Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Tak Bisa Melampaui


__ADS_3

Pulang ke rumah dengan perasaan gelisah, itulah yang dialami Melvin sekarang ini. Adegan ciuman yang baru saja dilakoninya dengan aktris pendampingnya, membuat Melvin segera ingin tiba di rumah. Dia membutuhkan Marsha sekarang ini. Tidak dipungkiri, dirinya juga hanya pria biasanya, dan yang bisa bergejolak dengan sebuah sengatan kecil. Jangan sengatan, hanya memandang dan rasa menginginkan saja bisa membangkitkan hasratnya begitu saja.


Sepanjang perjalanan, Melvin hanya berharap bahwa Marsha belum tertidur, sehingga dia bisa meminta haknya sekarang ini. Rasanya, Melvin membutuhkan pelepasan sekarang ini, dan orang yang dia cari tentu adalah Marsha, istrinya sendiri.


Waktu sudah menunjukkan 01.00 dini hari, dan Melvin baru saja pulang. Begitu tiba di rumah, pria itu bahkan setengah berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Pelan-pelan membuka pintu, sampai akhirnya Melvin melihat Marsha yang sudah bergelimut di dalam selimut. Rupanya Marsha yang tertidur bukan menjadi kendala bagi Melvin. Pria itu kini sudah melepas sepatu yang dia kenakan, mencuci kaki, tangan. Dan wajahnya sejenak kemudian pria itu menaiki ranjang dengan merayap dan menindih tubuh Marsha di bawah kungkungannya.


Pria itu tersenyum dan tanpa permisi, dia melepaskan kancing demi kancing piyama yang dikenakan Marsha, dan melepaskan buah persik milik Marsha dari wadahnya. Buah persik yang begitu ranum itu segera Melvin remas dengan tekanan perlahan. Tidak peduli lagi dengan Marsha yang masih tertidur, yang jelas ada sesuatu yang harus Melvin selesai sekarang ini. Remasan memutar dan sedikit memberi pijatan itu nyatanya mengusik tidur Marsha, hingga wanita itu mengerjap dan berusaha menyingkirkan tangan Melvin dari dadanya.


“Yang,” ucap Marsha dengan nafas yang menghela, terlihat shock dan kaget dengan yang dilakukan Melvin kali ini.


Nyatanya, menyadari Marsha bangun, Melvin hanya mengangguk. Pria itu sudah terselimuti dengan kabut gairah, sehingga Melvin terus melakukan aksinya, meremas, memilin, dan memutar-mutar puncak dada Marsha. Tekanan yang diberikan Melvin nyatanya justru tidak memberikan kenikmatan sama sekali, yang ada justru rasa sakit yang Marsha dapatkan. 


“Stop, Yang,” pinta Marsha kali ini.


Namun, Melvin sama sekali tidak berhenti. Melvin justru kini melepaskan celana, dan membawa pusakanya untuk bersarang di rongga mulut Marsha. Sedikit paksaan membuat Marsha membuka mulut, sehingga pusaka itu bersarang di rongga mulut Marsha.


Mengeluarkannya dan memasukkannya lagi, sampai mulut Marsha sakit rasanya dengan tekanan yang diberikan Melvin. Tidak biasanya suaminya itu melakukan hal demikian, dan sekarang … kenapa Melvin justru melakukan hal seperti ini kepadanya. 


“Stop, Yang!” pinta Marsha kali ini dengan merintih.


Ini bukan bentuk hubungan suami istri yang berpadu seirama yang harmonis satu sama lain. Namun, ini adalah bentuk kekerasan seksual yang dialami Marsha. Tubuhnya diperlakukan sangat tidak hormat oleh suaminya sendiri. Ada rasa sakit dan sesak di dada Marsha. Sampai akhirnya, Melvin melepaskan celana Marsha. Membuat tubuh mereka sama-sama polos, tanpa pemanasan yang cukup, Melvin memasukkan dengan paksa miliknya ke dalam cawan surgawi Marsha. Memberikan gesekan perlahan, dan menghujamnya kuat-kuat dan begitu dalam. 


Melvin sama seperti tidak bersuara, tetapi terdengar bagaimana pria itu menggeram dalam setiap hujaman yang dia ambil. Ada de-sahan yang tertahan di tenggorakan Melvin. 


