
Setelah beberapa hari menempati rumah baru, Abraham merasa ada sesuatu yang belum dia beli dan sekarang Abraham mengajak keluarganya ke salah pusat perbelanjaan menuju ke salah satu toko homeware yang ada di pusat perbelanjaan.
"Ayo Ma, ikut saja. Masak Mama sehari-hari cuma di rumah saja. Siapa tahu Mama pengen sesuatu nanti," ucap Abraham yang ingin membawa serta Mama Diah untuk turut bersamanya.
"Mama malas, Bram … lebih baik Mama di rumah saja. Kalian bertiga bersenang-senang kan juga tidak masalah," balas Mama Diah.
"Ayolah, Ma … cari udara segar tidak ada salahnya," giliran Marsha yang mengajak mertuanya itu.
"Ya sudah, kalian ini padahal pergi sendiri juga tidak apa-apa. Kenapa harus membawa Mama, di sini tuh Mama tinggal di rumah enggak apa-apa," sahut Mama Diah.
Marsha tampak menggelengkan kepalanya perlahan, "Ikut saja, Ma… Marsha itu justru senang bisa mengajak Mama turut serta. Lagian sejak punya baby kan Marsha belum kemana-mana, palingan cuma keluar untuk imunisasi Mira saja. Sekarang kita jalan-jalan sebentar," balas Marsha.
"Iya-iya, Mama akan ikut. Sebentar ya Mama bersiap dulu," sahut Mama Diah yang memilih untuk masuk ke dalam kamarnya.
Namun, di dalam kamar Mama Diah merasa bahwa perasaannya sangat tidak enak. Bahkan Mama Diah merasakan beberapa kali mata kirinya berkedut. Apakah itu karena matanya yang lelah usai membaca, atau karena akan menangis dan sebagainya. Sekadar ikut ke salah satu pusat perbelanjaan yang akan dituju Marsha dan Abraham saja rasanya begitu enggan.
Kurang lebih hampir lima belas menit waktu berlalu sekarang mereka sudah bersiap untuk berangkat menuju salah satu pusat perbelanjaan. Abraham yang mengemudikan mobilnya, sementara Marsha, Mama Diah, dan Mira duduk di belakang. Papa muda itu layaknya Driver karena yang lainnya memilih duduk di belakang.
“Kalian mau beli apa?” tanya Mama Diah kemudian.
__ADS_1
“Beli lampu emergency, Ma … jaga-jaga kalau sewaktu-waktu mati listrik, biar Mira aman dan tidak takut gelap,” balas Abraham.
“Oh, iya benar … lebih baik bersedia dulu, daripada nanti gelap-gelapan,” balas Mama Diah.
Mobil yang dikemudikan Abraham pun kemudian melaju ke salah satu pusat perbelanjaan di Ibukota. Pria itu tampak bahagia membawa Mama, Istri, dan putri kecilnya menyusuri Mall dan membeli keperluan untuk rumah barunya. Begitu sudah memarkirkan mobilnya, Abraham segera mengeluarkan stroller baby dan di sana Baby Mira akan ditaruh dan kemudian didorong saja dengan stroller. Kendati demikian, Marsha tetap membawa gendongan, berjaga-jaga jika Mira merasa tidak nyaman berada terlalu lama di dalam stroller.
Tempat yang mereka tuju pertama kali adalah homeware, membeli lampu emergency dan juga melihat beberapa kebutuhan rumah yang belum mereka miliki.
“Bram, Mama lihat-lihat di sprei itu dulu yah … ada motif bunga-bunga kesukaan Mama,” ucap Mama Diah.
“Iya Ma … Abraham dan Marsha ke lampu ya Ma … nanti kalau sudah telepon saja tidak apa-apa, Ma. Jangan jauh-jauh ya Ma,” balas Abraham.
Akhirnya Mama Diah memilih untuk melihat aneka sprei dan bed cover yang bermotif bunga-bunga itu. Kemudian tangan Mama Diah terulur untuk menarik sebuah sprei bermotif bunga dengan warna biru muda yang cerah. Akan tetapi, saat Mama Diah hendak menarik sprei itu, ada tangan lain yang juga turut mengambil sprei yang sama yang dipegang Mama Diah.
