Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Percik Kekhilafan


__ADS_3

Di petang hari dengan hujan yang masih turun dengan begitu derasnya, Abraham dan Sara masih duduk bersama di sofa. Pandangan mata yang terarah pada kaca jendela dengan derai hujan di luar sana. Beberapa potong Pizza sudah mereka makan bersama sembari mengurai cerita di antara keduanya.


“Minum Bram, tadi aku sekalian belikan Jus buah,” ucap Marsha sembari memberikan jus buah berwarna kuning sedikit orange di sebuah botol itu kepada Abraham.


“Thanks,” jawabnya.


Namun, Abraham melirik ke botol jus buah milik Marsha yang berwarna merah. Pria itu meraih botol tersebut, dan memutar penutupnya, hingga sealnya terbuka.


“Biar kamu gak repot bukanya, bisa langsung minum,” balas Abraham.


“Makasih yah,” balas Marsha.


Kemudian Marsha menerima botol jus buah segar itu dan meminumnya sedikti, kemudian kembali menutupnya dan menaruhnya di atas meja. Kini, Marsha menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dengan mata yang terus menatap ke kaca jendela dan derai hujan yang begitu deras di sana.


“Hujannya deras sekali,” ucap Marsha kali ini.


“Iya, sangat deras. Lihat, itu kilatnya yang terlihat di langit. Untung saja, kamu sudah di sini, tidak ada keadaan menyetir,” balas Abraham.


“Benar juga … di saat hidupku hancur, dan juga rumah tanggaku yang hancur, Tuhan berbaik hati dengan menurunkan hujan sederas ini,” balas Marsha kemudian.


Abraham tertegun mendengar ucapan Marsha itu. Rasanya itu adalah perkataan paling getir yang pernah Abraham dengar dari seorang Marsha.


“Tuhan pun berbaik hati, karena di saat kamu hancur, kamu tidak sendiri, Marsha … ingatlah satu hal, aku ada bersamamu,” ucap Abraham.

__ADS_1


Kini tangan Abraham bergerak dan memberikan usapan di punggung tangan Marsha. Menyentuh tangan yang lebih kecil ukurannya dari tangannya, dan menggenggam tangan itu. Tanpa permisi lagi, Abraham membawa tangan Marsha dekat ke wajahnya, lantas Abraham mendaratkan sebuah kecupan di punggung tangan Marsha itu.


“I will always be with you,” ucap Abraham dengan sungguh-sungguh.


Seakan-akan Abraham mengatakan bahwa dia akan selalu ada bersama dengan Marsha. Seakan memberikan janji bahwa Abraham akan selalu bersama Marsha, apa pun keadaan Marsha, Abraham akan menyertainya.


Ada kedikan bahu Marsha, saat bibir Abraham menyapa dan mengenai permukaan kulit punggung tangannya. Marsha menahan nafas, saat bibir Abraham masih mengecup punggung tangannya itu.


“Sha, boleh aku bertanya, dulu kamu memutuskanku apakah karena tidak lagi mencintaiku?” tanya Abraham sekarang yang seakan meminta penjelasan dari Marsha.


“Bukan,” jawab Marsha dengan menggelengkan kepalanya secara samar.


“Bisa kamu bercerita kepadaku?” tanya Abraham kepada Marsha.


Ucapan Marsha ini memang seturut dengan pemahaman orang-orang Jawa, bahwa menikahi gadis atau perjaka yang orang tuanya tidak lengkap entah itu karena kematian atau karena perceraian, akan membuat rumah tangga yang dijalani serasa berat. Oleh karena itulah, Mama Abraham meminta Marsha untuk memutuskan Abraham.


“Oh, karena perhitungan Jawa itu?” tanya Abraham.


“Iya,” jawabnya singkat.


“Jadi, waktu itu kamu memutuskan aku karena kamu masih cinta sama aku kan Sha?” tanya Abraham lagi.


Abraham kali menanti jawaban yang diberikan Marsha. Dia sungguh ingin mendengarkan secara langsung apa yang menjadi pertimbangan Marsha saat itu. Di saat dirinya masih begitu mencintai Marsha dan ingin selalu ada di sisinya, tetapi justru Marsha memutuskannya.

