
Umumnya untuk persalinan memang ada dua metode yang bisa dipilih yaitu normal atau caesar. Sebelumnya, Marsha sudah pernah merasakan persalinan secara normal sebelumnya ketika melahirkan Mira. Kali ini, Abraham pun kembali menegaskan bahwa Marsha bisa memilih jenis persalinan sesuai denganĀ kenyamanan Marsha saja. Tidak mengharuskan harus normal atau Caesar.
"Setuju sama kamu sih, Bram ... senyamannya istri kita saja," ucap Pak Belva yang setuju dengan ucapan Abraham.
"Benar kan Bos ... kan yang merasakan sakit itu istri, yang penting saya akan selalu mendukung dan menemani Marsha saja. Apa pun yang terjadi, sudah pasti akan saya temani," balas Abraham dengan sungguh-sungguh.
Mama Diana yang mendengarkan Abraham dan Belva pun tertawa di sana, "Kalian ini kok bisa sama sih ... Papa-Papa muda yang sama, sayang istri," balas Mama Diah.
"Apa iya Ma?" tanya Belva kepada Mamanya.
"Iya, sama-sama sayang istri. Kamu yang sayang banget sama Sara, dan Abraham yang sayang banget kepada istrinya. Mantap deh," balas Mama Diana di sana.
"Iya Mama ... Marsha bersyukur," balas Marsha dengan menganggukkan kepalanya.
"Ya, sudah ... dilanjut yah. Saya ke kamar dulu, istirahat," pamit Mama Diana.
Kemudian Elkan sudah mengajak Mira bermain bersama, sementara Belva dan Sara masih berada di ruang itu. Tampak Marsha tersenyum melihat Belva yang menggendong bayi. Walau seorang CEO, rupanya Belva cukup bisa juga menggendong bayinya. Pun Bu Sara yang terlihat memberikan waktu untuk suaminay itu menggendong bayinya.
"Baru kali ini saya lihat Pak Belva gendong bayi," ucap Marsha.
"Dari Evan kecil, saya sudah menggendong Evan, Sha," balas Pak Belva.
"Benarkah?" Abraham giliran yang bertanya dan benarkah bahwa Mr. CEO itu sudah menggendong bayi sejak Evan masih kecil.
"Iya, benar ... dulu, saya mengurus Evan. Apalagi ketika Anin tiada, lebih banyak saya yang mengurus Evan," balasnya.
__ADS_1
"Wah, sudah teruji dan terbukti berarti ya Pak Belva," balas Marsha.
"Iya, ya setidaknya turut membantu istri dan tugas pengasuhan itu harusnya seimbang antara Mama dan Papa. Mungkin saya masih cuti. Fulltime untuk anak dan istri dulu," balas Pak Belva.
"Bu Sara ... melahirkan Caesar itu serem enggak?" tanyanya.
"Serem waktu melahirkan normal sih, Sha ... soalnya waktu normal itu kan lama yah, kesakitan menunggu proses pembukaan demi pembukaan, terus juga sakit jahitannya nyeri banget. Cuma kan, tergantung pilihan kita yah. Sebenarnya, mau normal atau Caesar sih sama saja, yang penting bayinya lahir dengan selamat dan juga ibunya. Sekarang sih, berpikirnya begitu saja, Sha," balas Bu Sara.
Kemudian Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Benar Bu ... saya sih setuju saja," balasnya.
"Benar Shayang, tanya ke Bu Sara dulu caesar itu bagaimana kan bisa sharing pengalaman dan mana yang sekiranya tidak terlalu sakit. Kalau sakit, aku juga kasihan sama kamu," balas Abraham.
"Serem kalau normal sih kalau aku, Bram ... tidak muda untuk melihat istri membuka kedua paha dan kemudian mengejan dengan sekuat tenaga. Itu luar biasa banget, aku nyaris muntah-muntah di dalam kamar tindakan. Cuma, aku tahan-tahan karena tidak mungkin muntah dan juga Sara butuh aku. Jadi, aku banyak menahan nafas dan setiap Sara mengejan aku seakan turut tarik nafas dan mengeluarkan. Luar biasa banget," cerita Pak Belva kemudian.
