Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Momen Emosional


__ADS_3

Di kamar yang tengah mereka siapkan untuk si baby, pasangan yang sebentar lagi menjadi Papa dan Mama itu saling berpelukan. Keduanya sama-sama diam, karena memang banyak inner child yang tertinggal dan melukai mereka. Sementara, untuk membuka lembaran yang baru, membutuhkan keberanian untuk menutup album lama.


“Aku tahu kamu adalah pria yang hebat … terlepas dari semua masa lalu kamu. I Love U,” ucap Marsha dengan masih memeluk Abraham dan membenamkan wajahnya di dada Abraham.


“Benarkah Shayang? Padahal aku juga berbuat salah kepadamu. Aku sengaja menghamili kamu untuk mendapatkanmu dan membuatmu sepenuhnya berada di sisiku,” balas Abraham.


Abraham berbicara fakta, bahwa mungkin dia terdengar culas, tetapi untuk mendapatkan Marsha, Abraham bahkan rela melepaskan keperjakaannya untuk Marsha. Marsha lah satu-satu wanita yang pertama bagi Abraham. Tidak perlu Abraham melakukan hubungan seperti itu dengan wanita lain.


“Aku menganggap itu sebagai hasil usahamu, Mas … sudahlah, sekarang yang penting kita berdua sudah bersama. Sudah berdua, dan lembaran baru tidak lama lagi akan kita rasakan. Tangisan bayi akan menggema di apartemen ini,” ucap Marsha.


Membayangkan saja untuk segera memiliki bayi membuat Marsha benar-benar bahagia. Hanya menunggu tidak lama lagi dan bayi kecilnya yang masih tidak mereka ketahui jenis kelaminnya itu akan lahir.


“Aku ingin pindah dari apartemen ini tidak Shayang? Kita bisa jual apartemen ini dan membeli perumahan. Ya, mungkin tinggal menambah saja sisanya,” tanya Abraham kepada Marsha.


“Tidak perlu … di sini pun tidak masalah kok Mas,” sahut Marsha.


“Di ruang sepetak ini tidak apa-apa untuk baby kita?” tanya Abraham lagi.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, “Iya, tidak apa-apa. Nanti saja kalau tabungan kita sudah cukup, kita cari perumahan. Kecil dan sederhana tidak apa-apa. Yang penting kita bisa selalu bersama,” balas Marsha.


Abraham tersenyum, memiliki Marsha dalam hidupnya tak ubahnya sebuah anugerah yang dia rasakan sepanjang hari. Istri yang cantik, pengertian, dan bisa memahami keadaannya. Abraham tahu kekayaannya tidak seberapa, tetapi Marsha begitu pengertian padanya. Jumlah bulanan yang Abraham berikan untuk Marsha juga ada kalanya naik dan turun, tetapi Marsha juga tidak protes. Justru, Marsha bisa menabung dari uang bulanan yang diberikan oleh suaminya.


“Makasih Shayang,” balas Abraham dengan singkat.


Rasanya ketenangan dan kelegaan di dalam hati kini benar-benar membuat Abraham merasa tenang. Rasa emosional karena obrolannya dengan Marsha benar-benar membuat Abraham banyak berpikir banyak hal terutama untuk menjadi pasangan orang tua yang baik untuk babynya nanti.


Marsha menengadahkan wajahnya, sedikit berjinjit, dan kemudian Marsha membawa bibirnya untuk mengecup bibir suaminya itu. Hanya satu kecupan, dan Marsha menarik kembali wajahnya dengan pandangan mata yang tertuju sepenuhnya hanya pada Abraham.


“Untuk si baby yang tidak lama lagi akan melengkapi kebersamaan kita. Aku sepenuhnya yakin bahwa kamu adalah Ayah yang baik. Kamu akan menjadi Ayah yang hebat untuk baby kita,” ucap Marsha.


Abraham yang menatap Marsha, menghela nafas. Pria itu berkaca-kaca sekarang, tidak mengira bahwa istrinya itu akan menguatkannya hingga sedemikian rupa. Abraham menundukkan wajahnya, dan kini pria itu melabuhkan kecupan demi kecupan di bibir Marsha. Abraham menahan tengkuk Marsha, dan kemudian membuka bibirnya untuk memberikan hisapan di lipatan bawah bibir Marsha dengan pagutan yang lembut. Sebab, satu kecupan saja yang Marsha berikan untuknya harus dibalas dengan beribu kali ciuman yang lembut.


Kedua mata Abraham perlahan terpejam, pria itu memiringkan wajahnya, dan mulai memagut bibir Marsha. Merasakan semua kehangatan, semua rasa manis, yang begitu memabukkan untuknya. Abraham menarik wajahnya, kelopak matanya pun terbuka. Pria itu kemudian berlutu, melingkari perut Marsha yang sudah begitu membuncit, dan mengecupi perut itu berkali-kali.

