Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Mendatangi Abraham


__ADS_3

"Hancurkan Marsha, dan aku akan berubah menjadi pria yang lebih baik untukmu," ucap Melvin yang seakan memberikan perintah kepada Lista.


"Tidak bisa Vin ... seorang wanita tidak akan menghancurkan kehidupan wanita lain. Bahkan Marsha sudah menemukan kebahagiaannya dengan Abraham. Jangan kamu mengusiknya," balas Lista kini.


Bukan berniat membela Marsha, tetapi sebagai seorang wanita, Marsha justru senang karena pada akhirnya Marsha bisa terlepas dari jeratan seorang Melvin Andrian. Seorang istri yang tersakiti, sampai akhirnya menemukan cinta pada sosok pria lain.


"Omong kosong apa ini, Lista. Kenapa sekarang kamu justru membela Marsha?" tanya Melvin kepada Lista.


"Aku tidak membelanya, hanya saja bukankah kamu bilang bahwa Abraham itu Kakak tiri kamu. Itu, berarti Marsha adalah Kakak iparmu sekarang. Lupakan dia, kejar kebahagiaanmu sendiri," balas Lista.


Ya, beberapa hari yang lalu, Melvin pernah bercerita kepada Lista bahwa Abraham adalah kakak tirinya sendiri. Pria yang selama ini dia anggap rival dan begitu dia benci rupanya adalah kakak tirinya. Mereka lahir dari satu Ayah dan berbeda ibu. Untuk itu, Lista mengingatkan kepada Melvin untuk bertindak terlampau nekad.


"Baiklah, jika kamu tidak mau, aku yang akan bertindak sendiri," balas Melvin.


Pria itu akhirnya segera memakai kembali busananya, dan meninggalkan Lista begitu saja. Begitu kesal dengan Lista yang seakrang justru terkesan membela Abraham dan Marsha. Tujuannya untuk menghancurkan Marsha nyatanya gagal karena partner yang ingin dia ajak kerja sama lebih memilih untuk menyerah dan tidak mengganggu Marsha dan Abraham.


"Aku bisa menghancurkan kalian berdua dengan tanganku sendiri. Aku seorang Melvin Andrian yang memiliki kekuasaan. Apa pun bisa kulakukan!"


Melvin keluar dari kamar hotel itu dengan kebencian yang sudah memenuhi hatinya dan menggelapkan matanya. Untuk mencapai apa yang dia inginkan, bahkan Melvin siap bertindak dengan tangannya sendiri.


***


Keesokan harinya ....

__ADS_1


Dengan sengaja siang itu Melvin mencari tahu di mana alamat studio foto milik Abraham. Tentu tujuannya datang ke studio foto itu adalah untuk mengganggu Abraham di sana. Melvin sudah sampai kepada keputusannya untuk menghancurkan Abraham. Kebencian yang lebih mendominasi, sehingga Melvin tidak suka melihat kakak tirinya itu berbahagia.


Sehingga Melvin ingin mengoyak bahtera rumah tangga Abraham dan Marsha. Melihat Abraham dan Marsha menderita adalah kebahagiaan tersendiri bagi Melvin. Rasanya memang aneh, tetapi bagaimana memang kebahagiaannya bisa didapat dari orang-orang menderita.


"Saya mau bertemu Abraham," ucap Melvin begitu memasuki studio foto milik Abraham.


Melvin pun diantar menuju ruangan Abraham di lantai dua. Ya, di studio foto itu ada ruangan khusus untuk Abraham. Di ruangan itu Abraham sering menggunakannya untuk mengedit foto-foto yang masuk. Sekaligus dia melakukan QC (Quality Controll) untuk semua foto yang pada akhirnya akan dicetak. Dengan Melvin menaiki anak tangga yang mengantarkannya ke lantai dua. Dia cukup heran dengan studio foto milik Abraham yang maju, dan pelanggan di bawah pun cukup banyak. Mungkin karena alasan itulah, mendiang Papa Wisesa memberikan sebuah perusahaan publishing kepada Abraham.


"Mas Abraham ada yang mencari," ucap karyawan Abraham yang mengantar Melvin sampai ke ruangan Abraham itu.