Kedua tangan yang sama-sama terulur, hingga akhirnya wajah pun saling menoleh untuk melihat siapa yang juga menginginkan untuk melihat sprei dengan motif bunga ini.
Mama Diah tertegun, kala di sampingnya berdiri mantan suaminya dulu. Tidak mengira bahwa Mama Diah akan bertemu dengan mantan suaminya, dan itu adalah Papa kandung Abraham.
“Diah,” sapa pria paruh baya yang mengenakan kacamata itu.
__ADS_1
Mama Diah tak bisa berkata-kata lagi. Tertegun melihat pria yang dulu menikahinya dan memberikan tanda mata pernikahan yang dia besarkan sejak kecil dengan sepenuh hati yaitu Abraham.
“Kita bertemu di sini, Diah … setelah lebih dari 20 tahun,” balas pria paruh baya itu.
Akan tetapi, Mama Diah tertegun dan berkata-kata. Masih bingung dengan pertemuan yang sama sekali tidak dia harapkan. Pertemuan dengan pria yang semula dicintainya, tetapi nyatanya justru berakhir luka karena pria itu meninggalkannya dan juga lebih memilih meninggalkan Mama Diah dan Abraham yang kala itu masih berusia 2 tahun.
Dengan segera Mama Diah menarik tangannya, dan berusaha untuk menjauh. Tidak ingin bertemu dengan pria yang datang dari masa lalunya itu. Kemudian Mama Diah hendak berjalan, meninggalkan pria itu.
Sejalan kemudian pria paruh itu segera menghentikan Mama Diah. “Diah … maafkan aku. Maafkan untuk kesalahanku puluhan tahun yang lalu,” ucapnya.
Deg!
Hati Mama Diah terasa begitu terketuk. Kali ini ada maaf yang terucap, walau waktu sudah berlalu dengan begitu lamanya. Kali ini ada maaf yang tersampaikan ketika luka lama itu pasti akan terkuak.
“Aku yang bersalah, Diah … aku yang meninggalkanmu dan Abraham, putra kita. Pasti Abraham sudah dewasa sekarang. Walau aku jauh, tetapi aku selalu menyayangi Abraham. Walau aku tidak selalu bersamanya, tetapi Papanya ini selalu menyayanginya,” ucap pria itu.
Kesalahan yang terpendam puluhan tahun akhirnya bisa meminta maaf sekarang. Rasanya memang aneh, takdir mempertemukan keduanya, di saat tubuh tidak lagi muda, di saat kenangan akan masa lalu mungkin saja sudah sepenuhnya dikubur, tetapi Semesta selalu memiliki cara untuk mempertemukan orang yang datang di masa lalu dengan tiba-tiba, dengan sengaja.
“Aku lega sekarang … kamu sehat, dan aku yakin Abraham pun sehat. Maafkan aku, Diah,” ucap pria paruh baya itu lagi.
__ADS_1
Akan tetapi, Mama Diah hanya bisa berdiri mematung dan tidak menjawab apa pun. Semuanya yang terdengar adalah ucapan maaf dari pria paruh baya itu. Mama Diah tak bisa merespons ucapan dari pria itu sama sekali. Terlalu perih diperhadapkan dengan luka lama. Walau hubungan telah berlalu, tetapi ikatan yang terjalin secara darah dengan adanya Abraham tidak akan berlalu. Ada mantan suami atau mantan istri, tetapi tak pernah ada mantan Ayah bukan? Terlalu pelik, sampai Mama Diah sama sekali tak bisa merespons. Firasatnya saat masih berada di rumah yang enggan ikut Abraham terjawab sudah, ini adalah jawaban dari firasat itu. Jawaban bahwa dia akan kembali bertemu dengan mantan suaminya yang telah meninggalkannya dengan Abraham puluhan tahun yang lalu. Mantan suaminya adalah Narawangsa Wisesa Andrian!