Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Bagaimana Jika Selingkuh?


__ADS_3

Rupanya kali ini Melvin berada di rumah. Sampai sore pria itu masih berada di rumah. Berada di dalam kamarnya bersama dengan Marsha. Akan tetapi, Marsha sendiri terlihat menjaga jarak dengan suaminya itu. Sampai akhirnya, Melvin pun turut bergabung dengan Marsha yang sedang menonton Drama Korea.


“Kamu lihat apa?” tanya Melvin.


“Oh, ini … baru lihat drama korea,” balas Marsha.


“Kenapa enggak lihat Webseries milikku?” tanya Melvin kali ini.


Pikirnya kan suaminya sendiri adalah seorang aktor tampan, dan sekarang Webseries yang dibanding oleh Melvin juga sedang naik daun. Untuk itulah, Melvin menanyakan hal itu kepada Marsha.


“Gak suka,” sahut Marsha dengan singkat.


Melihat sikap jaga jarak yang ditunjukkan Marsha, dan juga jawaban Marsha yang terlihat tidak bersahabat, Melvin kemudian melirik ke arah Marsha.


“Kamu masih marah?” tanya Melvin kemudian.


Lagi-lagi Marsha hanya diam dan tidak memberikan jawaban apa pun. Marsha lebih fokus melihat drama korea yang mengisahkan perselingkuhan seorang sutradara itu. Hingga membuat istrinya yang adalah seorang Dokter merasa terluka.


Melihat keengganan Marsha, sampai akhirnya Melvin hanya bisa diam. Ingin mengajak bicara Marsha kembali rasanya juga susah. Sampai akhirnya, Melvin kemudian melirik ke Marsha. Mencoba menerka apa yang tengah dipikirkan oleh istrinya itu.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya, Marsha yang berbicara, tetapi wanita itu tanpa menatap wajah Melvin yang duduk di sampingnya.


“Misalnya kalau aku selingkuh gimana Yang?” tanya Marsha tiba-tiba kepada Melvin.


Entah dorongan apa yang pada akhirnya membuat Marsha menanyakan hal tersebut kepada Melvin. Mungkinkah itu adalah dorongan karena Marsha sudah merasakan percikan hasrat terlarangnya kepada Abraham. Terlebih di Jogjakarta, saat Abraham menciumnya dengan tiba-tiba, justru Marsha masih mengingat bagaimana bibir Abraham menyapa bibirnya, menenggelamkan dirinya dalam gelora yang begitu menggetarkan hati dan jiwanya.


Mungkinkah kejadian di Jogjakarta waktu itu yang mendorong Marsha akhirnya bertanya kepada Melvin.


Akan tetapi, di saat bersamaan justru Melvin tertawa dan mengacak puncak kepala Marsha.


“Gak mungkinlah, Yang … kamu gak akan pernah selingkuh,” balas Melvin dengan tawa yang menghiasi wajahnya.


Perlahaan dari helaan nafas yang berat dari hidung Marsha, wanita itu kini melirik sedikit ke arah Melvin. Menatap bola mata pria itu dengan dalam.


“Segala kemungkinan di bawah kolong langit ini kan ada. Bahkan aku pun bisa melakukannya,” ucap Marsha kali ini.


Marsha mengatakan semuanya dengan serius. Wajahnya menunjukkan tidak bercanda sama sekali.


Di saat Marsha terlihat begitu serius, tidak ada candaan di wajahnya, Melvin pun terdiam. Senyuman di wajahnya pun sirna. Perlahan Melvin beringsut dan menatap wajah Marsha di hadapannya.

__ADS_1


“Aku tidak akan pernah memaafkan seorang istri yang kedapatan selingkuh di luar sana. Hanya saja, aku tidak pernah percaya jika kamu bermain api di luar sana. Aku sangat mengenalmu, Yang,” balas Melvin.


Kedua mata Marsha yang bersitatap dengan mata Melvin akhirnya berkaca-kaca di sana. Dirinya tidak percaya dengan semua yang dia dengar kali ini. Di saat keteguhan hatinya terusik, nyatanya Melvin masih bisa mengatakan bahwa dirinya tidak percaya jika Marsha bermain hati di luar sana.


Suasana hening begitu terasa menyelimuti Marsha dan Melvin. Tentu keduanya memiliki pikiran sendiri-sendiri yang memenuhi kepalanya sekarang ini. Sampai akhirnya tangan Melvin bergerak dan merengkuh tubuh Marsha.


“Aku begitu yakin bahwa kamu tidak akan main hati atau selingkuh di luar sana. Aku yakin bahwa kamu akan setia padaku. Terima kasih sudah pengertian kepadaku selama dua tahun pernikahan kita,” balas Melvin kali ini.


Kali ini saat suaminya itu memeluknya, mengusapi punggungnya dengan telapak tangannya yang hangat dan dengan gerakan naik dan turun, air mata Marsha berlinangan begitu saja. Padahal dirinya ingin sekali berbicara jujur dengan Melvin kali ini. Padahal dirinya membuka kemungkinan bahwa bisa saja dirinya mencari kehangatan di luar rumah. Ada rasa bersalah yang menyelimuti hati Marsha. Sampai akhirnya Marsha mengurai pelukan Melvin. Wanita itu kemudian memberikan pertanyaan kepada Melvin.


“Bagaimana jika kamu yang selingkuh?” tanya Marsha kali ini.


Air mata Marsha tak bisa dibendung lagi. Berlinangan begitu saja. Sampai akhirnya Melvin pun kembali tertawa. Wajah pria itu hingga memerah karena tertawa.


“Hei, Ayang … kamu sangat tahu aku. Aku tidak akan selingkuh,” balas Melvin kemudian.


Namun, bagaimana bisa Melvin sesantai itu saat Marsha bertanya kepadanya dengan begitu serius.


“Sudah, tidak usah dipikirkan yang macam-macam. Sorry yah, pasti karena pemberitaan itu yang membuatmu berpikiran aneh-aneh kayak gini. Yang pasti aku tidak akan seperti itu, dan kamu akan selalu berada di sampingku. Imageku sebagai publik figure yang baik di luar sana juga dibentuk olehmu sebagai istriku,” balas Melvin.

__ADS_1


Memang banyak faktor yang membentuk image seorang publik figure. Sama seperti Melvin yang menyadari bahwa sosok Marsha yang baik dan tidak pernah neko-neko membentuk citra yang baik pada dirinya.


__ADS_2