Abraham pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Benar Bos ... saya juga. Waktu persalinan Mira itu, luar biasa banget. Pengorbanan wanita sebesar itu. Kadang suami yang nakal dan melakukan kekerasan, sungguh minta dihadiahi bogem," balas Abraham.
Bu Sara pun yang mendengarkannya turut tertawa, "Setuju ya Bram ... pria memang begitu yah. Cuma aku sih bersyukur karena Mas Belva baik banget. Tidak pernah aneh-aneh dan mengangkat tangannya," balasnya.
"Saya juga kok Bu ... Mas Abraham juga baik banget," balas Marsha.
Para suami yang dipuji oleh istri-istri mereka pun tertawa dalam hatinya senang juga mendapatkan pujian dari istrinya dan juga merasa bangga karena mereka berhasil menjadi suami yang baik dan juga menjaga para istrinya.
"Sudah memujinya, kami bisa besar kepala loh," balas Pak Belva.
"Saya boleh gendong Baby Eiffel enggak nih?" Kali ini Marsha bertanya dulu apakah dirinya diperkenankan untuk menggendong bayi itu, karena Marsha juga tampak ingin menggendong bayi kecil itu.
__ADS_1
"Boleh," balas Sara dan Belva bersamaan.
Akhirnya, Pak Belva menyerahkan Eiffel kepada Marsha, kemudian Pak Belva tertawa lagi di sana, "Sayang, kamu kalau hamil kayak Marsha dan gendong bayi gitu, rekor ya Sayang ... lucu," ucap Pak Belva.
"Fotoin aja mereka bertiga Mas ... buat kenang-kenangan," balas Sara.
"Ya ampun, cantik banget," ucap Marsha sembari menatap wajah Eiffel dengan bibirnya yang kemerah-merahan.
"Akhirnya Bram, aku memiliki princess di rumah. Selama ini kan cuma Queen, akhirnya ...."
"Luar biasa ya Bos ... cuma kasihan nanti Pak, kakaknya cowok-cowok, bisa jadi cewek tomboy nanti," balas Abraham.
"Tenang kan ada Mira, kakaknya juga ... biar diajak main princess dan boneka sama Kakak Mira," balas Pak Belva.
"Boleh ... misal Pak Belva dan Bu Sara mau honeymoon lagi, Eiffel dititipkan di rumah kami saja," balas Marsha.
"Ah, enggak honeymoon lagi, bisa jadi yang keempat dong nanti," balas Sara.
Mereka yang ada di sana pun tertawa. Benar, jika bulan madu lagi, bisa saja akan ada benih keempat yang bersemi. Sementara untuk Sara sekarang merasa tiga anak sudah cukup. Evan, Elkan, dan Eiffel. Dengan ketiganya saja, rumahnya nanti akan ramai. Bisa mereka bayangkan saat lebaran, mereka akan berkumpul dan dengan anak, menantu, dan juga cucu mereka, sudah bisa dibayangkan bagaimana keturunan Agastya akan berlipat ganda.
"Mumpung masih muda Bu Sara?" balas Marsha.
"Enggak deh Marsha, cukup tiga saja ... iya kan Mas?" tanya Sara kepada suaminya.
"Ya, kalau aku sih pengennya punya anak banyak. Cuma kan, tergantung kamu saja Sayang ... berapa pun aku juga tidak masalah kok," balasnya.
__ADS_1
"Sudah, tiga aja ... tiga juga sudah banyak kok Mas," balasnya.
Marsha dan Abraham yang mendengarkannya pun tertawa. Namun, juga lucu bisa banyak sharing dengan keluarga Agastya, membuat mereka juga berbagi pengalaman tanpa harus menggurui satu sama lain.