Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Demam Dadakan


__ADS_3

Tidak terasa waktu pun terus berjalan. Hari demi hari pun berganti dan kini sudah tiga pekan berlalu. Intensitas berhubungan untuk Marsha dan Abraham juga kian meningkat karena keduanya berharap akan mendapatkan anak lagi.


"Aku ada job tambahan Shayang," cerita Abraham kepada istrinya siang itu di akhir pekan.


"Hmm, job tambahan apa Mas? Tumben, biasanya gak pernah," balas Marsha.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... masih bulan depan sih. Cuma sudah mulai persiapan dari sekarang. Biar hasilnya maksimal dan tidak mengecewakan kostumer VIP-ku," balas Abraham.


Marsha pun mengernyitkan keningnya dan mencari tahu siapa kostumer VIP suaminya itu. "Siapa emangnya Mas?" tanya Marsha.


"Siapa kalau bukan tetangga kita yang sudah seperti saudara," balas Abraham dengan tertawa.


"Pak Belva dan Bu Sara? Ngapain lagi Mas?" tanya Marsha dengan merasa excited kenapa Bu Sara dan Pak Belva memberikan job tambahan untuk Abraham.


"Mengabadikan momen persalinan nanti, Yang ... lumayan sih. Cuma nanti dua orang saja, kan ya persalinan itu harus nyaman dan tidak mengganggu tim medis. Jadi, aku akan konsep supaya hasilnya bagus nanti," balas Abraham.


"Iya Mas ... mereka sudah seperti keluarga kita, jadi jangan mengecewakan. Lakukan yang terbaik," balas Marsha.


Sudah pasti Abraham akan melakukan yang terbaik. Untuk apa pun yang dia kerjakan tidak pernah Abraham melakukan secara setengah-setengah. Justru, dia akan terus melakukan yang terbaik untuk kepuasan kostumernya.


“Oh, iya … bulan depan Bu Sara sudah akan lahiran ya Mas? Cepet banget, tiba-tiba sudah mau melahirkan aja. Kayaknya baru kemarin Bu Sara bilang sedang hamil dan memberikan kita job untuk Sava Beauty Care. Hebat banget yah, iklannya Sava Beauty Care aja wara-wiri di televisi dan Youtube. Royalti yang diberikan untuk kita berdua juga besar banget,” balas Marsha.


“Iya Shayang … belum satu tahun katanya Pak Belva penjualannya sudah meningkat. Mau merambah ke pasar Asia Tenggara, dan nanti Brand Ambassador untuk yang iklan luar negeri akan mendatangkan Aktor Korea,” cerita Abraham kepada istrinya itu.


“Wah, luar biasa banget. Keren banget sih Bu Sara. Ibu rumah tangga tapi gurita bisnisnya luar biasa,” balas Marsha dengan geleng-geleng kepala begitu kagum dengan potensi besar yang dimiliki Bu Sara.


***


Dini harinya ....


Menjelang dini hari,, Marsha merasa dibangunkan karena mendengar Abraham yang tampak menggigil kedinginan. Marsha sampai heran karena tidak biasanya suaminya itu akan tidur dan merasakan menggigil. Akan tetapi, sekarang suaminya itu terlihat begitu kedinginan.

__ADS_1


Bahkan Abraham pun seolah mengigau malam itu. Hingga Marsha terbangun dan melihat kening suaminya yang berkeringat. Lantas Marsha mengubah posisinya dan meraba kening suaminya. Rupanya saat itu, kening suaminya panas. Ya, menjelang pagi itu justru Abraham demam. Kening hingga telapak tangannya begitu panas. Marsha lantas berdiri dan hendak mengompress kening suaminya itu dengan menggunakan air hangat. Tidak lupa Marsha mengambil Termometer di kotak P3K miliknya untuk mengukur suhu suaminya sekarang ini.


“38,3℃, kamu demam tinggi, Mas,” gumam Marsha dengan cukup panik lantaran termometer yang dia miliki sampai berbunyi.


Sebab, Abraham terbilang pria yang jarang sakit. Akan tetapi, sekarang tiba-tiba suaminya itu demam dan menggigil kedinginan. Perlahan Marsha pun membangunkan Abraham dan meminta suaminya itu untuk meminum obat yang mengandung Paracetamol untuk menurunkan demam.


“Mas, Mas Bram … bangun yuk. Kamu demam, minum obat dulu yuk,” ucap Marsha kali ini.


Merasa dibangunkan oleh Marsha, Abraham pun terbangun dengan mata yang sayu karena masih mengantuk, “Hmm, apa Shayang?” balasnya.


“Minum obat dulu yuk, kamu demam,” ucap Marsha kali ini.


Abraham lantas terbangun dan menatap istrinya. Pria itu hanya membuka mulutnya, menerima sebutir obat dan Marsha membantu memegangi gelas dan meminumkan ke suaminya itu.


“Dingin banget,” keluh Abraham kali ini.


