
Sore harinya, Melvin dan Marsha kini tengah berjalan-jalan menikmati sore di taman yang ada di rumahnya. Sebatas menikmati udara segar dengan angin semilir yang bertiup sore itu.
“Gabut enggak Yang?” tanya Marsha kepada suaminya.
“Enggaklah … justru seneng bisa seharian sama kamu,” balas Melvin.
Marsha pikir suaminya itu akan merasakan gabut karena seharian berada di rumah. Biasanya, Melvin akan menghabiskan waktu di lokasi syuting. Menghafalkan dialog dan juga berakting di depan arahan Sutradara. Sekarang, seharian berada di rumah mungkin bisa akan membuat pria itu gabut.
Marsha menghela nafas dan sekilas menoleh ke arah Melvin, “Oh, aku pikir kamu akan gabut. Enggak biasanya kan seharian berada di rumah,” balas Marsha.
Ada Melvin yang secara samar menganggukkan kepalanya, “Iya, benar … cuma ya tidak ada salahnya juga memberi waktu untukmu, untuk kita,” balas Melvin.
Memberikan waktu untuk kita? Mendengar perkataan Melvin justru membuat Marsha mengernyitkan keningnya. Apakah itu sebuah kesungguhan? Atau hanya ucapan manis belaka.
“Yang, boleh aku berbicara,” ucap Melvin kali ini kepada Marsha.
Marsha yang semula berjalan, perlahan menghentikan langkahnya, dan kemudian menatap suaminya itu.
“Bicara apa?” tanya Marsha kepada suaminya itu.
“Begini … bulan depan aku ada mini series baru, di situ aku akan berperan sebagai seorang suami. Terus, akan ada adegan dewasa antara aku dan aktris pendampingku. Jadi, aku minta izin untuk kontak fisik dengannya yah?” izin Melvin kali ini kepada Marsha.
Sebenarnya ini bukan hal yang baru bagi Marsha. Berkali-kali, Melvin juga selalu meminta izin terlebih dahulu kepadanya saat hendak beradegan yang melibatkan kontak fisik dengan lawan jenisnya. Setidaknya Melvin pun tahu bahwa istrinya akan mengetahui sejauh apa adegannya nanti.
“Kontak fisik yang sejauh apa?” tanya Marsha kepada suaminya.
“Ya biasanya Yang … pelukan, ciuman, dan nanti ada sedikit di ranjang,” jelas Melvin.
Walaupun tidak menjelaskannya secara gamblang, tetapi paling tidak Marsha tahu apa sejauh apa adegan yang melibatkan kontak fisik itu. Jikalau dulu, Marsha takut jika dalam berakting, suaminya akan tergoda, tetapi bagaimana lagi jika itu adalah tuntutan akting dan harus dilakukan dengan baik.
__ADS_1
“Hot enggak?” tanya Marsha kemudian kepada suaminya itu.
“Lumayan sih Yang … karena pengantin baru ceritanya nanti. Jadi ya kamu tahu sendiri lah,” jawabnya.
Marsha tampak menghela nafas dan menimbang-nimbang dalam hatinya. Sekalipun dia tidak mengizinkan tetap saja syuting akan terus berjalan. Sekalipun dia menolak, tetap saja Melvin akan berakting dan melakukan adegan demi adegan itu.
“Baiklah,” jawab Marsha pada akhirnya.
Melvin kemudian mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Marsha, “Cuma akting kok Yang … gak akan lebih,” ucapnya.
“Kalau kebablasan gimana?” tanya Marsha.
Bagi Marsha itu hanyalah sebatas pertanyaan jebakan karena memang dia ingin mendengar respons yang Melvin berikan kepadanya.
“Enggaklah … berakting kan juga harus profesional,” balas Melvin.
“Nanti kamu lihat saja kalau mini seriesnya sudah tayang … jadi, kamu bisa menilai sendiri,” ucap Melvin kepada Marsha.
Marsha hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya sebagai seorang istri dia sangat tidak ingin suaminya dipegang, diraba, dipeluk, bahkan dicium oleh wanita lain. Akan tetapi, memang tuntutan akting harus seperti itu, jadi mau tidak mau harus dilakukan.
“Iya,” sahut Marsha dengan singkat.
Kemudian Marsha memilih untuk duduk di bangku taman yang ada di serambi rumah itu. Sekadar diam, dan mengurai perasaannya, memikirkan biduk rumah tangganya bersama dengan Melvin.