__ADS_1


“I Love U My Baby … Papa sangat sayang sama kamu. Papa akan lakukan yang terbaik untuk kamu dan Mama kamu. Masa kecil Papa memang pahit, tetapi Papa tidak akan membiarkan masa kecilmu juga pahit. Papa dan Mama akan berusaha membuat berbagai kenangan manis bersamamu. Dunia itu begitu besar, tetapi ada tangan Papa dan Mama yang akan menggandeng tangan kecil kamu. I Love U, My Baby,” ucap Abraham.


Marsha yang mendengar semua perkataan Abraham begitu terharu, air mata pun lolos begitu saja dari sudut matanya. Marsha menaruh kedua tangannya di bahu Abraham dan meminta pria itu untuk berdiri, saat Abraham berdiri dan Marsha segera berjinjit dan mencium bibir Abraham.


Tak mampu lagi berbicara dan berkata-kata, Marsha memberikan ciuman demi ciuman, hisapan di bibir Abraham, bahkan menelusupkan lidahnya dan menggoda rongga mulut Abraham. Sungguh, untuk pria hebat yang berdiri di hadapannya, Marsha begitu mencintai Abraham.


Marsha lantas kembali mencium bibir suaminya itu, mengecup permukaan bibir itu hingga keduanya sama-sama berdecak, dan menyapukan lidahnya di bibir itu. Menyesap lipatan bibir suaminya bergantian atas dan bawah. Marsha memejamkan matanya, seolah benar-benar ingin menikmati perasaannya yang begitu besar untuk suaminya.


Tangan wanita itu bergerak dan memberikan remasan di rambut suaminya, menyentuh permukaan telinga Abraham dengan perlahan, pergerakan tangannya kian turun dan membelai leher Abraham dengan lembut. Setiap sentuhan yang Marsha berikan nyatanya membuat Abraham kian mengangkat wajahnya, memberikan akses penuh kepada Marsha untuk menyentuhnya.


Marsha dalam hati tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan suaminya itu. Bibir wanita itu perlahan turun dan mendaratkan kecupan-kecupan basah dan hangat di garis leher suaminya, tangannya bergerilya dan menelusup di balik kaos yang dikenakan suaminya itu. Meraba dada suaminya yang bidang, meraba punggung suaminya yang kokoh, dan bibirnya kembali mengecupi bibir Abraham.


“Ah, Shayang … kamu,” ucap Abraham dengan menghela nafasnya.


Seakan-akan cara istrinya memegangnya, menyentuhnya, membelainya sekarang ini justru menyulut api dalam diri Abraham. Pria itu ingin menikmati semua yang dilakukan sang istri atas tubuhnya.


Hingga akhirnya tangan Abraham bergerak dan menyentuhkan tangan Marsha ke inti tubuhnya yang sudah sepenuhnya menegang, semua ciuman, semua pagutan, semua sentuhan yang diberikan oleh istrinya benar-benar membuat dirinya panas dingin sekarang ini.


Sembari menghela nafasnya, Marsha lantas bergerak turun dari pangkuan suaminya.


Abraham mengangguk, memberikan akses sepenuhnya bagi wanita itu untuk melakukan apa pun terhadapnya. Abraham menyandarkan punggungnya di sofa dan akan menikmati semua tindakan yang tengah dilakukan Marsha.


Wanita itu memberanikan dirinya menyentuh pusaka sang suami. Meremasnya perlahan, jantungnya berdebar-debar sekarang ini. Akan tetapi, hasratnya seakan mengatakan untuk mampu melakukan yang lebih. Untuk itu, Marsha kembali menggenggam pusaka itu, menggerakkannya naik dan turun. Tidak terkira bagaimana reaksi sang suami yang di atas.


Abraham lantas bangkit, kedua tangannya langsung bergerak dengan begitu cepat dan tepat, lantas membawa Marsha kembali duduk di pangkuannya.


“Sudah cukup, main-mainnya,” ucap Abraham kemudian.


Keduanya membawa bibir mereka untuk kembali bertemu, kembali menyapa, kembali memagut, mengecup, melu-mat, dan menciumnya dengan kian dalam. Kedua tangan Abraham, berusaha mengangkat kaos yang dikenakan istrinya, hingga membuat kaos itu terlepas dan Abraham segera melemparkannya begitu saja. Pria itu membuka matanya, tatkala melihat pembungkus renda di area dada istrinya, berwarna pink muda yang lembut. Tanpa permisi, tangan Abraham meremas gundukan kembar itu, menekannya perlahan, satu tangannya menelisip di balik punggung Marsha hingga membuat pembungkus itu terlepas.


