
Dengungan Melvin tidak sampai di situ saja, tetapi berkali-kali Melvin berdengung. Benar-benar seperti kumbang. Marsha beberapa hari menghirup oksigen, memenuhi paru-parunya dengan udara yang segar, dan mengeluarkannya perlahan. Merelaksasi dirinya sendiri. Hingga kemudian, Melvin berdiri di belakang Marsha.
“Kalau pagi itu bangunin suami dulu. Urusin suami dulu, baru nonton drama korea. Drama suaminya sendiri enggak ditonton, tapi kalau drama korea nomor satu,” ucap Melvin kali ini.
Marsha yang sudah berusaha menahan diri pun akhirnya memilih membuka suara kali ini. “Kamu kenapa sih Yang? Kenapa aku selalu saja salah di matamu?” tanya Marsha dengan menekan tombol pause di remote televisi yang sedari tadi dia pegang.
Mendengar Marsha yang merespons, Melvin akhirnya menatap tajam ke arah Marsha, “Abis kamu itu kalau drama korea dibela-belain nonton. Sampai pagi-pagi sudah nonton drama korea. Giliran suaminya sendiri juga main di mini series, ditonton pun enggak. Mana bentuk dukungan untuk suami sendiri?” tanya Melvin.
“Memangnya mendukung harus menonton semua sinetron dan mini series yang kamu mainkan?” tanya Marsha.
“Iya dong … itu bukti kalau kerja keras aku dilihat oleh istriku sendiri,” balas Melvin dengan sedikit membentak Marsha.
__ADS_1
Marsha lantas tersenyum getir di sana, wanita itu menggelengkan kepalanya perlahan, “Lalu, apakah kamu juga melihat setiap hari fotoku sebagai seorang model? Tidak juga kan?” Marsha bertanya balik kepada suaminya.
Sama-sama bekerja di dunia hiburan, hanya berbeda bidang saja sebenarnya Marsha juga ingin mendapatkan dukungan secara penuh dari suaminya itu. Namun, kesibukan suaminya yang menggunung, membuat Marsha seakan menjalani semuanya sendiri. Lalu, untuk apa sekarang Melvin menginginkannya untuk mengapreasi kerja kerasnya?
“Itu beda cerita. Aku yang bekerja keras, melakukan take berkali-kali, tetapi istriku sendiri tidak melihat mini series yang aku bintangi. Justru di rumah istriku enak-enakan melihat drama korea sampai enggak mengurusi suaminya,” balas Melvin kali ini.
Mendengar jawaban Melvin, Marsha seakan tersentak dan habis kesabarannya. Sebab, dia pun sebelumnya sudah berusaha untuk membangunkan Melvin terlebih dahulu. Namun, kenapa justru dirinya yang terus-menerus disalahkan oleh suaminya itu.
Kalau sekarang ini Marsha benar-benar ingin membela diri, bukan dirinya yang tidak membangunkan Melvin. Marsha sudah membangunkan Melvin, tetapi pria itu saja yang memilih tidur.
“Bangunin mana? Aku saja tidak sadar jika kamu sudah bangunin aku,” sahut Melvin.
__ADS_1
Seakan pria itu menyanggah bahwa Marsha sama sekali tidak membangunkannya, karena dia sama sekali tidak mengingatnya.
Usai mengatakan semua itu, Melvin kemudian pergi berlalu begitu saja dari Marsha. Pria itu menuruni kamar dengan wajah yang murung. Melvin melewatkan untuk sarapan dan memilih untuk segera menuju ke lokasi syuting.
Dalam sepanjang perjalanan, Melvin memijit pelipisnya yang begitu pening. Banyak hal yang terjadi, juga kekesalannya dengan Marsha, syuting stripping yang begitu padat membuat Melvin pada ambang batas tenaga dan waktunya. Mungkin karena kurang waktu membuat pria itu justru berlaku tidak baik kepada istrinya sendiri.
“Ah, kapan semua ini harus berakhir!” gumam Melvin dengan menghela nafas.
Tidak dipungkiri Melvin merasa sangat lelah dengan semuanya. Lelah dengan keadaan yang seakan tidak memberinya ruang untuk bergerak.
Berbeda dengan Melvin, di dalam kamarnya Marsha nyatanya justru menangis hingga terisak. Dia tidak menyangka bahkan untuk sekadar melihat drama korea saja sudah disalah-salahkan oleh Melvin. Kenapa justru Marsha merasa bahwa suaminya itu kian membatasi dirinya dan selalu menyalahkannya? Padahal Marsha juga sudah membangunkan Melvin dan juga sudah menawarkan kepada suaminya itu. Namun, niat baik nyatanya tidak sebanding dengan pengertian Melvin.
__ADS_1
Niat baik yang tidak disampaikan dengan baik, justru membuat Marsha kesakitan lagi oleh setiap perkataan Melvin.