Abraham cukup terkejut melihat siapa orang yang datang menemuinya. Tidak menyangka bahwa Melvin akan datang menyambanginya.


"Wow, jadi ini studio foto milikmu itu. Lumayan ... pantas saja Papa memberikan perusahaan publishing kepadamu," ucap Melvin dengan tersenyum tipis.


"Katakan saja, untuk apa kamu ke mari?" tanya Abraham.


"Kamu bisa mengembangkan studio fotomu ini dengan kucuran dana dari Deposito Papa. Jadi, tidakkah kamu berniat untuk mengembangkan sayap perusahaanmu ini?" tanya Melvin kemudian.


Abraham menggelengkan kepalanya, "Aku tidak berniat. Aku tidak serakah seperti apa yang kamu terka," balas Abraham.


Ya, tujuan hidupnya bukan untuk bergelimang harta. Toh, hidup bahagia dan sejahtera adalah hal yang Abraham cari. Harta duniawi sifatnya hanya sementara. Namun, kebahagiaan di dalam hati itu yang akan bertahan lama.


“Munafik,” sahut Melvin.

__ADS_1


Abraham hanya mengedikkan bahunya, “Katakan untuk apa kamu ke mari?” tanya Abraham.


“Aku ingin menawarkan sesuatu yang menarik kepadamu,” balas Melvin kemudian.


Akan tetapi, sekali-kali Abraham tak akan silau. Sebab, dia tahu sesuatu yang menarik justru penuh jebakan di dalamnya. Terlebih ketika Melvin yang menawarkannya, hati tak menginginkan apa pun.


“Tidak perlu berbasa-basi, katakan sekarang,” balas Abraham. Baginya lebih cepat Melvin menyampaikan maksud dan tujuannya jauh lebih baik.


“Sebagaimana surat wasiat dari Papa. Aku akan setuju memberikan semua yang tertulis dalam surat wasiat itu apa yang Papa putuskan untukmu dengan satu syarat,” balas Melvin.


Ya, di dalam otaknya Melvin sudah menyusun rencana sedemikian rupa. Dengan tidak maunya Lista membantunya, maka sekarang Melvin akan datang sendiri dan menawarkan sesuatu kepada Abraham.


"Semua tabungan dan deposito dari Papa, serta perusahaan publishing akan aku berikan padamu, bahkan separuh warisan milikku akan aku berikan kepadamu, dengan satu syarat. Syarat itu adalah ... tinggalkan Marsha. Selama ini kamu hidup menderita bukan? Selama ini kamu hidup tidak bergelimang harta bukan? Cukup wanita itu dan kamu akan mendapatkan semuanya. Penawaran yang menarik bukan?"


Melvin menyeringai, dia sangat percaya bahwa Abraham akan lebih memilih harta daripada Marsha. Untuk itu, Melvin bahkan akan memberikan separuh warisannya kepada Abraham.


Namun Abraham hanya tersenyum dan menatap tajam kepada Melvin, "Kamu salah ... walaupun aku hidup tanpa harta berlimpah, tetapi aku sadar bahwa kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan harta duniawi. Sementara, aku sangat tahu bahwa kebahagiaanku ada bersama Marsha. Untuk itu, aku tidak akan menggantikan Marsha dengan apa pun. Bahkan untuk mempertahankan Marsha, aku rela kehilangan apa pun," jawab Abraham.


Melvin mendecih, baginya ucapan Abraham adalah omong kosong belaka. Sebab, Melvin tahu semua orang menyuka harta dan kekayaan.


"Omong kosong, andai semua yang kamu miliki terambil darimu. Belum tentu juga Marsha mau sama kamu," balas Melvin.


Melvin masih pada pemikirannya bahwa semua orang menginginkan harta dan ingin hidup melimpah. Bahkan omongan Abraham hanya omong kosong saja bagi Melvin. Dia sangat yakin jika Abraham dalam kondisi nol dan tidak memiliki apa-apa, sudah pasti Marsha pun tidak akan mau berada di samping Abraham.

__ADS_1


__ADS_2