Pria itu lantas melepaskan sendiri kaos yang masih dia gunakan. Lantas dia, melucuti sisa-sisa kain yang menempel pada tubuh keduanya. Abraham sedikit mengangkat tubuh Marsha, mendaratkan pantat wanita di pangkuannya, di atas pahanya. Menyatukan inti tubuh keduanya, membuat Marsha memejamkan matanya dan meremas helai rambut suaminya.


“Ah, Mas,” de-sahnya kala itu saat merasakan milik suaminya yang telah menusuk masuk seolah mengenai dinding rahimnya. Jari-jemari Marsha yang lentik meremas bahu suaminya, dan dia mencerukkan wajahnya di leher suaminya.

__ADS_1


Abraham membawa tangannya untuk kembali menyusuri kulit Marsha yang lembut, merabanya, memberikan sentuhan-sentuhan yang seolah menyulut partikel yang membuat tubuh keduanya kian tersulut, kian panas, dan kian basah lantaran keringat yang keluar begitu saja. Menghadirkan kesan liat dan basah.


Bibir pria itu bergerak dan mengecupi puncak bauh persik itu, memberikan sapuan dengan lidahnya, dan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana. Tidak membutuhkan waktu lama, puncak buah persik itu pun membengkak dan basah.


Pinggang Marsha bergerak mengikuti instingnya. Dalam pergerakan maju dan mundur, dirinya kian kacau kali ini. Beberapa kali Marsha bahkan melenguh dan kian mencengkeram bahu suaminya itu. Gesekan demi gesekan yang terjadi membuat keduanya sama-sama terbakar.


Tubuh Marsha meliuk dengan begitu sensual, dalam dorongan hasrat yang secara samar terasa saat pusaka suaminya mendesak di bawah saja. Gesekan yang mampu mengalirkan setiap gelenyar pada tubuhnya sendiri.


Wanita itu kian meremang, saat jari-jari tangan Abraham kian menyusuri kulit punggungnya, meraba pahanya, bahkan mempermainkan buah persiknya. Keduanya bergerak dalam percikan yang seolah kian sulut-menyulut.


Abraham benar-benar terbakar, hingga pria itu tak henti-hentinya mengeksplor tubuh istrinya. Jari-jarinya sibuk memilin satu buah persik yang ada, dan bibirnya melahap dengan begitu rakus buah persik yang satunya. Hingga des-ahan berkali-kali mengalun dari bibir Marsha. Kegiatan panas yang benar-benar membakar keduanya saat ini.


“Ah, Mas … aku tidak tahan lagi,” pengakuan itu akhirnya keluar juga dari bibir Marsha.


Ya, wanita itu merasa sudah sampai di batas pertahannya. Tak mampu lagi tersulut dengan semua aktivitas yang dilakukan suaminya atasnya. Kali ini, Marsha memilih untuk tidak menjadi putri yang pemalu. Lagipula keduanya adalah sepasang suami-istri. Suaminya sendiri yang benar-benar menyulut tubuhnya dengan gelora, dan membuat Marsha berada di batas pertahannya.


Mendengar pengakuan sang istri, Abraham dengan cepat bergerak, membawa Marsha dalam gendongannya, dalam pelukannya dan membaringkan wanita itu. Abraham langsung menindihnya, tetapi tidak sampai menekan perutnya yang sudah membuncit.


“Shayang,” Abraham pun menggeram. Sebenarnya bukan hanya Marsha yang tersulut, dirinya sendiri pun turut tersulut.


Wanita itu kian memejamkan kedua matanya saat merasakan desakan demi desakan, hujaman demi hujaman. Gerakan seduktif yang dilakukan suaminya, keluar dan masuk, menekan dan menusuk benar-benar memabukan.


Abraham lantas membuka kedua kaki istrinya itu. Menempatkan dirinya tepat ditengah-tengahnya, mengarahkan milik pusakanya pada cawan surgawi milik sang istri. Tanpa aba-aba dia menghujam masuk.


Kuat.


Dalam.


Cepat.


Menusuk hingga pusakanya tenggelam dalam cawan surgawi milik istrinya. Kesan erat, hangat, dan cengkeraman di dalam sana membuat Abraham beberapa kali memejamkan matanya, perasaan yang membuat pria itu hilang akal. Hingga akhirnya Abraham sadar bahwa dia tidak mampu lagi bertahan lebih lama lagi.


Maka Abraham pun menggeram, merengkuh tubuh Marsha dengan tangannya. Hingga akhirnya gerakan seduktif yang kacau dan penuh hujaman itu menghantarkan Abraham ke jurang kenikmatan tak bertepi. Saat cairan cintanya menyembur di dalam sana, pria itu benar-benar meledak, pecah seperti percikan kembang api dengan bunga-bunga apinya yang bertaburan di angkasa.

__ADS_1


Keduanya sama-sama hancur lebur, tersulut gelora cinta yang membara, dan membungkus keduanya dalam kenikmatan cinta yang mereka reguk bersama-sama.


__ADS_2