Pria itu benar-benar tidak memberi ampun untuk Marsha. Yang dia lakukan adalah terus memberikan hujaman demi hujaman, lesakan demi lesakan, rintihan Marsha tak mengganggu Melvin sama sekali. Di ujung kegiatannya kala itu, Melvin menggeram sembari menengadahkan wajahnya. Tubuhnya bergetar saat sesuatu yang hangat dia tumpahkan di ujung cawan surgawi milik Marsha. Pria itu tumbang dan beringsut begitu saja dari atas Marsha. 

__ADS_1


Tidak ada perlakuan yang lembut, tidak ada belaian sayang, tidak ada ungkapan cinta, yang ada hanyalah pelampiasan nafsu belaka. Semua ini sangat menyakitkan untuk Marsha. Tindakan dan perlakuan Melvin membuat Marsha terisak pilu. 


Tangisannya terasa menyayat hati. Sangat perih dengan semua yang dia alami. Marsha memilih menarik selimut dan memunggungi Melvin dengan bahu yang bergetar. Apa yang sebenarnya dilakukan Melvin di luar sana. Hingga pria itu memperlakukan Marsha tanpa ampun. 


***


Keesokan paginya … 


Marsha bangun dengan badan yang rasanya nyaris rontok. Sendi-sendinya begitu sakit, dan pangkal pahanya terasa sangat sakit. Ini adalah kesakitan yang Marsha rasakan. 


Wanita itu menyibak selimutnya, tubuh polosnya hanya tercover selimut tebal. Marsha menundukkan wajahnya dan melihat bekas-bekas merah bahkan nyaris biru di area dadanya. Bahkan ada goresan di pergelangan tangannya. Melvin bak terasuki roh jahat semalam. Memperlakukan seorang istri tanpa ampun. Susah payah Marsha beranjak dari ranjangnya, dan wanita itu tertatih-tatih masuk ke kamar mandi. Di bawah guyuran air shower yang deras. Marsha menangis, memeluki dirinya sendiri. Semua ini sangat perih, tetapi tak ada seorang pun yang memeluknya dan menenangkan. Bahkan air mata yang terus berderai tersapu begitu saja dengan guyuran air shower yang dingin di pagi hari itu. 


Hampir setengah jam Marsha mengguyur dirinya, bahkan wanita itu terduduk di lantai dengan memeluki lututnya sendiri. 


Semua ini sangat sakit Melvin ...


Perlakuanmu kepadaku ini justru membuatku ingin menyerah dan lepas darimu.


Semua ini sakit, Melvin ...


Bahkan sudah mengarah ke pelecehan secara seksual.


Bukan hanya tubuhku yang kesakitan, tetapi juga hatiku sangat sakit.


Ada rasa tak dihargai ...

__ADS_1


ada rasa tak dikasihi ...


ada rasa dipandang hina oleh suamiku sendiri ...


Duka yang aku rasakan tidak akan membuatmu lepas begitu saja ...


Aku akan beri hukuman kepadamu ...


Suamiku sendiri justru memperlakukanku dengan tidak manusiawi.


Suamiku sendiri justru melukaiku seperih ini.


Ini bukan cinta, Melvin.


Ini bukan kehidupan suami dan istri.


Lebih tepatnya, ini hanya sebatas pelampiasan nafsu ...


Lebih baik akhiri pernikahan ini, Melvin ...


Daripada terus menyakitiku seperti ini.


Keluar dari kamar mandi, Marsha memilih untuk mengeringkan rambutnya terlebih dahulu. Tidak ingin terlihat dan mendapat cibiran dari Mama Saraswati lagi bahwa dirinya usai berhubungan suami istri dengan Melvin. 


Cukup tubuhnya yang sakit, dan hatinya saja. Semoga saja kali ini tidak ada lagi ucapan pedas dari mertuanya. Di batas ini, Marsha mengingat dirinya sendiri. Mungkin sudah waktunya Marsha meminta kepada Melvin untuk mengakhiri semua ini. Mengakhiri pernikahan yang hanya memberinya luka. Pernikahan yang semula gambar, kini justru hanya sebatas penyaluran nafsu belaka. 

__ADS_1


Setidaknya Marsha ingin mengamankan dan menyelamatkan dirinya sendiri. Di pinggir jurang yang penuh ketidakpastian ini, Marsha hanya ingin dirinya selamat. Di pinggir suramnya kehidupan rumah tangganya, Marsha hanya mengharapkan kebahagiaan lahir dan batin untuk dirinya. 


__ADS_2