
Rupanya kepindahan Marsha dan Abraham menjadi kebahagiaan tersendiri untuk keluarga Belva Agastya. Sehingga, sore ini usai suaminya pulang dari perusahaannya, Sara mengajak suaminya itu untuk bertamu di rumah tetangga mereka. Jaraknya memang lumayan, berbeda cluster, tetapi jarak ini pun rasanya dekat saja bagi Sara. Pebisnis wanita itu tampak membawa beberapa kue kering dan oleh-oleh lainnya yang akan diberikan sebagai hadiah untuk Marsha dan Abraham.
"Selamat sore," sapa dari keluarga Belva Agastya yang sore itu bertamu bersama dengan putra sulungnya Evan, dan juga putra bungsunya, Elkan.
"Ya, selamat sore," balas tuan rumah yang tidak lain adalah Abraham.
Begitu tercengangnya Abraham saat sore itu, Pak Belva, Bu Sara dan kedua anaknya justru datang ke rumah mereka. Harusnya Abraham yang main terlebih dahulu ke orang yang sudah begitu baik itu. Namun, kali ini keluarga Agastya lah yang bertamu terlebih dahulu.
"Pak Belva dan Bu Sara, silakan masuk ... mari masuk," balas Abraham dengan begitu ramah kepada keluarga Agastya itu.
Mempersilakan Pak Belva dan keluarganya untuk duduk, kemudian Abraham memanggil Marsha terlebih dahulu di kamar atas supaya turut menyambut tetangga baru mereka itu. Kemudian Marsha dan Abraham pun turun sembari menggendong Mira. Sementara Mama Diah yang menemani tamu mereka terlebih dahulu.
"Pak Belva dan Bu Sara," sapa Marsha yang juga tampak bingung dikunjungi oleh Pak Belva dan juga istrinya.
"Kami main Marsha ... kan sekarang sudah tetanggaan. Jadi, bisa sering-sering main," balas Bu Sara dengan tersenyum.
"Benar Bram ... ajak Marsha, Mira, dan Ibu kamu untuk main juga. Jalan kaki tidak begitu jauh kok," balas Belva.
"Loh, Pak Belva ini tadi ke sini jalan kaki?" tanya Abraham lagi.
Dengan cepat Pak Belva pun menganggukkan kepalanya, "Benar ... jalan kaki sore-sore. Biar Evan dan Elkan juga kenalan. Nah, Evan dan Elkan kenalan dulu yuk sama Om Abraham dan Tante Marsha. Berikan salam Nak," ucap Pak Belva yang mendidik anak-anaknya dengan sangat baik itu.
Tanpa disuruh, Evan dan Elkan bersalaman dengan Abraham dan juga Marsha. Tentu saja Abraham dan Marsha tersenyum dan senang melihat dua putra yang super tampan dan juga sangat sopan itu. Dilahirkan dari keluarga jutawan, nyatanya Pak Belva dan Bu Sara tidak lupa untuk mengajarkan nilai kesopanan kepada kedua putranya.
"Salim (salam dengan berjabat tangan) juga dengan Eyang Putri itu Kakak Evan dan Adik El," instruksi dari Mama Sara yang mengingatkan kepada Evan dan Elkan untuk memberikan salam juga kepada Mama Diah yang sedang berada di dapur.
__ADS_1
Rupanya duo E itu segera berlari ke dapur dan berjabat tangan dengan Mama Diah. "Ya ampun ... sopan-sopan yah. Siapa ini namanya?" tanya Mama Diah.
"Namaku Evan, Eyang Putri dan ini adiknya Evan ... namanya Adik Elkan," balas Evan yang seolah menjadi juru bicara bagi adiknya yang memang belum begitu lancar berbicaranya itu.
"Wah, pinternya Kak Evan ... manggilnya Kakak atau Mas ini?" tanya Mama Diah lagi.
"Kakak, Eyang ... Adik El manggilnya Kak Evan," balas Evan lagi.
Para orang tua yang duduk di ruang tamu pun melihat instruksi dari Duo E dan juga Mama Diah. Tampak begitu lucu dan juga Evan yang Sulung juga terlihat layaknya seorang Kakak yang akan memandu adiknya. Terlihat begitu lucu chemistry dari Duo E yaitu Evan dan juga Elkan.
"Bagaimana betah di sini?" tanya Pak Belva.
"Betah Pak ... cuma ya masih penyesuaian. Biasanya di unit kan pemandangannya kota. Di sini ya lebih sepi tentunya. Cuma memang suasana rumah itu lebih terasa sih," balas Abraham.
"Iya, butuh waktu. Nanti lama-lama juga pasti akan betah. Makanya main ke rumah, Mamanya anak-anak selalu di rumah kok. Bisa kalian recokin dan ajakin Evan dan Elkan main bersama," balas Pak Belva.
Bu Sara pun tertawa karenanya, "Boleh ... ajakin Mira yah. Ihh, gemes banget sih. Cantik banget," balas Bu Sara.
"Ayo tambah lagi Bu Sara ... sapa tahu adiknya Elkan nanti cewek," balas Marsha.
"Iya, pengennya. Cuma memang bulan depan, saya dan Papanya anak-anak mau liburan sebentar," balas Bu Sara dengan sedikit tersenyum.
"Wah, bulan madu kedua ya Bos?" tanya Abraham dengan cepat.
Pak Belva pun sedikit tersenyum, "Iyalah ... anak-anak nanti dititip ke Tantenya dulu, cuma nanti mereka akan menyusul. Istri saya tidak tenang jika tidak mengasuh anak-anak dengan tangannya sendiri. Jadi ya mereka nanti bisa nyusul saja," balas Pak Belva.
__ADS_1
"Saya doakan pulang dapat baby girl ya Bu," sahut Marsha.
"Amin ... dapat yang cantik sama kayak Mira yah, biar nanti bisa menjadi teman mainnya Mira," balas Bu Sara.
Sebenarnya bagi Bu Sara dan Pak Belva sendiri, mau anak laki-laki atau perempuan sama saja, hanya saja jika mendapatkan satu bayi perempuan pasti kian melengkapi kebahagiaan di dalam rumah mereka. Lagipula, mereka sudah memiliki dua jagoan sebelumnya. Jadi, rasanya ingin juga memiliki anak perempuan di rumah. Namun, hasilnya nanti tentu saja diserahkan semuanya pada Tuhan. Mereka sebatas berusaha, dan hasilnya adalah ketetapan Tuhan saja yang berlaku.
"Pak Belva sendiri pengennya punya anak berapa?" tanya Abraham kepada Pak Belva.
"Aku sih pengennya banyak. Mungkin bagi orang lain, aku itu kuno yah ... banyak anak banyak rejeki. Hanya saja, aku pengennya memang ketika tua nanti aku pengennya melihat anak-anak dan keturunanku tumbuh dan bahagia. Mengasuh cucu aja nanti kalau sudah masanya pensiun. Ditemani istri dan anak-anak serta cucu," balas Pak Belva.
"Benar ... kayak pemikiran orang-orang tua zaman dulu yang pengen berkumpul dan melihat anak cucunya hidup rukun dan bahagia," balas Abraham.
"Iya Bram ... itu sih aku yah. Cuma kan istri ya kasihan kalau memproduksi anak setiap tahun. Jadi ya, ngobrol juga sama istri tercinta nih maunya berapa. Aku sih siap saja," balas Pak Belva dengan tertawa.
Pukulan kecil pun mendarat di lengan suaminya itu, "Bisa saja sih Pa ... malu," balas Bu Sara.
"Enggak apa-apa Bu Sara ... mumpung masih muda. Bu Sara usianya berapa sih?" tanya Marsha kepada Bu Sara.
"Sudah kepala tiga, Sha ... melahirkan pun ada masanya. Jika sudah kepala tiga ke atas kan juga rawan. Jadi, ya kali aja sekarang menjadi kesempatan terakhir untuk hamil," balas Bu Sara.
"Benar Bu Sara ... kalau saya dan Mas Bram, mungkin tambah lagi satu lagi. Nunggu Mira kalau sudah tiga atau empat tahun," balas Marsha.
"Jangan selisih tiga tahun, Sha ... nanti Mira masuk SMA, adiknya masuk SMP. Terus, Mira masuk perguruan tinggi, adiknya masuk SMA. Untuk finansial sih cukup pusing kalau selisihnya tiga tahun," balas Bu Sara.
"Oh, iya ... kenapa saya tidak terpikirkan yah. Berarti jangan tiga tahun. Pusing nanti sekolahnya," balas Marsha dengan terkekeh geli.
__ADS_1
Sore itu menjadi sore yang penuh obrolan hangat dari kedua keluarga. Merasa menjadi tetangga yang cukup dekat hanya berbeda cluster saja, sehingga membuat kedua keluarga itu merasa dekat satu sama lain. Merasa ada yang dikenal di lingkungan baru itu setidaknya memberikan keamanan dan rasa betah untuk bisa beradaptasi bagi Marsha dan Abraham.