
Apabila ada orang yang merasakan bahwa kehamilan itu menyenangkan, maka Marsha akan sependapat bahwa kehamilannya selalu menyenangkan. Kehamilan pertama yang rasanya menyenangkan bagi Marsha, karena itu seolah Marsha tidak merasa keberatan jika harus menjalani fase kehamilan. Yang menjadi ketakutannya hanyalah saat melahirkan. Entah mengapa rasanya, melahirkan itu sangat dramatis bagi Marsha.
Sekarang, tidak terasa usia kehamilannya sudah memasuki 38 minggu. Itu artinya tidak lama lagi, Marsha akan segera bertemu dengan bayinya. Kurang lebih tiga minggu lagi akan menjadi waktu yang sudah dinantikannya untuk bisa bertemu dengan bayinya nanti.
Kini, Abraham dan Marsha kembali mengunjungi Poli Kandungan di Rumah Sakit, untuk kembali melakukan pemeriksaan bersama Dokter Indri.
“Selamat sore Bu Marsha dan Pak Abraham …,” sapa Dokter Indri yang selalu ramah saat menyambut pasiennya. “Ada keluhan, Bu?” tanyanya kepada Marsha sebelum mulai melakukan pemeriksaan dengan USG.
Dengan cepat Marsha pun menggelengkan kepalanya, "Tidak ada Dok … sejauh ini saya sehat-sehat saja," ucapnya dengan yakin bahwa selama ini dirinya memang sangat sehat, tidak ada keluhan yang berarti.
Setelah merasa bahwa kehamilan Marsha tidak ada keluhan, Dokter Indri pun mempersilakan Marsha untuk berbaring di atas brankar dan mulai melakukan pemeriksaan dengan USG.
"Baik, usia kehamilan sekarang memasuki 37-38 minggu ya Bu. Artinya semakin dekat dengan masa-masa persalinan. Lebih sensitif dengan tanda-tanda menjelang persalinan yang bisa muncul kapan saja ya Bu," jelas Dokter Indri menjelaskan kepada Marsha.
Marsha pun mengangguk, "Baik Dok." jawabnya singkat.
Setelahnya Dokter Indri mulai mengukur panjang baby, lingkar kepala, dan letak plasenta. Saat transducer digerakkan, mulailah terlihat beberapa bagian dari janin tersebut.
"Sekarang panjang bayinya dari kepala hingga kaki 48 centimeter, lalu perkiraan beratnya sudah 3 kilogram. Ini hanya analisis ya, nanti faktanya bisa lebih atau kurang. Akan tetapi, biasanya mendekati dengan berat yang diukur dengan USG. Lalu, ini posisi plasentanya tidak menutupi jalan lahir. Sehingga bisa melahirkan dengan normal ya Bu, ini kepala bayinya juga sudah turun ke panggul. Ibu Marsha mau melahirkan normal atau Caesar kali ini?" tanya Dokter Indri.
Sebab memang menjelang persalinan biasanya Dokter Kandungan akan bertanya metode persalinan manakah yang akan dipilih oleh para Ibu Hamil. Normal ataupun Caesar biasanya menjadi dua alternatif yang umumnya dipilih para Ibu Hamil.
__ADS_1
Sebelum menjawab, Marsha tampak menengok kepada suaminya terlebih dahulu. Dokter Indri pun mengamati gerak-gerik pasangan suami istri tersebut. Hingga akhirnya justru Abraham yang menjawab.
"Kalau saya senyamannya Istri saja, Dok. Mau normal atau Caesar itu kan hanya metode persalinan. Yang penting Ibu dan Bayinya selamat," jawab Abraham.
Ya, dia memang tidak memaksa istrinya harus normal. Apa yang nyaman bagi istrinya, itulah yang akan Abraham support.
"Kalau Bu Marsha bagaimana?" kini Dokter Indri bertanya langsung kepada Marsha.
"Hmm, mungkin saya mau mencoba normal dulu saja, Dok. Walaupun sakit banget. Normal, tetapi enggak sakit gitu ada enggak sih Dok?" tanyanya.
Sontak saja Dokter Indri dan seorang perawat yang ada di tempat itu tertawa. Bagi mereka pertanyaan Marsha termasuk lucu.