“Kenapa Yang? Kok kelihatannya kamu enggak ikhlas gitu,” tanya Melvin yang rupanya sedari tadi cukup mengamati wajah Marsha.
“Enggak … enggak apa-apa kok,” alibi Marsha kali ini kepada Melvin.
Marsha sadar itu adalah sebuah alibi karena memang hatinya begitu kalut saat ini. Seharian bersama dengan Melvin itu rasanya begitu biasa saja untuknya. Tidak ada lagi perasaan bahagia karena bisa menghabiskan sepanjang waktu bersama suaminya.
__ADS_1
“Kalau ada apa-apa tuh cerita … kayak aku yang apa-apa cerita sama kamu, termasuk meminta izin untuk kontak fisik dengan lawanku,” balas Melvin.
Memang beberapa hal Melvin adalah sosok yang terbuka dengan Marsha. Terkhusus untuk masalah pekerjaan, Melvin bisa mengutarakan apa yang akan menjadi projeknya bersama dengan Marsha. Ya, walaupun hanya sebatas meminta izin untuk melakukan kontak fisik dengan lawan mainnya.
Sementara Marsha sendiri adalah wanita yang sifatnya lebih introvert. Sehingga Marsha juga sukar untuk menyampaikan isi hatinya. Terlebih dengan hari-hari yang sudah sering kali dia laluin sendiri, membuat Marsha menjadi pribadi yang kian tertutup.
“Iya … cuma gak ada apa-apa kok. Tenang saja,” balas Marsha.
“Aku tuh kadang merasa bersalah sama kamu karena aku sangat sibuk sampai tidak punya waktu untuk kamu. Maka dari itu, aku bela-belain ambil cuti satu hari biar bisa menghabiskan waktu bersama dengan kamu. Bisa dengar cerita kamu. Soalnya, kalau menghabiskan waktu sehari di atas ranjang saja pasti kamu juga protes,” ucap Melvin sekarang ini kepada Marsha.
“Apaan sih, Yang … emang enggak ada yang dibahas selain ranjang?” protes Marsha kali ini kepada suaminya.
Membahas kegiatan panas di ranjang bersama Melvin agaknya membuat Marsha begitu sensitif. Mengapa suaminya itu selalu berpikir bahwa kegiatan yang bisa dilalui pasangan suami dan istri tidak jauh-jauh dari ranjang. Padahal banyak kegiatan yang dilakukan suami dan istri bersama. Bahkan acara mencuci baju, menjemur pakaian pun bisa menjadi kegiatan yang romantis karena dilakukan bersama-sama.
“Tuh, marah lagi kan … kenapa sih Yang? Kamu mau datang bulan yah?” tanya Melvin kali ini.
Marsha menghela nafas, berusaha meredam emosinya sendiri. Sebab, sangat mungkin bahwa dirinya akan meledak sekarang. Akan tetapi, Marsha memilih diam dan beberapa kali memejamkan matanya supaya tidak meledak-ledak. Lagipula, suaminya hanya cuti satu hari, masak dirinya harus ngambek dan marah-marah.
“Please Yang … banyak yang bisa dibicarakan antara suami dan istri. Tidak melulu kegiatan di ranjang,” balas Marsha.
Menyadari bahwa mungki saja dirinya sudah salah, Melvin kemudian kembali menggenggam tangan Marsha di sana.
“Sudah-sudah … sorry. Aku gak akan mengulangi lagi,” balas Melvin kali ini.
Sekarang setidaknya Melvin juga sudah tahu bahwa mood dan suasana hati Marsha sedang tidak baik-baik saja. Untuk itu, Melvin memilih untuk mengalah. Sebab, Melvin pun juga tidak ingin cuti sehari justru berakhir dengan pertengkaran dan adu mulut antara dirinya dengan Marsha seperti yang sudah-sudah.
“Baiklah Yang … intinya aku sudah bilang untuk projek mini series aku yah. Aku juga sudah minta izin kepadamu untuk melihatnya saat tayang nanti. Udah, itu saja. Jangan ngambek lagi. Masak suaminya di rumah cuma satu hari, kamunya malahan ngambekan terus,” ucap Melvin kali kepada Marsha.
Yang pasti niatnya untuk meminta izin kepada Marsha sudah tersampaikan. Apa pun adegan yang akan diambil saat proses syuting nanti, Melvin merasa lega karena sudah mengantongi izin dari Marsha. Selebihnya dia tinggal menghafalkan skrip dan berlatih untuk memperdalam karakternya di mini series terbarunya nanti.
__ADS_1