Menyadari keluhan suaminya, Marsha segera mematikan AC di kamarnya. Kemudian membantu suaminya itu berbaring dan menyelimutinya hingga ke bagian dada.


Keringat dingin masih bermunculan di kening Abraham, Marsha pun menyeka keringat yang terus keluar di kening suaminya itu. Lantaran, tidak bisa tertidur. Marsha berpikir untuk membuatkan bubur. Sehingga nanti jika suaminya sudah bangun bisa langsung sarapan bubur.


Bubur Ayam sudah siap, tinggal menyajikan jika nanti suaminya itu bangun. Usai membuat sarapan, Marsha kembali ke dalam kamar, kembali meraba kening suaminya itu. Syukurlah kali ini, demam Abraham sudah reda. Marsha sungguh berharap bahwa suaminya itu akan membaik dan kembali sehat.


Hingga pagi tiba, Abraham pun terbangun dengan kain kompress di keningnya. Pria itu menyingkirkan handuk kompress itu, dan kemudian duduk dan menyandarkan punggungnya di headboard ranjangnya. Abraham memijit keningnya yang terasa begitu pening pagi itu. Bahkan kali ini Abraham merasa perutnya begitu mual. Rasa menyeruak di perut hingga di kerongkonan membuat Abraham berlari memasuki kamar mandi dan mulai memuntahkan isi perutnya.


Mendengar suara Abraham dari kamar mandi, Marsha pun berlari ke kamar mandi dan melihat suaminya itu.


“Kamu kenapa Mas?” tanya Marsha dengan panik.


“Keluar saja, Shayang … aku baru muntah,” ucap Abraham kali ini.


Akan tetapi, Marsha justru masuk dan memijit tengkuk suaminya itu. Pijatan yang berupaya mengeluarkan isi perut dan melegakan tenggorokan. Bahkan Marsha mulai menghidupkan keran air, dan terus memberikan pijatan di tengkuk suaminya itu.

__ADS_1


“Kamu kenapa Mas? Aku panik,” ucap Marsha. Kali ini wanita itu tampak berkaca-kaca, karena suaminya itu selalu sehat. Sejak menikah, bisa dikatakan baru kali ini suaminya sakit hingga muntah-muntah seperti ini.


“Enggak tahu, Shayang,” balas Abraham sembari berkumur dan menyeka wajahnya dengan air bersih.


Tangan Marsha bergerak demi meraih tissue dan segera menyeka bibir suaminya itu. “Rasanya gimana?” tanya Marsha kali ini.


“Mual, muntah. Udah lega sih, karena tadi sampai cairan pahitnya keluar,” jawab Abraham kali ini.


“Sarapan dulu yuk, abis ini ke Dokter yah,” ajak Marsha kepada suaminya itu.


“Enggak … aku di rumah saja. Istirahat sehari, pasti juga kembali sehat kok,” balas Abraham kali ini.


Akan tetapi, Marsha tampak menggelengkan kepalanya, “Periksa yuk Mas … aku takut,” balas Marsha lagi.


Kini Marsha merangkul pinggang suaminya, menatih suaminya untuk kembali menaiki ranjang dan bersandar di headboard. Tidak lupa Marsha menyelimuti kaki suaminya yang terasa dingin itu.


Usai itu, Marsha membawa semangkok Bubur Ayam buatannya ke dalam kamar, dan wanita itu begitu telaten menyuapi Abraham. Menyuapi suaminya itu perlahan hingga tandas. Setelahnya, Marsha mendekatkan segelas air putih ke bibir Abraham dan meminta suaminya itu untuk minum air putih hangat terlebih dahulu.


Selesai dengan mengurus sarapan suaminya, Marsha menaruh peralatan makan di dapur kemudian kembali ke kamar.


“Gimana Mas? Yuk ke Dokter yuk,” ajak Marsha lagi kali ini.


Akan tetapi dengan cepat Abraham menggelengkan kepalanya, “Sini peluk aku saja … kamu peluk, pasti aku akan segera sembuh,” sahutnya sembari merentangkan kedua tangan meminta istrinya itu untuk masuk dalam pelukannya.


Marsha pun segera masuk dalam pelukan suaminya, sembari mencerukkan kepalanya di dada suaminya itu.


“Aku khawatir kalau kamu sakit kayak gini,” ucap Marsha kini.


“Enggak apa-apa … cuma masuk angin dan demam biasa mungkin. Jangan khawatir,” balas Abraham.


“Kamu biasanya sehat … terus tiba-tiba sakit kayak gini, tentu saja aku panik,” jawab Marsha kini.

__ADS_1


“Aku sudah sehat kok … nih pelukan kamu bikin aku gak sakit lagi,” balas Abraham sembari mengusapi rambut istrinya itu. “Mungkin baby kita sudah OTW Shayang, aku yang sakit.”


Marsha tampak mengernyitkan keningnya. Mungkinkah hanya berselang tiga pekan dan sekarang dirinya sudah benar-benar positif? Apakah memang Marsha harus segera mengecek dengan menggunakan testpack.


__ADS_2