__ADS_1


“Iya,” ucap Marsha dengan lirik. Kedua bola matanya tak berani menatap Abraham yang duduk di sampingnya dan masih menggenggam tangannya itu.


Mendengar jawaban Marsha, Abraham pun segera, pria itu menarik Marsha mendekat ke arahnya, dan tanpa permisi Abraham menyapa bibir Marsha dengan bibirnya. Memberikan kecupan demi kecupan yang hangat di dua belah lipatan bibir Marsha, memberikan usapan dengan ujung lidahnya, Abraham membelai sisi wajah Marsha, dan pria itu membawa lidahnya menelisip untuk masuk dan merasai kehangatan rongga mulut Marsha.


Tak kuasa dengan godaan yang Abraham berikan. Refleks, dengan desiran yang yang seakan membuat jantungnya tidak baik-baik saja karena sekarang jantungnya begitu bertalu-talu dan berdetak melebihi ambang batasnya. Hingga pertahan Marsha memejamkan matanya. Tangannya tampak menggenggam erat ujung kemeja Abraham. Sapaan bibir Abraham yang terus mengecup dan menghisap lipatan bibirnya tanpa henti, membuat membuat Marsha begitu sesak, tangannya menjadi dingin. Walau wajahnya panas lantaran sapuan hangat nafas Abraham di wajahnya.


Tangan Abraham pun bergerak dan melingkar di satu pinggang Marsha, dan tangan lainnya tampak mencari tangan Marsha yang tengah menggenggam ujung kemejanya. Pria itu lantas mengikis wajahnya dan tersenyum menatap Marsha.


"Tangan kamu dingin," ucap Abraham dengan mengecup punggung tangan Marsha.


"Aku cinta kamu, Marsha ... waktu memang berlalu, tetapi cintaku untukmu masih saja sama," ucap Abraham lagi. Pria itu kemudian tersenyum dan memeluk Marsha dengan begitu saja.


Memeluk tubuh Marsha dengan begitu hangat, Abraham kini justru dengan berani menyibak untaian garis leher Marsha, pria itu dengan sadar mulai mendaratkan kecupan demi kecupan yang hangat dan meninggalkan sensasi basah di gari leher Marsha. Hingga bulu roma Marsha berdiri, bagai tersengat dengan perbuatan Abraham atas dirinya.


Gelenyar asing yang melingkupinya justru membuat Marsha kian mendekap erat dan kuat tubuh Abraham. Ingin tersadar, tetapi kecupan yang Abraham berikan nyatanya justru membuat hasrat sungguh tersulut.


“Ya Tuhan, jika ini adalah khilafku yang terdalam … maafkan aku,” gumam Marsha dalam hati dan justru kian memejamkan matanya saat bibir Abraham terus memberikan godaan di lehernya hingga tulang belikatnya.


"Marsha, Marsha ... aku cinta kamu. Sungguh, cinta kamu," ucap Abraham dengan berbisik lirih di sisi telinga Marsha.


Derai hujan di luar sana, AC di dalam ruangan yang begitu dingin, tetapi ada dua orang yang berpelukan memberikan kehangatan bagi satu sama lain. Ada godaan yang Abraham berikan, ada pengakuan cinta yang Abraham ucapkan, ada ciuman di bibir yang kian membuat atmosfer di unit apartemen itu merasakan kehangatan di satu sisi.


Marsha meneteskan air matanya, saat Abraham memeluknya. Air mata yang menetes begitu saja membuat Marsha merasa sesak. Di batas ini, Marsha masih sadar bahwa apa yang baru saja dia lakukan adalah terlarang. Namun, kenapa begitu sukar untuk menghentikan hasrat hati yang saat ini benar-benar tersulut. Marsha bukan lagi kayu basah, melainkan dia adalah ranting yang kering, sedikit sulutan api saja sudah bisa benar-benar membakarnya.

__ADS_1


__ADS_2