Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Kedatangan Teman Tiba-Tiba


__ADS_3

Dengan suasana hati yang begitu kalut, akhirnya Marsha memilih untuk pergi dari rumah. Mungkin dengan berjalan-jalan sejenak di taman kota dan menghirup udara segar bisa membuat Marsha sejenak menenangkan pikirannya dan juga hatinya. Wanita itu pun pergi sendirian dengan mengendarai mobilnya, menuju taman kota yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.


Menuju tempat parkir, kemudian Marsha mengenakan masker dan berjalan-jalan di area taman kota tersebut. Menghirup udara segar, merasakan terpaan angin yang membuai wajahnya, dan melihat beberapa orang yang berada di taman kota justru menyadarkan Marsha bahwa di kota yang besar ini dirinya bisa dikatakan tidak memiliki siapa pun. Jika dengan Nania, hubungannya hanya sebatas profesional bekerja, sementara dengan Melvin, pria itu nyaris sama sekali tidak memiliki waktu untuknya. Sementara, teman-teman Marsha semuanya berada di Semarang. Sehingga, praktis di kota sebesar itu sama sekali Marsha tidak memiliki teman yang benar-benar dekat dengannya.


Sekarang, Marsha memilih duduk di bangku taman yang berada di depan kolam. Sendirian di taman yang besar ini, tanpa ada orang yang ada menemaninya. Akan tetapi, memang terkadang Marsha memilih untuk mengunjungi taman kota daripada harus berjalan-jalan di pusat perbelanjaan.


Saat Marsha sedang duduk termenung, kemudian Marsha merasakan kehadiran seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


“Marsha, itu kamu kan?” sapa seseorang yang duduk di samping Marsha.


Perlahan Marsha pun menoleh, dan melihat siapa orang yang kini duduk di sampingnya itu.


“Bram?” tanya Marsha dengan cukup kaget.

__ADS_1


Bagaimana bisa sekarang Marsha justru sering bertemu dengan mantan pacarnya itu secara kebetulan. Bagaimana bisa juga bahwa di taman kota pun Marsha bisa bertemu dengan Abraham.


“Iya Sha, ini aku … kamu sendirian saja?” tanya Abraham.


Memang itu adalah pertanyaan yang retoris, karena pada kenyataannya di tempat itu Marsha memang hanya sendirian. Tidak ada seorang teman yang menemaninya. Namun, untuk berbasa-basi dan membangun komunikasi, Abraham pun bertanya demikian.


“Iya, aku sendirian,” sahut Marsha.


Abraham lantas menghela nafas dan kemudian menatap wajah Marsha dari tempatnya duduk sekarang ini.


“Aku terbiasa sendirian,” balas Marsha.


Kemudian Abraham kembali melihat Marsha, “Jika kamu membutuhkan seorang teman, aku bisa menemanimu, Sha … kan kamu juga memiliki nomorku, telepon saja aku,” balas Abraham.

__ADS_1


Dari dalam masker yang dia kenakan, Marsha pun tersenyum dengan getir. Rasanya kenapa justru Abraham yang selalu ada dengannya dan juga menawarkan diri untuk selalu menemaninya.


“Mau aku belikan Americano?” tanya Abraham kini kepada Marsha.


Wanita itu semula diam, dan kemudian berpikir haruskah dirinya menerima tawaran dari Abraham. Akan tetapi, belum juga Marsha menjawab rupanya Abraham terlebih dahulu berdiri, pria itu kemudian mengulurkan tangan kanannya kepada Marsha.


“Yuk, ikut aku,” ucap Abraham.


Merasa bahwa Marsha diam dan tidak menautkan tangannya kepadanya, seolah Abraham berusaha melewati batasnya, pria itu menggerakkan tangannya dan meraih tangan Marsha dan kemudian menggenggamnya.


“Ikut aku, Sha,” ucap Abraham lagi.


Mau tidak mau, Marsha pun berdiri dan membiarkan Abraham yang menggenggam tangannya. Marsha berjalan sembari menatap tangannya dan tangan Abraham yang saling bertaut. Kenapa rasanya kehangatan tangan Abraham justru mampu menggetarkan hatinya. Tangan yang kokoh dan juga hangat, genggaman tangan yang seperti ini yang tidak dia dapatkan dari suaminya.

__ADS_1


Marsha berjalan dengan menggigit bibir bagian dalamnya, “Ya Tuhan, kenapa hasrat ini seakan kembali memercik. Kenapa juga selalu harus dengan Abraham?” gumam Marsha dengan perasaan hati yang begitu berkecamuk saat ini.


__ADS_2