
Kerja sama ini akan menjadi kerja sama kesekian kalinya bagi kedua keluarga. Agaknya, memang Pak Belva dan Bu Sara begitu percaya dengan Marsha dan Abraham. Dulu, mereka memilih Marsha menjadi brand ambassador untuk Coffee Bay dan sekarang Bu Sara juga memilih Marsha untuk menjadi brand ambassador untuk produk skincarenya.
“Bu, nanti kalau wajah saya tidak menjual bagaimana?” tanya Marsha kepada Bu Sara.
“Tenang saja, Sha … yang penting BA-nya sih kamu. Aku percaya, kita akan berhasil kali ini. Mencoba pasar Nusantara dulu, dan nanti mengembangkan sayap ke Asia Tenggara,” balas Bu Sara.
Marsha pun membelalakkan kedua matanya, tidak mengira bahwa Bu Sara bisa membuat target begitu besar. Padahal terlihat Bu Sara yang lembut dan biasa saja, tetapi jika sudah terjun dalam dunia bisnis, Bu Sara adalah orang yang tidak setengah-tengah. Dia akan mengupayakan semua cara untuk bisa meraih apa yang bisa ditargetkan.
“Bu Sara keren banget sih. Kok bisa mendapatkan ide-ide spektakuler seperti itu,” balas Marsha yang benar-benar kagum dengan Bu Sara.
“Iya, sekarang orang-orang itu suka skincare, Sha … makanya aku mau mencoba. Semoga saja beruntung. Sudah uji dermatologis juga kok, makanya kita harus lakukan branding campaign,” balas Bu Sara.
Abraham yang mendengarkan penjelasan dari Bu Sara pun turut menganggukkan kepalanya. Dalam benaknya, rasanya mustahil seorang yang katanya lulusan SMA begitu paham perihal bisnis dan bahkan Bu Sara tahu namanya branding campaign. Abraham harus mengangkat ibu jarinya untuk Bu Sara yang dinilainya tidak kalah hebat dari seorang Belva Agastya.
“Keren loh, Bu Sara bisa tahu branding campaign,” balas Abraham.
"Aku belajar otodidak sih Mas Bram ... aku membaca kalau ingin bisnis kita berhasil harus melakukan branding campaign atau marketing campaign. Tindakan yang terorganisir dan terencana yang sengaja dibuat untuk mencapai tujuan tertentu, dan tentunya dalam hal ini tujuannya pertama meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa ada skincare baru yang uji dermatologisnya baik dan memberikan hasil yang baik pula sehingga akan mendapat feedback dari pelanggan. Kalau sudah ada feedback, kita kan bisa berbenah, membenahi mana yang kurang."
Bu Sara menjelaskan pemahamannya secara sederhana mengenai Branding Campaign yang dia ketahui. Mungkin memang sederhana, tetapi Sara begitu yakin bahwa kunci bisnis yang berhasil adalah dengan melakukan Marketing Campaign.
"Diajarin Pak Belva ya Bu?" tanya Abraham kemudian.
Pak Belva pun dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Dia belajar sendiri, Bram ... aku justru tidak memberitahu dia. Diberitahu dan menemukan sendiri, jauh lebih bahagia dan puas ketika bisa menemukan sendiri, dan tentu aku bahagia karena istriku mau belajar," balas Belva.
"Benar Pak Belva ... tapi wow banget. Kita justru meeting nih dengan Bu CEO," balas Abraham.
Bu Sara pun terkekeh geli di sana, "Wah, saya mah bukan Bu CEO, Mas Bram ... hanya Ibu rumah tangga yang berusaha untuk menggapai mimpi," balasnya dengan tertawa.
__ADS_1
"Keren loh Bu ... saya aja tidak terpikirkan," balas Marsha kemudian.
Lagi Bu Sara tersenyum di sana, "Jadi gimana Sha? Mau yah ... kita sukses bersama-sama, Sha," balas Bu Sara kemudian.
"Bu Sara yakin dengan saya dan Mas Bram?" tanya Marsha.
"Sangat yakin ... kamu juga lihat Coffee Bay justru mendapatkan sambutan hangat di masyarakat begitu menggandeng kamu. Sampai sekarang Coffee Bay memiliki 400 gerai dalam waktu lima tahun," balas Sara.
Terlihat bahwa Bu Sara adalah orang yang meghargai mereka yang sudah berjuang bersamanya. Bahkan tak jarang, Bu Sara mengapreasi untuk kerja keras para karyawan yang sudah menyertainya dan sama-sama membesarkan Coffee Bay.
"Wow, luar biasa ... 400 gerai Bu?" tanya Marsha dengan membelalakkan kedua matanya.
