Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Pelukan Hangat Seorang Istri


__ADS_3

Usai mengobrol dengan Mama Diah dengan cukup lama, Marsha dan Abraham pun kembali ke dalam kamarnya. Keduanya masih duduk di atas ranjang dengan bersandar di head board ranjangnya. Marsha menolehkan wajahnya dan melihat ke arah suaminya. Merasa diperhatikan oleh Marsha, Abraham pun bertanya-tanya kenapa istrinya itu melihatnya terus-menerus.


“Kamu kenapa lihatin aku terus coba?” tanya Abraham dengan balik menatap wajah Marsha.


“Enggak … rasanya aku makin cinta sama kamu,” balas Marsha.


Mungkin bagi orang yang mendengarnya jawaban Marsha itu terbilang absurb. Ketika Abraham bertanya apa, justru Marsha menjawabnya dengan rasa cintanya yang bertambah besar untuk suaminya itu. Abraham pun tersenyum mendengar jawaban dari Marsha itu.


“Kenapa, kok bisa?” tanya Abraham lagi.


Ada gelengan samar dari kepala Marsha, “Enggak … aku cuma mau bilang bahwa kamu itu hebat, Mas … sangat hebat. Mendengar bagaimana masa kecilmu, aku tahu bahwa kamu adalah pria yang hebat. Mas, mau enggak berjanji?” tanya Marsha kemudian.


Abraham menatap wajah Marsha, seolah bertanya-tanya, janji apa Marsha minta kepadanya. “Kamu ingin aku berjanji untuk apa, Shayang?” tanya Abraham.


“Janji yah, kalau kamu merasa apa-apa, ingin membagi luka di hatimu … ingin membagi perasaanmu, kamu harus mencariku,” pinta Marsha.


Jikalau Abraham adalah seorang introvert dan sukar membagi bagaimana perasaannya, atau ada luka di hatinya yang belum beres. Marsha meminta kepada suaminya itu untuk bisa membagi apa pun bersamanya. Luka batin itu harus disembuhkan, dan Marsha mau menampung semua luka suaminya dengan cara mendengarkan kisah dari suaminya itu.


Abraham pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya secara samar, “Iya … aku janji. Memangnya pernah aku tidak berbagi apa pun denganmu?” balas Abraham.

__ADS_1


“Banyak … aku justru tahu sisi-sisi lain darimu dari Mama. Padahal aku dikit-dikit saja cerita sama kamu, jadi … kamu juga bisa dong berbagi sama aku?” balas Marsha.


“Iya-iya … makasih banget Istriku. Hidupku gini-gini saja, Shayang … sebatas di studio dan tidak ada yang lain. Jadi, ya begini … aku justru lebih seneng mendengarkan kamu. Ibu hamil itu perlu didengar, perlu disayang, biar menyambut hari persalinan nanti semakin siap dan tidak stress.”


Jawaban yang logis dari Abraham, dia hanya merasa bahwa aktivitasnya cuma sebatas di unit apartemen dan di studio foto miliknya saja. Untuk mengambil job di luar kota memang Abraham tolak dan lebih menyuruh staf lainnya untuk mengambil job di luar kota. Setelah menikah dengan Marsha, banyak yang berubah dalam diri Abraham.


“Ya, cuma … pernikahan itu menyangkut dua orang Mas … jangan cuma aku yang didengarkan, tetapi aku juga mau mendengarkan kamu. Jika, hanya mendengarkan aku, suaramu, isi hati, dan gelombang di kepala kamu tidak akan bisa ku dengar. Jadi, bagi yah dengan aku. Aku yang meminta. Aku yang memaksa,” balas Marsha.


Seyogyanya menjalani kehidupan pernikahan adalah menyangkut dua orang. Suami dan Istri, di mana keduanya akan bekerja untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang saling berbahagia. Suami bahagia, istri pun bahagia. Suami bisa didengarkan, dan istri juga mau mendengarkan. Jika, rumah tangga dan hanya memprioritas satu saja, sudah pasti kebahagiaan yang terjalin pun tidak akan bertahan lama.


“Iya-iya, Shayangku … makasih ya kamu baik banget,” balas Abraham.


Sementara ketika Abraham memeluknya, dengan otomatis tangan Marsha menyambutnya, dan kini memberikan usapan di kepala Abraham. “Dulu, aku merasa aku menjadi anak yang paling tersakiti saat Mama dan Papaku memutuskan bercerai. Rupanya, masih ada anak lain yang tidak beruntung dariku, anak yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari Papanya. Kenangan dari Papanya pun tidak punya. Kamu hebat, Mas … di saat kamu rapuh, justru kamu menguatkan aku yang dulu sering kali mewek dan terlukai oleh perceraian orang tuaku. Kamu kuat, Mas … tetapi, sekarang jangan merasa kuat. Bagi semuanya dengan aku yah. Aku siap mendengarkan kamu kapan pun. Aku akan berdiri di garda terdepan untuk kamu,” ucap Marsha dengan sungguh-sungguh.


Di dalam pelukan Marsha, disertai usapan yang lembut di kepalanya, Abraham memejamkan matanya. Dia memang jarang mengutarakan isi hatinya. Hanya saja, untuk masalah perasaannya dengan Marsha, Abraham bisa mengutarakannya bahkan Abraham tak segan untuk mendapatkan Marsha lagi. Yang dikatakan Marsha sepenuhnya benar, apa pun itu Abraham bisa membaginya dengan Marsha. Saling mendengarkan, saling memberikan penguatan untuk satu sama lain. Itulah komunikasi dalam berumahtangga.


“Makasih Shayang … makasih banyak. Aku cinta kamu, sangat cinta kamu,” ucap Abraham dengan kian membenamkan wajahnya di dada Marsha.


“Aku juga cinta kamu, Mas … suamiku, Papa dari anakku. Aku cinta kamu,” balas Marsha.

__ADS_1


Keduanya pun sama-sama berpelukan untuk sesaat, Abraham yang memilih meresapi momen itu dengan memeluk erat istrinya, dan juga Marsha yang memilih diam karena memberikan waktu juga untuk Abraham.


Kemudian Abraham mengurai pelukannya, pria itu menegakkan punggungnya dan beralih menatap Marsha, “Shayang … boleh aku minta sesuatu?” tanya Abraham.


“Hmm, minta apa?” tanya Marsha.


Abraham sedikit tersenyum, dan kemudian menatap Marsha, “Minta kamu malam ini … boleh?” tanya Abraham lagi.


“Sekarang? Malam ini?” tanya Marsha kepada suaminya.


Abraham dengan cepat menganggukkan kepalanya, “Iya, malam ini … kita berdua.”


“Ada Mama, Mas … gak enak, sungkan,” balas Marsha.


Abraham lantas beringsut, “Kan Mama di kamar yang lain. Kalau kamu tidak menjerit-jerit, aman kok,” balas Abraham dengan tersenyum nakal kepada istrinya itu.


“Besok saja yah,” balas Marsha.


Abraham pun akhirnya menganggukkan kepalanya, “Ya sudah baiklah … tidur saja ya sekarang,” balas Abraham.

__ADS_1


Pria itu juga tidak mau memaksa Marsha begitu saja, Abraham bahkan membantu Marsha untuk berbaring, kemudian menyelimuti tubuh istrinya itu, sementara Abraham juga memilih langsung berbaring dan memejamkan matanya.


__ADS_2