Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Masih Ada Kejutan


__ADS_3

Acara formal dan cukup serius antara Marsha, Abraham, Belva dan Sara akhirnya ditutup dengan makan malam bersama. Menu yang disiapkan Marsha berupa Bestik Daging Sapi itu agaknya begitu cocok di lidah Sara dan Belva. Bahkan Bu Sara yang tengah hamil terlihat sangat menikmati sajian yang sudah dibuat oleh Marsha.


“Ini namanya apa Sha?” tanya Bu Sara dengan sesekali mengunyah makanannya.


“Namanya Bestik Daging Sapi, Bu … saya itu bingung mau membuat apa. Tidak mungkin kan saya hanya menggoreng Lele dan membuat sambal,” balas Marsha dengan terkekeh geli.


“Kalau kamu membuat itu, sekalian nasi uduknya dong … biar jadi Pecel Lele Nasi Uduk, itu kesukaan aku banget,” balas Sara dengan tertawa.


“Menu makanan waktu berjuang ya Bu?” kekeh Marsha karena teringat bahwa makanan itu adalah makanan yang sering dimakan oleh Bu Sara ketika masih ada berada di titik nol dulu.


Bu Sara pun semakin tertawa, “Bener banget … kamu masih ingat yah?”


“Tentu saya ingat dong, Bu … kita kan Bestie,” balas Marsha.


Dua keluarga itu tampak tertawa bersama, sementara Elkan tampak serius menemani Mira dengan buku-buku Ensiklopedia yang dimiliki Mira. Memang tidak begitu banyak, tidak seperti buku Evan dan Elkan yang banyak dan bisa memiliki satu series secara utuh. Sementara Mira hanya memiliki beberapa saja.


“Kalian ngapain serius banget?” tanya Papa Belva kepada Elkan dan Mira yang seolah duduk berdua, terlihat sedang mojok bersama.


“Belajar Pa … ini Mira membaca kok,” balas Elkan.


“Ditemenin Miranya belajar … biar pandai,” balas Papa Belva.


“Pandai kayak El ya Pa,” sahut Elkan.


Mendengar jawaban Elkan, giliran Papa Abraham yang menyahut di sana, “Emangnya Kakak El pandai yah?” tanyanya.


“Iya dong Om … Elkan sudah belajar menulis di sekolah loh Om … cuma angka dua dan angka tujuh katanya Miss-nya (guru) belum rapi,” cerita Elkan.


“Iya Om Bram … memang angka dua dan tujuhnya Elkan belum rapi. Makanya harus banyak berlatih menulis ya El … biar pandai kayak Kak Evan dan Papa,” balas Bu Sara.


Memang jika melihat kecerdasan kognitif, Bu Sara tidak ada apa-apanya. Sepenuhnya Bu Sara bahwa dirinya hanya seorang lulusan SMA saja, dan tidak pernah merasakan bangku kuliah. Sementara suaminya adalah sosok yang pandai dan hebat. Evan pun juga tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mendapatkan juara 1 di kelasnya. Untuk itu, Mama Sara berharap Elkan juga akan sepandai suaminya dan putra sulungnya.


“Mama juga pandai kok … kan Elkan bisa membaca dan menulis diajarin Mama di rumah. I Love U, Mama,” balas Elkan yang kemudian menghambur dan memeluk Mamanya, sejenak dia meninggalkan Mira untuk bisa memeluk Mamanya. Walau Mama Sara merasa dirinya tidak pandai dan hebat, tetapi bagi Elkan, Mamanya adalah yang terbaik dan terhebat untuknya.


“Makasih Kak El,” ucap Mama Sara.


“Itu Mama makan apa Ma?” tanya Elkan kemudian.


“Ini Bestik Daging Sapi yang memasak Tante Marsha tadi … kamu mau, biar Mama suapin?”

__ADS_1


Elkan pun menganggukkan kepalanya perlahan, “Mencoba sedikit saja Ma,” balas Elkan.


Akhirnya anak kecil itu mengangkat dua jempolnya dan menghadap Marsha, “Yummy Tante … ini enak banget. Yummy!”


“Terima kasih Kak El,” balas Marsha dengan tersenyum.


Mira yang merasa ditinggal sendiri akhirnya juga mendekat ke Mama dan Papanya. Ya, gadis kecil berusia 3 tahun ini, kini memilih duduk di antara Mama dan Papanya. 


"Mira ditinggal sendirian," ucapnya dengan nada yang terdengar merajuk. 


"Kan Mama dan Papa di sini. Jadi, Mira belajar dulu tidak apa-apa," balas Marsha. 


"Kakak El juga sama Mama dan Papa kok," sahutnya lagi. 


Akhirnya Elkan pun tertawa, "Aku cuma sebentar kok Mira. Ini sudah, mau baca buku lagi?" tanyanya. 


"Hmm, mau," balas Mira. 


Akhirnya Elkan dan Mira sama-sama membaca buku terlebih dahulu. Sementara para orang tua masih menikmati masakan Marsha yang benar-benar enak. Hingga Sara ingin menambah lagi. 


"Marsha, sorry ... tapi masakan kamu sangat enak. Jadi, bolehkah aku nambah?" tanyanya. 


Marsha pun tertawa, "Tentu boleh Bu Sara ... silakan," balasnya. 


