Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Ahli Waris?


__ADS_3

Meninggalkan Abraham dan Marsha yang memilih duduk di luar rumah, Melvin masuk ke dalam rumahnya. Jujur saja, Melvin begitu naik darah sekarang. Rasanya ingin menyalurkan amarahnya itu, tetapi Melvin masih harus mengendalikan diri karena memang situasi di rumahnya masih dalam suasana berduka. Sementara di luar, Marsha tampak menggenggam tangan suaminya, memberikan usapan di punggung tangan suaminya.


"Sabar ya Mas ... jangan kebawa emosi. Aku sangat yakin bahwa kamu bisa mengelola emosimu dengan sangat baik," balas Marsha.


Abraham pun perlahan menganggukkan kepalanya, "Iya Shayang, ada kamu yang selalu mengingatkan aku, jadi ya aku bisa bersabar. Makasih banyak yah," balas Abraham.


Mungkin ada waktu lebih dari sepuluh menit, Abraham dan Marsha duduk bersama di luar. Abraham yang sebenarnya tengah kalut, mencoba untuk mengajak bicara istrinya itu.


"Dulu kamu tinggal di sini juga?" tanyanya.


"Iya," jawab Marsha dengan singkat.


"Hidup kamu berarti dulu sangat mewah, Shayang … lihatlah rumah besar ini sangat mewah,” balas Abraham.


Marsha tampak menghela nafasnya, “Tidak berharga untukku, karena unit apartemenku lebih memberikan kebahagiaan untukku,” balas Marsha.

__ADS_1


Memang jika melihat pada mewah dan megahnya rumah itu, juga status Melvin sebagai artis papan atas tentu saja hidup Marsha secara finansial akan lebih stabil di saat dulu. Namun, yang Marsha sadari bahwa uang tidak pernah bisa memberikan kebahagiaan. Uang dan popularitas tidak mendatangkan kebahagiaan untuknya. Justru kebahagiaan itu Marsha dapatkan kala hidup bersama dengan Abraham.


Kembali pada cinta pertamanya, merangkai hari demi hari, walau tanpa kemewahan, tetapi kebahagiaan yang Marsha rasakan terasa begitu mewah. Kebahagiaan yang tidak bisa terbeli dengan materi.


"Aku lebih, lebih, dan lebih bahagia bersamamu, Mas," balas Marsha.


"Makasih yah ... aku jadi pria yang paling bahagia karena bisa membahagiakan istriku ini," balas Abraham.


Sedikit mengudar rasa yang keduanya rasakan sekarang. Walau memang ada duka, dan ada keresahan, tetapi Marsha dan Abraham mencoba menyelami makna kebahagiaan hidup bagi mereka berdua.


"Silakan masuk Pak Abraham," panggil pengacara itu.


"Baik, seluruh keluarga almarhum Bapak Wisesa sudah berkumpul, jadi sekarang saya akan membaca surat ahli waris yang pernah dibuat oleh almarhum. Jadi sekarang saya akan membacakan surat ahli waris tersebut."


"Surat pernyataan ahli waris. Berdasarkan berpulangan almarhum Bapak Narawangsa Wisesa Andrian, maka beliau akan menunjuk ahli waris untuk semua aset yang almarhum miliki kepada Putra Sulungnya yaitu Abraham Narawangsa, dan Putra Bungsunya yaitu Melvin Andrian. Seluruh aset deposito di bank dan juga perusahan publishing akan diberikan kepada Abraham sebagai putra sulungnya, sementara Rumah Produksi dan seluruh aset yang beliau miliki di pulau Bali akan diberikan kepada putra sulungnya yaitu Melvin Andrian."

__ADS_1


Mendengar isi putusan ahli waris, Melvin tampak menggeram. Tidak menyangka bahwa Papanya bahkan sudah membuat surat ahli waris terlebih dahulu. Melvin juga tahu bahwa deposito Papanya di banknya jumlahnya sangat banyak, bahkan ada deposito dalam mata uang Dollar Amerika. Tentu ini adalah keuntungan bagi Abraham. Akan tetapi, Abraham sendiri sebenarnya tidak mengharapkan harta warisan dari almarhum Papanya.


Yang Abraham inginkan bukan harta kekayaan. Untuk apa ketika meninggal memberikan harta kekayaan, tetapi ketika hidup hanya memberikan duka. Untuk apa ketika jiwa sudah tidak ada, tetapi meninggalkan harta benda yang tentu akan berujung sengketa.


"Wah, anak yang selama ini tidak tahu keberadaannya. Bertemu Papa pun hanya kurang dari 24 jam, tetapi mendapatkan begitu banyak warisan dari Papa," balas Melvin dengan menggelengkan kepalanya.


"Aku sama sekali tidak berniat dengan harta warisan itu," balas Abraham.


"Omong kosong. Kamu yang jelata, tentu saja seperti mendapatkan durian runtuh," balas Melvin.


Bahkan Melvin masih saja menyebut Abraham sebagai pria jelata. Abraham hanya tersenyum tipis dan menatap Melvin di sana.


"Aku tidak pernah menginginkan apa yang bukan hakku. Lagipula, untuk apa ketika tidak meninggalkan harta, tetapi semasa hidupnya bertingkah layaknya orang asing? Bukan harta yang aku cari, tetapi sosok kebapakan yang bisa menjadi suri teladan itu yang aku cari dan aku butuhkan," balas Abraham.


"Munafik, harusnya aku ahli warisnya. Harusnya aku yang mendapatkan semuanya, bukan kamu," balas Melvin.

__ADS_1


Pengacara yang masih berdiri di sana pun turut menenangkan, "Semua akan diberikan dan berlaku berdasarkan putusan dari surat wasiat almarhum. Lagipula, jika dihitung nominalnya, warisan untuk Saudara Melvin tetap jauh lebih banyak," balas pengacara tersebut.


Tak ingin ribut perkara warisan, Abraham memilih pergi dari tempat itu. Pria itu menggandeng Marsha dan mengajaknya untuk pulang. Sungguh, menjadi ahli waris mendiang Papanya sendiri bukan keinginannya, tetapi Abraham pun juga tidak mau mendapatkan harta yang ujungnya akan menjadi sengketa.


__ADS_2