
Lantaran pertengkaran yang cukup besar antara Mama Saraswati dan Papa Wisesa, akhirnya pasangan paruh baya itu memutuskan untuk tidak menjemput Melvin ke Lembaga Pemasyarakatan. Mama Saraswati hanya mengutus Rido yang tak lain adalah asisten manager Melvin untuk menjemput Melvin ke Lapas.
"Halo, Rido ... tolong kamu yang jemput Melvin yah. Pastikan dia keluar dari Lapas dengan aman dan selamat," perintah yang diberikan oleh Mama Saraswati.
"Baik Mama ... Rido akan segera ke Lapas sekarang. Mama dan Papa tidak ikut ke Lapas kah?" tanya Rido.
Hubungan Rido dengan keluarga Melvin juga baik, bahkan saking baiknya Rido memanggil Mama Saraswati dan Papa Wisesa dengan sebutan Papa dan Mama. Terlebih, memang Rido sudah bekerja untuk Melvin sejak Melvin menapaki dunia keartisannya.
"Oke ... begitu saja ya Rido, makasih," ucap Mama Saraswati dengan mengakhiri panggilannya.
Setelahnya, Mama Saraswati menatap tajam pada Papa Wisesa, "Gara-gara kamu ... aku tidak bisa menjemput Melvin," ucapnya.
Sementara Papa Wisesa memilih untuk berlalu pergi, meninggalkan istrinya yang baru saja ribut besar dengannya di ruang tamu. Sementara Papa Wisesa memilih untuk masuk ke dalam kamar tidur. Sungguh, di usianya yang kian tua, Papa Wisesa hanya ingin bahwa Melvin kian hidup baik dan juga bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Lebih bijaksana dalam bersikap dan berbicara, sayangnya itu semua masih terlampau jauh.
Sementara di Lembaga Pemasyarakatan, Melvin Andrian bersama pengacaranya dan juga Rido siap untuk keluar dari Lapas untuk kali pertama. Hari kebebasan yang sudah lama Melvin idam-idamkan akhirnya datang juga. Sebab, Melvin pun sangat menantikan kapan dia bisa bebas dan menghirup udara segar. Lebih dari itu, Melvin pun juga sudah begitu rindu untuk bisa berperan. Masa hiatus terlama yang sempat Melvin jalani. Semoga saja, jika comeback nanti, akan banyak penggemar yang menyambutnya dengan baik.
"Jadi, selamat menjalani kehidupan kembali di masyarakat Saudara Melvin ... jangan sampai jatuh ke lubang yang sama," pesan dari salah satu orang di Lembaga Pemasyarakatan.
"Baik Pak," balas Melvin dengan menganggukkan kepalanya perlahan.
__ADS_1
"Satu lagi Pak Melvin, di depan sudah begitu banyak awak media ... kami menyarankan Pak Melvin bisa keluar dari pintu samping atau pintu belakang saja supaya tidak menghadirkan kerumunan," ucap salah seorang penjaga Lapas yang lainnya.
"Baik Pak ... lewat mana saja saya tidak masalah," jawabnya.
Sejatinya mau lewat depan, samping, atau belakang tidak menjadi masalah bagi Melvin. Sebab, yang dia inginkan hanya satu yaitu bebas dan keluar dari Hotel Prodeo yang benar-benar tidak nyaman ini. Bisa merasakan kembali mewah, megah, dan nyamannya rumahnya. Selain itu, Melvin juga ingin menemui Lista. Semoga saja nanti, dia bisa meluangkan waktu untuk menemui wanitanya itu.
Setelah menandatangani beberapa berkas, Melvin dan kuasa hukumnya, beserta dengan Rido memutuskan untuk lewat pintu belakang. Tidak terendus oleh awak media jauh lebih baik. Hanya saja, memang ada kalanya seorang publik figur membutuhkan pemberitaan media untuk menaikan popularitas dan pamor mereka.
"Perlu diingat, sekarang lebih berhati-hati dalam bersikap ya Melvin," pesan dari tim kuasa hukumnya.
"Siap Pak ... saya juga tidak suka. Akhirnya bebas juga," sahut Melvin yang tersenyum lebar.
"Selamat Bos ... akhirnya bebas juga. Ada yang ingin dituju sebelum tiba di rumah?" tawar Rido kepada Melvin.
"Sementara pulang dulu saja, Do ... Mama dan Papa posisi di rumah atau di Denpasar?" tanyanya.
"Di Jakarta, Bos ... Mama dan Papa ada di rumah. Sebenarnya tadi Mama dan Papa ingin ikut menjemput Bos, cuma terus ada keperluan mendadak katanya," balas Rido.
Itu memang hanya sepengetahuan Rido saja. Fakta yang sejujurnya, Rido tidak tahu jika Mama Saraswati dan Papa Wisesa usai bertengkar dengan begitu hebatnya. Namun, Melvin yang mendengar bahwa Mama dan Papanya ada di Jakarta pun juga bersikap biasa saja. Rasanya, itu juga tidak akan berpengaruh banyak baginya.
__ADS_1
Di perjalanan menuju rumahnya, mobil yang disupiri oleh Rido melewati salah gerai kopi shop yang memang baru trending akhir-akhir ini, dan betapa kagetnya Melvin saat melihat banner yang terpasang di Coffee Shop itu adalah potret seorang wanita yang tentu Melvin mengenalnya dengan baik. Bahkan Melvin sampai menurunkan kaca jendela mobilnya dan mengamati sekilas banner-banner berwarna hijau itu.
"Pelan-pelan dikit, Do," pinta Melvin.
Rido yang tahu apa yang sedang menarik perhatian Melvin pun tersenyum, "Jangan kaget Bos ... itu memang fotonya Nyonya Bos," balas Rido.
Dulu, saat masih bekerja bersama dengan Melvin, Rido memang selalu memanggil Marsha dengan sebutan 'Nyonya Bos', dan sekarang dia mengatakan hal yang sama. Tentu hanya sekadar bercanda, karena sepenuhnya Rido tahu bagaimana kisah rumah tangga bosnya yang sudah selesai. Benar-benar sudah sampai di garis finish.
"Kenapa bisa? Kupikir karirnya akan hancur ... ternyata, dia justru menjadi brand ambassador. Apakah Coffee Shop itu populer?" tanya Melvin kemudian.
Tentu saja Melvin bertanya karena memang selama mendekam di balik jeruji besi, Melvin tidak banyak mengetahui kabar dan informasi dari dunia luar. Televisi di Lapas memang ada, tetapi lebih banyak menyiarkan siaran dangdut di malam hari.
"Populer Bos ... dalam waktu singkat, Coffee Shop itu sudah menjelma menjadi franchise yang membuka gerainya di mana-mana. Menu best sellernya Frappuccino dan Croffle. Mau mampir Bos?" tanya Rido kemudian.
Dengan cepat Melvin menggelengkan kepalanya, dan menutup kembali jendelanya. Pria itu seketika terlihat lesu dengan menyandarkan punggungnya di kursi mobilnya. Sungguh, sebelumnya Melvin mengira bahwa kehidupan dan karir Marsha akan hancur dengan tudingan miring yang terjadi dalam hidupnya. Selain itu, image sebagai istri tak setia melekat pada diri Marsha. Namun, siapa sangka justru mantan istrinya itu bisa menggapai karir dan kini justru menjadi brand ambassador sebuah bisnis waralaba.
"Enggak lah ... lagian kenapa pebisnis itu begitu beraninya menggandeng Marsha? Bukankah image Marsha sendiri buruk yah?" tanya Melvin.
"Branding kan tidak harus mencari orang dengan image yang baik, Bos ... buktinya sampai press cup di setiap gelas di gerai kopi itu adalah fotonya Nyonya Bos. Itu berarti penjualan mereka lebih naik dan branding yang dilakukan dengan menggandeng Nyonya Bos berhasil dong," balas Rido.
__ADS_1
Itu adalah sebuah jawaban yang logis saja. Kendati demikian, Melvin masih tidak mengira. Di Jakarta sendiri, berapa banyak berdiri gerai kopi itu. Dengan menggandeng Marsha sebagai Brand Ambassador sudah pasti begitu banyak keuntungan yang didapatkan oleh Marsha.