
Nyatanya, tekanan dari tekanan yang diucapkan oleh Mama Saraswati tak hanya berakhir pagi hari itu. Sekadar mandi dan melakukan keramas saja sudah mendapat cibiran dari Mama Saraswati. Seolah-olah di mata mertuanya, mandi dan keramas di pagi hari mengacu pada hubungan suami istri yang baru saja terjadi. Jujur, saja Marsha merasa begitu bersedih. Dirinya memang terbiasa mandi keramas di pagi hari untuk menyegarkan tubuhnya. Akan tetapi, kali ini yang Marsha lakukan justru menghadirkan salah sangka.
"Kalau mau menyeduh Teh, rambutnya dikuncir dulu, Sha ... biar ada rambut yang jatuh ke makanan." Kali ini Mama Saraswati kembali mengingatkan.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, dia segera menguncir asal rambutnya yang masih setengah basah tadi. Di dalam hatinya, Marsha mengatakan seharusnya dia turun dari kamar saat rambutnya sudah benar-benar kering. Sebab, sekarang perkara menyeduh Teh saja bisa menjadi boomerang baginya.
"Iya Ma," jawab Marsha dengan singkat.
Setelah itu, kemudian Marsha mulai menyeduh Teh. Menunggu air panas dan Teh tubruk menyatu hingga menghasilkan warna sedikit gelap, dan juga aroma Melati dari Teh yang diseduh itu menguar, Marsha memilih untuk membuat roti bakar. Marsha pun menawarkan roti bakar kepada Mama mertuanya itu.
"Mama mau roti bakar? Bisa Marsha buatkan sekalian," tawar Marsha kepada Mama Saraswati.
"Boleh ... Mama mau. Tidak usah membuat untuk Papa, soalnya Papa kamu tidak terbiasa sarapan," balas Mama Saraswati.
"Baik Ma," balas Marsha.
Marsha memilih fokus untuk membuat roti panggang dengan menggunakan toaster. Pemanggang elektrik yang bisa digunakan di rumah dan penggunaannya pun mudah. Sementara itu, Marsha juga mengambil tiga butir telor dari lemari es, mencampurnya dengan susu segar, dan menambahkan sedikit lada dan garam, Marsha kali ini berniat untuk membuat Scrambble Egg untuk Melvin. Sapa tahu nanti jika Melvin bangun dan turun ke bawah untuk sarapan, sudah ada Scrambble Egg kesukaan Melvin.
"Buat apa lagi Sha?" tanya Mama Saraswati lagi.
"Buat Scrambble Egg untuk Melvin nanti, Ma," balasnya.
Rupanya mendengar jawaban Marsha, Mama Saraswati pun mengernyitkan keningnya, "Scrambble Egg enaknya kalau masih hangat, Sha ... emangnya Melvin sudah bangun? Kok kamu sudah membuatkan Scrambble Egg itu," tanya Mama Saraswati kepadanya.
Memang nada bicara Mama Saraswati biasa saja, tetapi kenapa dari perkataan itu seolah-olah ingin menyalahkan Marsha untuk apa yang sedang Marsha lakukan sekarang ini. Seakan-akan apa yang dilakukannya selalu tidak benar di mata Mama mertuanya.
__ADS_1
Kembali untuk memilih mengalah, "Ya sudah ... ini buat Marsha saja, Ma ... nanti Marsha buatkan lagi untuk Melvin," balasnya.
Terkadang dengan orang tua, kita memang harus mengalah. Tidak masalah siapa yang benar dan siapa yang salah. Terlebih posisi Marsha sebagai seorang menantu memang harus menaruh hormat kepada mertuanya itu. Sekali lagi, Marsha bersikap baik dan berusaha menganggap semua sebatas angin lalu.
Hampir setengah jam berlalu, rupanya Melvin pun sudah turun dari kamar. Pria itu sudah bangun dan segar. Terlihat bahwa Melvin juga bersiap untuk pergi ke lokasi syuting.
"Pagi Mama," sapa Melvin sembari memeluk Mamanya.
"Pagi Vin, mau ke lokasi?" tanya Mama Saraswati.
"Iya Ma, kerjaan Melvin kan tidak jauh-jauh dari lokasi syuting, Ma," balas Melvin.
Pria itu tertawa, dan kemudian mengambil tempat duduk. Sesekali Melvin mengamati Marsha yang berkutat di dapur.
"Yang, enggak sarapan?" tanya Melvin kepada istrinya itu.
Tepat lima menit berlalu, Marsha menyajikan Scrambble Egg yang masih hangat untuk Melvin dan kemudian menyajikan roti bakar untuk Mama mertuanya.
"Silakan Ma, sarapan dulu," ucap Marsha.