"Sebenarnya untuk resepnya tadi Marsha tanya ke Mama Diah sih Bu... intinya yang tidak ribet aja untuk kami berdua. Akhirnya Mama Diah memberikan ide untuk memasak Bestik Daging Sapi. Kebetulan juga, saya dan Mas Abraham begitu menyukai Bestik. Lebih-lebih, Bestik yang ada di Toko Oen, Semarang," cerita Marsha. 


Ya, seakan Marsha ingin berbagi kepada tetangganya itu bahwa ada makanan yang merupakan akulturasi antara hidangan Belanda dan Jawa yang bernama Bestik. Cita rasa yang enak dan juga dipadukan bumbu Nusantara. Rupanya Sara dan Belva pun juga sangat menikmati masakan yang dibuat Marsha ini. 


"Kayaknya kita harus ke Semarang dan mencoba Bestik di Toko Oen itu deh Mas," ucap Sara kepada suaminya. 


"Iya, boleh … tentunya tahun depan yah. Sebab, minggu depan kita sudah punya baby. Praktis, kegiatan kamu menjadi terbatas," balas Belva. 


Diingatkan tentang bayinya barulah Sara sadar bahwa memang dirinya akan segera melahirkan dan mengambil tindakan Caesar untuk melahirkan bayinya. Yang dikatakan suaminya benar, sehingga kegiatannya akan terbatas. 


Begitu makan malam telah usai, mereka masih mengobrol bersama. Tentu sembari Elkan dan Mira yang masih betah bersama. 


"Nanti kalau melahirkan anak-anak dititip di sini tidak apa-apa, Bu Sara," kata Marsha kepada tetangganya itu. 


"Kamu gak repot tuh kalau aku nitip Evan dan Elkan?" tanya Bu Sara. 

__ADS_1


"Enggaklah Bu … dulu waktu saya ada urusan itu, saya juga menitipkan Mira yang masih bayi ke Bu Sara. Tidak apa-apa, Bu," balas Marsha. 


Ya, dia ingat ketika dulu mendiang Papa Wisesa tiada, Marsha pernah menitipkan Mira yang masih bayi kepada Bu Sara. Untuk itu, menurut Marsha tidak masalah jika nanti Evan dan Elkan dititipkan di rumahnya. 


"Makasih Marsha, nanti kalau bosen anak-anak biar main ke sini. Besok juga mertuaku datang dari Singapura. Ada Mama dan Papanya Mas Belva yang datang dan mau jagain Evan dan Elkan," balas Sara. 


"Siap Bu," balas Marsha. 


Mengingat hari sudah malam, kemudian Bu Sara dan Pak Belva pun mengajak Elkan untuk pulang. Sebab, keesokan harinya Elkan masih harus sekolah. 


"Yuk, El … kita pulang dulu," ajak Bu Sara. 


Elkan pun menganggukkan kepalanya, "Mira, aku pulang dulu yah. Besok main lagi," pamit Elkan kepada Mira. 


Walau Mira tampak sedih, tetapi Mira tetap membiarkan Elkan untuk pulang. "Ya Kak El, besok main lagi yah," balasnya. 


Setelahnya Elkan menuju ke Mamanya dan ada sesuatu yang dia bisikan kepada Mamanya. Pak Belva pun menganggukkan kepalanya dan memgantar Elkan ke mobil terlebih dahulu. Hanya beberapa detik Elkan sudah kembali lagi dan masuk ke dalam rumah Mira. 


"Mira, ini buku Ensiklopedia yang kamu mau. Aku sudah belikan dengan Papa tadi. Nanti kamu bisa menemukan Bunga berwarna biru namanya Forget me not dan Love In Mist. Dibaca yah," ucap Elkan.


Betapa manisnya perilaku Elkan itu. Baru beberapa hari yang lalu, Mira bertanya perihal Ensiklopedia yang memuat info Bunga berwarna biru, rupanya sekarang Elkan sudah membelikannya untuk Mira. Buku yang sengaja dibungkus dengan indah dengan pita berwarna biru di sana. 


"Makasih Kakak El," balas Mira yang tentunya senang dengan pemberian Elkan. 


"Iya, sama-sama. Lalu, ini ada hadiah lagi buat kamu. Sayang kamu, Mira," ucap Elkan dengan memberikan sebuah boneka beruang berwarna pink untuk Mira. 


Anak kecil dan mendapatkan boneka sudah pasti membuat Mira begitu senang. Senyuman pun mengembang di wajahnya. "Makasih Kakak El, makasih," balasnya. 


"Dipeluk Adiknya," ucap Belva kepada Elkan. 


Elkan pun memangkas jaraknya, dan kemudian memeluk Mira dengan sayang. "Aku pulang dulu yah, besok main lagi," ucap Elkan. 


Marsha dan Abraham hanya senyam-senyum di sana. Anak sekecil Elkan saja bisa memberikan kejutan berupa hadiah untuk Mira. 


"Tadi El beli sendiri sama Papanya," bisik Bu Sara kepada Marsha. 


"Sweetnya," balas Marsha. 


"Ya sudah, kami pamit yah. Makasih yah semuanya. Mira, Mama dan Papa pulang dulu yah. Love U, Nak," ucap Bu Sara dengan memeluk Mira. 

__ADS_1


"Makasih Mama Sara, Papa Belva, dan Kak El," balasnya. 


Mendapatkan tanda pengikat dari keluarga Agastya saja sudah merupakan kejutan, tetapi rupanya Elkan masih memiliki kejutan lain untuk Mira. