
Melvin benar-benar terpikirkan untuk mengambil cuti. Perkataan Michella barusan sedikit banyak mengganggu pikiran Melvin. Ingin rasanya, dia segera menemui Marsha sekarang ini. Sayangnya, itu tidak bisa Melvin lakukan karena masih ada take adegan yang harus dia lakukan.
Alhasil, sepanjang syuting pun, Melvin menjadi kurang fokus karena kepikiran dengan istrinya yang sedang berada di rumah.
“Vin, ayo dong fokus,” teriak Bang Rudhy, sang sutradara yang meminta Melvin untuk lebih fokus.
“Iya Bang, sorry … lima menit ya Bang,” balas Melvin sembari mengangkat tangannya.
Pria itu benar-benar sukar berkonsentrasi. Hanya memenuhi isi kepalanya hanyalah Marsha. Namun, dirinya harus bertahan di lokasi syuting sampai tengah malam nanti. Agaknya, tengah malam begitu tiba di rumah, Melvin harus berusaha menjaga moodnya dan tidak mengajak Marsha untuk adu mulut.
Susah payah Melvin berusaha memfokuskan pikirannya dan menyelesaikan adegan demi adegan yang harus diambil hari ini. Tepat tengah malam, barulah syuting selesai. Melvin pun menemui Bang Rudhy dan mengatakan keinginannya untuk mengambil cuti sebentar.
“Bang, boleh tidak aku ambil cuti sehari saja,” pinta Melvin kali ini kepada Bang Rudhy.
“Kenapa Vin? Biasanya kamu gak pernah cuti. Yang lain cuti, kamu sendiri selalu bekerja,” balas Bang Rudhy.
“Ada masalah pribadi, Bang … kangen Istri.” Melvin menjawab dengan jujur. Sudah beberapa pekan berlalu, menyentuh Marsha pun tidak dia lakukan. Rasanya kali ini Melvin benar-benar merindukan istrinya itu.
Terlebih setelah promosi dengan mengunggah hubungan settingan antara dirinya dan Michella, agaknya Melvin harus memberikan penjelasan kepada Marsha supaya istrinya itu bisa memahami kondisinya sekarang ini.
Mendengar pengakuan Melvin bahwa pria itu merindukan istrinya, Bang Rudhy pun tertawa sembari menepuk bahu aktornya itu.
“Ya sudah … besok kamu bisa cuti sehari. Ingat, hanya sehari yah. Soalnya kita stripping. Setiap hari harus take adegan,” balas Bang Rudhy.
“Iya Bang … makasih banyak,” jawab Melvin.
Usai mendapatkan cuti sehari dari Bang Rudhy. Melvin merasa lega. Agaknya besok dia harus menyusun banyak hal untuk menghabiskan waktu sehari penuh dengan Marsha.
__ADS_1
Setelahnya Melvin pulang menuju rumahnya. Jalanan di Ibukota sudah cukup lengang, sementara Melvin baru saja menempuh perjalanan pulang. Pria bersusah payah menahan kantuk, dan bisa menemui Marsha dengan perasaan yang baik. Begitu sampai di rumah, ternyata Marsha sudah terlelap.
Melihat Marsha yang hampir tiap malam menghabiskan waktu sendirian di rumah membuat Melvin merasa kasihan dengan istrinya itu. Melvin memilih membersihkan badannya terlebih dahulu, kemudian berganti dengan pakaian rumah, setelahnya Melvin pun mendekap tubuh Marsha, memeluknya dari belakang.
Pria itu menyampirkan rambut Marsha hingga sisi wajah Marsha terlihat, lantas Melvin mendaratkan kecupan di pipi Marsha.
“Maafkan aku, Ayang,” ucapnya dengan lirih.
Melvin mengucapkan semuanya itu dan berusaha untuk tidak membangunkan Marsha. Rupanya kecupan yang Melvin berikan di pipi istrinya cukup mengusik tidur Marsha hingga wanita itu menggeliat.
