
Bak tak curiga terhadap apa pun yang terjadi, Abraham pun keluar dari kamarnya dan kemudian menyimpan kue ulang tahunnya ke dalam kulkas. Setelahnya, Abraham kembali masuk ke dalam kamar. Entah rasanya, kali ini moodnya begitu baik, terlebih begitu mendapat kejutan dari istrinya sendiri.
Setelahnya, Abraham kembali memasuki kamarnya dan melihat Marsha yang masih menunggunya di atas ranjang. Abraham pun perlahan menaiki ranjang dan merangkul istrinya itu.
"Masih nungguin aku ya Shayang?" tanya Abraham.
Marsha kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, "Iyalah ... nungguin kamu dulu," balas Marsha.
"Kamu tidak berubah ya Shayang ... dalam beberapa tahun terakhir, kamu selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. So sweet banget sih," balas Abraham.
Pria yang kini mengalami pertambahan usia itu, kemudian membelai sisi wajah Marsha, Abraham tersenyum menatap wajah istrinya itu. Kemudian Abraham mengikis jarak wajahnya perlahan, dan kemudian perlahan-lahan Abraham mendaratkan bibirnya ke atas bibir Marsha. Bagi Abraham, tidak ada ungkapan lain yang bisa dia ucapkan selain memberikan ciuman yang dalam dan sepenuh hati untuk istrinya itu.
Dua bibir yang bertemu, dua pandangan yang saling mengunci satu sama lain, dan juga nafas hangat yang membelai sisi sama lain, membuat Abraham perlahan memejamkan matanya dan membuka bibirnya perlahan, lantas dengan begitu lembutnya, Abraham memagut bibir Marsha. Pagutan demi pagutan, hisapan demi hisapan, Itu adalah ciuman yang indah. Di malam ketika usia Abraham bertambah, merayakannya dengan mencium bibir istrinya tercinta.
Abraham membuka sedikit bibirnya, memagut bibir Marsha dengan begitu lembut. Dalam setiap pagutan, ada hisapan demi hisapan dan tekanan di sana. Sampai Marsha memegangi pinggang Abraham dengan begitu erat. Mata Marsha kian terpejam mana kala Abraham membuai dan menggoda dengan lidahnya.
"Hhh, Mas," lenguhan Marsha mana kali Abraham dia menekan dan menghisap lidahnya dengan begitu rupa.
Memang ini bukan ciuman pertama keduanya. Akan tetapi, setiap kali Abraham mencium Marsha. Rasanya selalu saja seperti ciuman pertama. Selalu saja, Marsha berdebar-debar dan juga meremang dengan ciuman suaminya itu.
Tidak mempedulikan lenguhan Marsha, Abraham jusrtu kian memperdalam ciumana. Tengah malam yang tenang, dan juga dengan decakan dua bibir yang beradu menjadi simfoni yang mengalun dengan begitu indah. Sangat indah, sampai untuk sesaat saja dua bibir itu tidak ingin terurai satu sama lain.
Tangan Abraham yang semula membelai sisi wajah Marsha pun juga perlahan turun dan meremas pinggang istrinya itu. Rasanya atmosfer di dalam kamar keduanya begitu panas sekarang ini. Pun dengan suhu tubuh keduanya yang begitu cepatnya naik, di tambah dengan tangan Abraham yang mulai memberikan usapan demi usapan di punggung istrinya itu.
Ketika tangan Abraham mulai merayap dan hendak menarik ke atas kaos yang dikenakan Marsha, ada gelengan kepala dari Marsha dan tangan wanita itu mencoba untuk menahan tangan suaminya di sana.
__ADS_1
"Mas, stop ... please," pinta Marsha kali ini dengan nafas yang begitu terengah-engah.
Abraham pun mengurai ciumannya, pria itu menatap Marsha dengan pandangan yang sukar terdefinisikan. Seolah bertanya, kenapa istrinya itu seakan menghentikannya.
"Hmm, kenapa Shayang?" tanya Abraham.
Marsha tersenyum pias dengan menggelengkan kepalanya perlahan, "Jangan dulu ... tahan," balasnya.
Wanita itu beringsut dan kemudian menarik laci yang ada di nakas dekat dengan tempat tidurnya. Ada sebuah kotak hadiah berwarna biru dan juga pita berwarna magenta yang Marsha ambil dan menyerahkannya untuk suaminya tercintanya.
"Kadonya buat kamu ... birthday gift," balasnya.
Abraham pun menatap Marsha dan merasa kenapa istrinya itu memberikannya sebuah kado. Kemudian Abraham pun menerima kado itu.
Memang begitulah Marsha. Dia selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Abraham, tetapi Marsha begitu jarang memberikannya kado. Itu juga karena Abraham selalu menolaknya.
"Kali ini spesial," balas Marsha.
"Serius? Jadi, aku boleh buka?" tanya Abraham.
"Iya, silakan dibuka. Justru harus dibuka kok," balas Marsha dengan terkekeh geli,
Abraham kembali menatap istrinya itu, "Tidak boleh, aku lanjutkan yang barusan? Momennya Shayang," ucap Abraham.
Terasa begitu lucu, bagi Abraham momen barusan begitu hangat dan romantis, serta mendebarkan. Akan tetapi, jeda yang terjadi sekarang ini membuat Abraham ingin melanjutkan merenda kasih dengan istrinya terlebih dahulu. Baginya bercinta dengan istrinya di setiap malam pergantian usianya adalah sebuah momen yang indah. Ya, itu adalah kado terindah dari istrinya.
__ADS_1
Namun, yang terjadi sekarang ini justru Marsha menghentikannya. Abraham pun bertanya-tanya. Sebab, sebelumnya Marsha tidak pernah melakukannya.
"Buka dulu," balas Marsha.
Abraham pun akhirnya membuka pita berwarna pink magenta itu perlahan, dan juga membuka kotak hadiah itu. Lantas pria itu bertanya-tanya kenapa masih ada kotak di dalam kotak. Dia pun melirik ke Marsha.
"Kamu ngerjain aku?" tanyanya.
Marsha tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Iya ... sekali-kali," balasnya.
Abraham pun menghela nafas dan kemudian melanjutkan untuk membuka kotak kedua. Namun, begitu koda kedua terbuka, masih ada di dalam satu kotak dengan ukuran yang lebih keci. Feeling Abraham seketika merasa tidak enak, tetapi dia melanjutkan untuk membuka kotak ketiga. Betapa terkejutnya Abraham mendapatkan kado yang di dalamnya adalah benda pipih itu.
"Pregnant?"
Tanya Abraham dengan raut wajah terkejut dan meminta kepastian kepada istrinya.
"Ya, i am pregnant," balas Marsha dengan mengusapi perutnya sendiri.
Ah, betapa bahagianya Abraham kala itu. Dia sungguh tidak menyangka bahwa istrinya akan memberikannya kejutan di hari ulang tahunnya. Abraham pun menghambur dan memeluk Marsha.
"Ya Tuhan ... sejak kapan Shayang?" tanyanya dengan masih memeluk Marsha.
"Sepekan," balas Marsha dengan tertawa.
"Ya ampun ... kenapa baru ngasih tahu sekarang. Akhirnya, doa kita dijawab Tuhan. Mira akan memiliki adik. Kita juga akan kembali memiliki baby. Terima kasih untuk kado yang sangat indah ini Shayangku!"
__ADS_1