya. Kini, seolah Marsha menemukan kembali tempat berlindung sesaat. Pelukan Abraham adalah tempat berlindung baginya. Sedikit kehangatan yang dia dapatkan dari pelukan Abraham, bisa memberikan rasa aman untuk hidupnya yang begitu pelik saat ini.
Entah berapa lama, Marsha membenamkan wajahnya di dada Abraham dan menikmati pelukan dari mantan kekasihnya itu. Sampai di batas Marsha mengurai sejenak pelukan Abraham di tubuhnya.
"Makasih banyak, Bram," ucap Marsha kali ini.
Tangisannya sudah reda, Marsha kemudian membungkuk dan hendak mengambil sling bag yang berada di atas meja di ruang tamu itu. Sementara Abraham masih memperhatikan Marsha dari dekat.
"Mau ke mana Sha?" tanya Abraham kali ini, saat Marsha seolah hendak mengambil kunci mobilnya yang juga tergeletak di atas nakas itu.
"Ke Semarang, Bram ... aku mau pulang ke rumah Mama," balas Marsha.
"Sekarang? Malam ini?" tanya Abraham.
"Iya, ke mana lagi aku bisa berlindung jika bukan ke rumah orang tuaku. Suamiku sudah tidak bisa memberikanku perlindungan," balas Marsha.
Dengan cepat Abraham menggenggam tangan Marsha, menghentikan pergerakan wanita itu. "Tinggallah di sini, Sha ... kamu bisa menempati apartemen ini. Jangan pergi dalam keadaan seperti ini, lagipula ini sudah larut malam," ucap Abraham yang menghentikan aksi Marsha kali ini.
"Masuklah ke dalam kamar itu ... istirahatlah. Jika kamu sudah tenang, kamu boleh pergi ke Semarang," balas Abraham.
Hanya saja mengendarai di tengah malam dan dalam pikiran kalut justru akan berbahaya untuk Marsha. Untuk alasan itulah Abraham menahan Marsha.
"Bram, tapi ...."
"Tidak ada tapi-tapian, Sha ... istirahatlah dulu. Tenangkan dirimu. Kalau kamu sudah tenang, aku akan mengantarkanmu ke Semarang. Jangan pulang sendirian. Aku akan mengantarkanmu dua hari lagi." Abraham berbicara dan meminta Marsha untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Abraham berjanji bahwa dua hari ini, di saat Marsha bisa lebih tenang. Abraham akan mengantarkan mantan kekasihnya itu untuk kembali pulang ke Semarang.
__ADS_1