"Sakitnya hanya sementara kok Bu … nanti kalau babynya sudah lahir, udah hilang sakitnya. Sakitnya memang luar biasa, tetapi kebahagiaannya juga luar biasa. Nanti, saat persalinan saya sendiri yang akan mendampingi Ibu dalam melahirkan," jawab Dokter Indri.
"Kenapa Pak?" tanya Dokter Indri kepada Abraham.
Pria itu pun tersenyum, "Saya sudah ngeri rasanya, Dok."
"Tidak apa-apa Pak, aman kok. Justru bagus untuk bayinya, asal tidak menekan perut dan hindari area atas. Itu saja. Selain aman, justru babynya harus ditengokin supaya mempercepat proses persalinan nanti," jelas Dokter Indri kepada Abraham.
Setelah pemeriksaan selesai, Abraham dan Marsha sama-sama membayar biaya pemeriksaan dan juga menunggu obat yang masih harus Marsha konsumsi hingga menjelang persalinan.
__ADS_1
Melihat istrinya berjalan dengan perutnya yang sudah begitu membuncit, beberapa kali Marsha juga memegangi pinggang, membuat Abraham tampak berkaca-kaca. Pria itu kemudian mengulurkan tangannya guna menggenggam tangan istrinya.
"Sudah keliatan berat ya Sayang?" tanyanya perlahan.
Akan tetapi, Marsha menggelengkan kepalanya, "Enggak … enggak berat kok. Jadi Ibu itu luar biasa banget, ibarat kata aku sudah menggendong si baby selama 9 bulan dalam perutku ya Mas," ucapnya sembari tertawa.
Abraham pun mengusap puncak kepala istrinya itu, "Iya … babynya kamu bawa kemana-mana selama 9 bulan. Sehat-sehat ya Mama Marsha Shayang & adik bayi." Abraham berbicara dengan begitu lembut dan juga beberapa kali mengusap perut istrinya itu.
Marsha pun lantas tersenyum, "Kenapa Mas? Rasanya aku jadi mellow loh ini," ucap wanita itu yang merasa ada yang berbeda dari perlakuan suaminya.
"Enggak apa-apa. Cuma aku kasihan lihat perut kamu yang udah sebesar ini. Mau jalan susah, duduk juga susah, berbaring juga susah. Maaf ya Sayang," ucap Abraham yang memang menyadari kian besar usia kehamilan, memang akan membatasi ruang gerak Ibu hamil. Berada dalam posisi tidak nyaman.
Akan tetapi, Marsha justru menggelengkan kepalanya, "Tidak usah minta maaf juga, kan memang ini takdir dan kodrat ku sebagai wanita. Aku sedang menjalaninya saja. Asalkan ada kamu yang selalu disampingku, semua bisa aku hadapi." sahutnya.
Memang bagi Marsha, dia membutuhkan suaminya itu untuk mendampinginya. Support system yang selalu dia harapkan. Asalkan ada suaminya, Marsha bisa merasa lebih kuat dan bisa menjalani semuanya.
***
Di dalam kamarnya kini Marsha duduk bersandar di head board dan tampak bergumam melakukan sounding dengan mengajak bicara babynya yang masih dalam perut.
"Hai, Adik bayi … sekarang kamu di dalam sini lagi ngapain Sayang? Sudah 37-38 Weeks, tidak lama lagi kita ketemu ya Sayang … Adik kalau dengar suara Mama berikan tendangannya dong. Respons ucapan Mama dong," gumamnya sembari tersenyum.
__ADS_1
Rupanya benar, si baby pun merespons dengan bergerak di dalam sana hingga Marsha bisa merasakan tendangannya. Wanita itu tersenyum dengan berkaca-kaca.
"Wah, pintar anak Mama … nanti kalau sudah ketemu, digendong dan dipeluk Mama ya Sayang. Rasanya tidak sabar menunggu waktu untuk berjumpa dengan kamu. Kira-kira kamu akan lebih mirip Papa atau Mama ya Sayang? Baby nya Mama," gumamnya lagi dan mengusapi perutnya dengan begitu lembut.