"Iya ... 400 gerai dalam lima tahun, itu sedikit Sha, ada youtuber yang baru membuka gerai makanan dan minuman dalam setahun bisa membuka 200 gerai. Berarti grafik Coffee bay cukup lambat, cuma saya puas aja sih karena kita berdiri dengan memperhitungkan semuanya bahkan beberapa tempat juga berhasil ku beli, jadi tidak perlu membayar sewa tempat lagi," balas Sara.
"Luar biasa loh Bu Sara ... itu berarti aset tempat, tanah dan bangunan milik Bu Sara pun sudah hampir 400 gerai juga?" tanya Marsha.
Marsha kian kagum jadinya dengan strategi bisnis yang dimiliki oleh Bu Sara. Marsha pun tahu sendiri, per tahun Bu Sara pun menansfer sejumlah uang untuknya sebagai bayaran atas dirinya yang menjadi Brand Ambassador Coffee Bay dan nilainya termasuk besar.
"Baik Bu Sara ... tapi, tidak usah dibayar dulu saja Bu ... kalau sudah berhasil dan mendapatkan respons yang baik di pasaran, barulah dibayar," balas Marsha.
"Jangan begitu Marsha, setidaknya untuk biaya produksi kalian berdua. Abraham kan juga harus memotret kamu, peralatan, dan membuat iklan tentunya dengan grafik. Untuk logo dan juga semua untuk kemasan, akan kami percayakan kepada Abraham, kami akan membayar setiap tahunnya sebagai royalti," balas Belva kemudian.
Bu Sara menganggukkan kepalanya, "Benar, Sha ... kalau gagal pun tidak masalah, setidaknya aku berani mencoba hal baru. Untuk branding juga butuh waktu. Kalian bisa dukung saya yah," balas Bu Sara.
Abraham tampak menghela nafas, "Jadi, Logo dan semua kemasan nanti saya juga Bu Sara?" tanya Abraham dengan bingung.
"Tentu Mas Bram ... nanti Mas Bram bisa milih mau dibayar Rupiah atau Dollar. Bentuk deposito pun tidak masalah," balas Bu Sara.
__ADS_1
Abraham benar-benar tidak menyangka akan dipercaya sebesar ini. Padahal Abraham pun tahu bahwa membuat logo suatu brand itu tidak mudah, perlu mengenal sisi filosofis dan juga pesan yang hendak disampaikan dari brand tersebut. Oleh karena itu, bayaran untuk satu logo brand saja bisa begitu mahal.
"Aduh Bu ... kok saya takut kalau hasilnya buruk dan tidak sesuai ekspektasi," balas Abraham.
Sara dan Belva sama-sama menggelengkan kepalanya, "Justru kami percaya banget sama Mas Bram ... jadi nanti Mas Bram bisa buat logo dan teaser kemasan yah, kirim WA aja ke Mas Belva," balas Bu Sara.
Cukup lama mereka berbincang-bincang dan membahas untuk proyek skincare yang hendak dikembangkan Bu Sara ini, hingga akhirnya Bu Sara, Pak Belva, serta Evan dan Elkan berpamitan karena hari juga sudah malam.
Setelah tetangga mereka pulang, Marsha pun menidurkan Mira terlebih dahulu. Rupanya bermain dengan Evan dan Elkan membuat Mira terlihat lelah, sehingga tidak membutuhkan waktu lama, Mira sudah tertidur. Lantas, Marsha memasuki kamarnya perlahan-lahan.
"Baru ngapain Mas?" tanya Marsha kemudian.
"Mikir saja, Yang ... kepikiran logo Sava Beauty Care akan seperti apa," balas Abraham.
"Sudah kepikiran ya Mas," balas Marsha dengan tersenyum.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Benar Shayang ... tidak ingin mengecewakan Bu Sara dan Pak Belva yang sudah percaya kepada kita. Aku enggak menyangka, Yang ... dulu aku menolak Tante Saras untuk membantu rumah produksinya, dan sekarang kita berdua dapat pekerjaan satu paket. Rasanya Allah bisa membukakan pintu berkat dari mana saja," balas Abraham.
"Benar Mas ... aku juga tidak nyangka. Bahkan tetangga terdekat bisa jadi saluran berkah dari Allah untuk kita ya Mas," balas Marsha.
Sungguh, mereka rasanya tidak menyangka. Ketika keduanya sama-sama sepakat tidak mengejar harta duniawi dengan berlebihan, kini justru ada pintu berkah yang dibukakan untuk mereka berdua. Bahkan mereka akan mendapatkan pekerjaan satu paket.
"Terharu sama kebaikan Allah ya Mas," balas Marsha.
"Banget Shayang ... di saat kita ikhlas dan tidak silau dengan harta milik mendiang Papaku, justru kita mendapatkan berkah yang begitu besar. Alhamdulillah banget," balas Abraham.
Ya, ini adalah berkah yang terlampau besar untuk keduanya. Di saat keduanya tidak menginginkan apa pun yang ditawarkan Mama Saraswati, Allah membukakan pintu berkah yang lain untuk mereka berdua.
__ADS_1