Mama Saraswati menganggukkan kepalanya dan kemudian mengambil roti bakar yang sudah tersaji di meja. Wanita paruh baya itu mengernyitkan keningnya, "Roti bakarnya terlalu gosong ini, Sha ... kamu tentu tahu kan kalau kita tidak boleh memakan makanan yang gosong supaya tidak memicu pertumbuhan sel kanker di dalam tubuh," ucap Mama Saraswati dengan panjang lebar.
Marsha menghela nafas sepenuh dada, dan mulai melirik ke arah Melvin yang bersikap biasa saja. Bahkan Melvin justru asyik menikmati sarapannya. Tidak ada inisiatif dari pria itu untuk membantu Marsha saat ini.
"Maaf Ma," balas Marsha pada akhirnya.
__ADS_1
Sebenarnya, di saat-saat seperti inilah, Marsha ingin suaminya itu bisa membelanya. Namun, yang terjadi justru Melvin bersikap acuh dan tidak ada keinginan dan inisiatif untuk membelanya. Tidak semua orang memiliki perasaan yang menganggap semua hanya angin lalu. Tidak semua orang kuat dengan berbagai tekanan yang datang. Namun, Melvin tidak melakukannya.
Mama Saraswati akhirnya tidak memakan roti bakar yang semula sudah dia ambil itu. Hanya secangkir Teh hangat saja yang dinikmati wanita paruh baya itu. Marsha tentu menatap Mama Saraswati dan melihat wajah tidak suka yang saat ini ditunjukkan oleh Mama mertuanya.
Jika kemarin perkara membuat makanan khas Bali saja menjadi tekanan, pagi sudah lebih dari tekanan yang diberikan Mama Saraswati kepadanya. Mulai dari tuduhan berhubungan suami istri tanpa melihat kondisi Melvin yang pulang tengah malam, menguncir rambut supaya tidak ada rambut yang jatuh di makanan, dan sekarang perkara roti bakar. Ya Tuhan, dada Marsha begitu sesak kali ini.
Ada suami di sampingnya nyatanya juga tidak melakukan apa pun untuknya. Ada suami di sampingnya, tetapi sama sekali tidak membelanya. Terbersit sosok Abraham di benak Marsha sekarang ini. Rasanya Marsha ingin keluar dari rumah dan menemui pria itu. Mungkin saja Abraham akan menunjukkan reaksi yang berbeda. Roti yang dikunyah Marsha pun rasanya menjadi sukar untuk ditelan, wanita itu beberapa kali meminum teh supaya roti bakar yang dia kunyah bisa segera turun dari tenggorokannya.
"Melvin, Marsha ... Mama mau bicara. Apa kalian berdua tidak berniat program hamil?" tanya Mama Saraswati lagi secara to the point kepada mereka berdua.
Jika berbicara perihal buah hati, Marsha rasanya begitu mati kutu. Dia sendiri juga tidak tahu apa yang menyebabkan dirinya tidak kunjung hamil. mengingat usia pernikahan yang sudah dua tahun, sudah selayaknya beberapa orang bertanya dirinya tak kunjung hamil.
"Nanti saja Ma ... toh, kami juga masih muda," jawab Melvin.
Akhirnya pria itu memberikan jawaban kepada Mama Saraswati. Faktor usia dan merasa masih muda adalah sebuah alasan yang diberikan Melvin sekarang ini.
"Jangan menunda-nunda, Vin ... kalian sudah dua tahun menikah. Tunggu apa lagi? Toh ya kamu bisa mencukupi semua kebutuhan, tidak masalah jika Marsha fokus dulu untuk program hamil." Mama Saraswati menjawab dan seakan meminta kepada Marsha untuk fokus pada program hamil terlebih dahulu.
Terlihat Melvin yang melirik ke arah Marsha yang sedari tadi menunduk. Sampai akhirnya Melvin pun memilih diam dan tidak menanggapi ucapan dari Mamanya itu.
"Atau jangan-jangan kamu mandul, Marsha? Buktinya sudah dua tahun dan kamu belum hamil. Mama sarankan kamu ke Obgyn dan tes apakah dirimu itu subur atau tidak," ucap Mama Saraswati.
Ini adalah ucapan yang membuat jantung Marsha terasa dicubit. Mengapa Mama Saraswati bisa menduga bahwa dirinya yang mandul. Kenapa Mama Saraswati tidak meminta kepada Melvin untuk memeriksakan kondisi tubuhnya juga. Mengingat kemandulan juga bisa dialami oleh pria.
"Nanti Marsha cek, Ma ... sekalian sama Melvin ya, Ma ... kan Marsha tidak tahu, bisa saja salah satu di antara kami yang kurang sehat," jawab Marsha.
__ADS_1
Bukan bermaksud membalas perkataan mertuanya. Hanya saja untuk cek dan melakukan tes kesuburan dan reproduksi, lebih baik dilakukan bersama. Sehingga sama-sama akan mengetahui kesehatan reproduksi keduanya.