Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Posisi dan Perlekatan Pertama


__ADS_3

Kurang lebih enam jam setelah persalinan, seorang perawat pun datang dengan membawa box bayi, di mana di dalamnya ada baby Mira yang sedang terlelap di dalam box bayi itu. Observasi ini biasa disebut juga dengan Skrining neonatal yang meliputi pemeriksaan fisik, skrining pendengaran, dan juga tes darah. Dengan mendeteksi dan melakukan penanganan dini terhadap kelainan medis muncul, tumbuh kembang bayi dapat berjalan secara optimal.


Kini, bayi kecil mereka sudah diantar perawat untuk bisa bersama-sama dengan Mama dan Papanya.


"Permisi ... ini bayinya Bu Marsha," sapa perawat itu dengan tersenyum ramah kepada Marsha.


Mendengar bahwa bayinya sudah dipindahkan dan mereka bisa bertemu dengan bayinya tentu membuat Marsha dan Abraham merasa begitu bahagia. Bahkan Marsha pun berusaha untuk terbangun dengan selang infus yang masih menusuk pembuluh darahnya. Namun, karena bisa melihat kembali bayinya, Marsha pun menekan rasa sakit itu.


"Mama nungguin," ucap Marsha yang sudah berlinangan air mata melihat putri kecilnya yang dibedong itu.


"Si bayi harus melakukan skrining neonatal selama enam jam dulu setelah dilahirkan Bu Marsha, dan tadi si bayi sudah buang air kecil, dan buang air besar pertamanya. Kotoran pertamanya atau Mekonium juga sudah keluar. Itu artinya saluran pencernaan bayi lancar dan baik yah. Namun, Mekonium ini akan terus keluar sampai beberapa hari setelahnya. Jadi, jangan takut karena si bayi mengeluarkan kotorang yang memiliki tekstur sedikit lengket dan warna hitam," jelas perawat itu.


Tentu ini adalah ilmu pengetahuan baru untuk Marsha dan Abraham. Sebagai orang tua baru memang mereka berdua harus belajar banyak hal. Sebab, menjadi orang tua itu adalah pembelajaran bukan? Marsha dan Abraham pun merasa demikian. Mereka berdua harus belajar dan memahami kehidupan pertama bayinya itu.


"Baik, Suster ... terima kasih, jadi nanti kami tidak kaget karena sudah diberitahu terlebih dahulu," balas Marsha.


"Sama-sama Bu Marsha ... ASI-nya sudah keluar belum Bu Marsha?" tanya perawat itu.

__ADS_1


"Sudah, cuma masih sedikit," jawab Marsha.


"Syukurlah ... sekarang si bayi bisa disu-sui dulu yah Bu ... tidak apa-apa, nanti produksi ASI akan bertambah dengan semakin bertambahnya hari. Jadi, jangan khawatir. Ada suplemen ASI yang mengandung ekstra daun katuk juga kan yang diresepkan Dokter Indri?" tanya perawat itu lagi.


"Iya, ada ... sudah saya minum tadi," jawab Marsha.


"Baiklah, sekarang ... bayinya silakan diberikan ASI, sering dipeluk juga karena bayi membutuhkan kehangatan. Dia masih berpikir suhu layaknya di dalam rahim sang Ibu, adalah suhu di luar berbeda. Oleh karena itu, disarankan untuk lebih sering memeluk bayi," jelas perawat itu.


Setelahnya perawat itu mulai memposisikan si bayi dalam gendongan tangan Marsha. Kemudian Marsha mendapatkan cara menyusui yang tepat, bagaimana perlekatan pertama bagi seorang bayi.


"Nah, bayi dipegang dalam satu lengan. Kepala bayi diletakkan dekat lengkungan siku Ibu, kemudian pantat bayi ditahan dengan telapak kanan Ibu. Perut bayi ini harus menempel ke tubuh Ibu. Mulut bayi harus berada di depan pu-ting Ibu. Lengan yang bawah merangkul tubuh Ibu, dan jangan berada di antara tubuh bayi dan Ibu. Tangan yang di atas boleh dipegang Ibu atau diletakkan di atas dada Ibu. Kemudian telinga dan lengan yang di atas berada dalam satu garis lurus."


"Nah, selanjutnya ... dagu bayi menempel ke payu-dara Ibu, mulutnya akan terbuka lebar. Sebagian besar are-ola terutama yang berada di bawah akan masuk ke dalam mulut bayi. Dampaknya bibir bayi terlipat keluar. Tidak boleh terdengar bunyi decak, hanya boleh terdengar bunyi menelan. Posisi ini membuat Ibu tidak kesakitan dan bayi pun tenang. Kalau posisi dan perlekatan sudah benar produksi ASI akan tetap banyak."


Melakukan step by step posisi dan perlekatan ini membuat Marsha belajar. Awalnya memang kikuk, tetapi memang bukankah ketika pertama kali mencoba semuanya akan terasa kikuk? Setelahnya barulah akan merasa biasa dan bisa melakukannya dengan baik.


"Coba ya Bu Marsha ... saya akan tungguin sejenak. Jika sudah benar, nanti bisa latihan lagi dan saya akan membantu Ibu pelan-pelan," ucap perawat itu lagi.

__ADS_1


"Seperti ini Suster ... apakah sudah benar? Terdengar dia menghisap dan menelan," ucap Marsha.


Sebisa mungkin Marsha juga merasa peka dengan aktivitas bayi mungilnya itu. Sebab, Marsha sendiri pun bisa berharap bahwa posisi dan perlekatan si bayi ini akan berjalan dengan baik dan lancar.


"Yah, bagus ... seperti ini ya Marsha. Biarkan Adik Bayi mendapatkan ASI dulu yah. Bisa saya tinggal?" tanya Perawat itu.


"Ya, bisa ... terima kasih banyak," sahut Marsha.


Memberikan ASI secara langsung dan begitu dekat dengan bayinya membuat Marsha begitu bahagia. Tangan mungil yang ada di dadanya begitu lembut dan juga hangat. Lagi-lagi Marsha justru menitikkan air matanya melihat maha karya Tuhan yang luar biasa itu.


"Bisa Shayang?" tanya Abraham kemudian. Pria yang baru saja menyandang gelar Papa itu duduk di tepi brankar yang ditempati Marsha dan mengamati kegiatan Marsha dan juga Baby Mira.


"Bisa Mas ... cuma geli," balas Marsha dengan menahan tawa.


Sensasi kala pertama kali si Baby meminum ASI secara langsung selain bahagia dan tenang, juga ada rasa geli yang menyertainya. Sampai Abraham pun tersenyum menatap wajah istrinya itu.


"Kamu bisa saja ... buat Adik Bayi, biar sehat dan kuat," balas Abraham.

__ADS_1


"Hu-um, cuma bahagia banget bisa sedekat ini dengan Adik. Bounding ternikmat bagi seorang Ibu adalah saat bisa meng-ASI-hi seperti ini," balas Marsha.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Benar banget Shayang ... ih, lucu banget sih. Cewek minumnya banyak ya Dik?" tanya Abraham dengan masih mengamati wajah mungil bayinya itu.


__ADS_2