Melvin lantas menarik selimut, dan menyelimuti tubuh Marsha. Pria itu merebahkan dirinya, dan melingkarkan tangannya di pinggang Marsha. Bisa dikatakan baru kali ini melakukan hal demikian. Biasanya, Melvin lebih memilih langsung tidur dan memunggungi Marsha.
***
Pagi harinya …
“Setiap pagi kamu bangun jam berapa sih Ayang?” gumam Melvin sendirian.
Sungguh ironis memang, sampai Melvin pun tidak tahu jam berapa Marsha terbangun di pagi hari. Pagi itu seakan Melvin tersadar bahwa banyak hal yang terlewatkan. Banyak hal yang berlalu begitu saja tanpa dia tahu aktivitas istrinya sendiri.
Melvin menghela nafas panjang, kemudian segera menuju ke dapur. Melihat ke bawah sapa tahu Marsha ada di sana.
Rupanya, benar. Marsha sedang duduk di meja makan dengan menikmati secangkir Teh Hangat di sana. Melvin pun mendekat ke arah Marsha dan menyapa istrinya itu.
“Ayang, kamu sudah bangun yah?” tanya Melvin secara langsung kepada Marsha.
“Kamu sudah bangun? Iya, aku sudah bangun. Mau Teh Hangat?” tawar Marsha kepada suaminya itu.
__ADS_1
“Iya, boleh,” Melvin menjawab sembari menganggukkan kepalanya.
Marsha pun segera bangkit dan membuatkan secangkir Teh Hangat untuk Melvin. Bahkan wanita itu terlihat biasa saja, dan melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Dari jauh, rupanya Melvin pun mengamati Marsha.
“Ini Tehnya,” ucap Marsha dengan memberikan secangkir Teh Hangat kepada Melvin.
“Makasih Ayang,” balasnya.
Melihat sikap Melvin yang baik dan tidak mengajaknya adu mulut di pagi hari justru membuat Marsha mengernyitkan keningnya. Biasanya pagi hari akan dia lalui dengan adu mulut, seperti yang sudah-sudah. Sementara sekarang ini, Melvin justru bersikap baik padanya. Ada apakah gerangan yang membuat Melvin bersikap baik dan tidak mengajaknya berdebat di pagi hari.
“Kamu makan apa Ayang?” tanya Melvin yang melihat Marsha memakan roti panggang dengan menggunakan butter itu.
“Roti panggang, mau? Aku bisa buatkan,” balas Marsha.
Terlihat Melvin menggelengkan kepalanya, kemudian pria itu mengambil alih roti panggang yang semula digenggam Marsha.
“Ini aja buat aku,” sahut Melvin.
“Eh, tapi … itu bekas gigitanku,” balas Marsha.
Melvin tersenyum, “Tidak masalah … kamu istri aku sendiri,” jawabnya.
Lagi-lagi Marsha mengernyitkan keningnya. Tidak biasa dengan sikap Melvin di pagi hari itu. Sebab, tidak biasanya Melvin bersikap demikian. Biasanya Melvin tidak mau berbagi makanan dengannya. Namun, sekarang Melvin justru mengambil roti yang sudah dia gigit terlebih dahulu.
“Berangkat ke lokasi jam berapa?” tanya Marsha kepada suaminya itu.
Melvin menggelengkan kepalanya dan menaruh roti bakar itu di atas piring. “Aku tidak ke lokasi hari ini. Aku cuti,” balas Melvin.
__ADS_1
Kini justru kedua bola mata Marsha menyipit sepenuhnya. Apa yang terjadi dengan suaminya? Mengapa justru pagi ini suaminya itu terlihat berbeda. Pagi hari tanpa perdebatan, pagi hari tanpa adu mulut, dan kini tiba-tiba suaminya mengatakan tengah mengambil cuti. Bukannya senang, Marsha justru tercekat dengan ucapan suaminya itu.