Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Kabar Melvin dari Jeruji Besi


__ADS_3

Sementara itu dari tempat yang berbeda, tempat yang cukup jauh dari hiruk pikuk kota Jakarta dengan keramaiannya. Tempat terisolasi yang sudah ditempati aktor yang dulunya merajai sinema televisi itu. Sekarang, sudah lebih dari dua tahun berlalu, pria itu tampan kian kurus dan juga cekungan hitam di bawah kelopak matanya.


Sekarang masa kunjungan, sehingga ada Mama Saraswati yang mengunjungi putranya itu.


"Sudah tiga bulan berlalu, Melvin ... bagaimana kabarmu?" tanya Mama Saraswati kepada putranya itu.


"Tidak baik Ma," balas Melvin dengan mendengkus kesal.


Hati seorang ibu merasa begitu terluka karena melihat putra semata wayangnya menghuni hotel prodeo itu. Juga tubuh Melvin yang kian hari justru kian kurus, dan juga kebugarannya yang hilang.


"Semangatlah Melvin ... beberapa tahun lagi masa tahananmu akan berakhir," ucap Mama Saraswati yang mencoba memotivasi Melvin.


"Melvin banyak terluka Ma ... berawal dari kesalahan waktu itu dan akhirnya menjerat Melvin untuk lima tahun lamanya," ceritanya dengan kesal dan menyesal.


Mama Saraswati menganggukkan kepalanya perlahan, "Memang waktu itu, kenapa bisa? Bukannya waktu itu, kamu bersama aktris pendatang baru itu dan mengusir Mama dari rumah?"


Ya, malam ketika Melvin mengusir Mamanya dari rumah, saat itu Melvin membawa Cia, aktris pendatang baru yang usianya baru 18 tahun, dan pagi harinya ketika Abraham mengantarkan Mama Saraswati pulang ke rumahnya, rupanya sudah ada polisi dan Badan Narkotika Nasional yang menggerebek rumah Melvin.


***


Peristiwa waktu itu ....


Melvin malam itu menghabiskan malam yang begitu membara dengan Cia. Sungguh luar biasa, ketika aktris muda yang baru menjajaki dunia akting itu, memberikan service terbaik untuk Melvin. Bahkan Cia, malam itu yang memegang kendali penuh dengan berada di atas Melvin.

__ADS_1


"Mantap kan?" tanya Cia dengan meremas rambut Melvin di sana, wanita itu tetap bergerak liar, meliuk, dan meraba bagian bahu hingga dada Melvin Andrian.


Pria yang sudah berumur kepala tiga itu tersenyum dan membiarkan wanita itu meliuk dengan sensual di atas tubuhnya. Bahkan Melvin seolah justru menikmati momen itu. Teringat dengan Lista, dulu yang selalu bisa memuaskannya.


"Kamu pinter banget sih ... kecil-kecil sudah pengalaman," ucap Melvin dengan meremas perlahan bulatan yang menggantung sempurna di depan matanya.


Wanita itu tersenyum dan terus bergerak, mende-sah dan menelungkungkan tubuhnya ke belakang, bertumpu pada kaki Melvin dan terus memacu. Kian Melvin mende-sah, justru kian semangatnya Cia untuk bergerak naik dan turun.


"Aku bisa muasin kamu kayak gini, asalkan ajak aku main di mini series terbaru kamu dong Kak ...."


Melvin tersenyum, pria itu justru kini memberikan remasan yang cukup keras di bagian pantat Cia. Hingga wanita itu menjerit karenanya.


"Kamu bisa mengikuti ritme permainanku?" tanya Melvin kemudian.


"Bisa, seperti apa?" tanya Cia kemudian.


Sampai usai menuntas malam menggelora dengan Cia, datanglah dua rekan Melvin ke rumah. Usai pesta dengan Cia, rupanya Melvin melanjutkan dengan pesta obat terlarang itu. Memulihkan tenaganya yang dihabisi Melvin tanpa ampun, Cia memulih pulang, sementara tiga orang di sana sudah teler. Hingga pagi menjelang, terjadilah penggerebekan saat itu.


Melvin sudah tidak bisa mengelak dan juga hasil tes urine membuktikan bahwa dirinya positif. Putusan persidangan sudah dia terima, dan juga dengan permohonannya untuk rehabilitasi ditolak oleh hakim, sehingga proses penyembuhan dari ketergantungan obat dilakukan di dalam penjara. Masa-masa yang sulit untuk lepas dari ketergantungan obat.


***


Sekarang ....

__ADS_1


"Kamu sudah sembuh dari ketergantungan obat, Mel ... jadi semangatlah hidup. Jalanilah masa hukuman ini dan keluarlah dengan menjadi Melcin yang lebih baik," ucap Mama Saraswati dengan menggenggam tangan putranya itu.


"Entahlah, Ma," balas Melvin dengan memejamkan matanya. Terasa sakit dan juga menyesali untuk semua yang terjadi.


Untuk beberapa saat, tidak ada yang mereka bicarakan, hingga Melvin kemudian bertanya kepada Mamanya, "Ma, kabarnya Marsha bagaimana Ma?" tanya Melvin kemudian.


"Marsha sudah hidup dengan baik dan bahagia bersama kakakmu, Abraham ... semangatlah, dan ketika kamu keluar dari sel tahanan ini, mulailah hidup yang benar, pasti ada cinta yang tulus untukmu, Vin," ucap Mama Saraswati lagi.


Mendengar Marsha hingga bahagia bersama kakaknya, Melvin mendengkus kesal. Semua terjadi karena Melvin dulu yang lebih menuruti kegilaannya, menganiaya Marsha, dan berakhir dengan perceraian keduanya.


"Apa masih ada wanita seperti Marsha, Ma?" tanya Melvin kemudian.


"Yang mendekati atau melebihi mungkin ada, Vin ... keluarlah dari sini dan raih kebahagiaanmu sendiri," ucap Mama Saraswati.


"Masih ada tiga tahun lagi, Ma ... ketika Melvin berusia 36 tahun nanti," balasnya.


"Tidak ada kata terlambat. Vin ... semua orang bisa bahagia dan menemukan kebahagiaannya yang sejati," balas Mama Saraswati lagi.


"Andai dulu, Melvin tidak gegabah, mungkin Melvin akan bahagia bersama Marsha," sesalnya kini.


"Apa yang terjadi di bawah matahari ini, tak ayal hanya takdir, Vin ... garis hidupmu memang seperti ini adanya. Jadi, yang lalu biarlah berlalu. Sebab, mengharapkan untuk kembali pun tidak bisa. Pasti ada kebahagiaan yang Tuhan sediakan untuk masing-masing umat-Nya," balas Mama Saraswati.


Melvin menghela nafas dan kemudian menatap Mamanya, "Jika lain waktu bertemu Marsha, sampaikan permintaan maaf Melvin kepadanya ya Ma ... sampaikan salam juga untuk Abraham."

__ADS_1


"Pasti, Vin ... semangatlah. Tiga tahun mungkin lama, tapi ketika kamu menjalaninya dengan baik, tiga tahun itu akan terasa lebih cepat dari apa yang kamu bayangkan," balas Mama Saraswati.


Terkadang manusia menyesalkan apa yang telah terjadi. Berandai-andai untuk apa yang telah terlewatkan. Namun, di balik semuanya, hanya ketetapan Allah sajalah yang berlaku. Ingin mengulang semuanya pun tentu saja tidak bisa.


__ADS_2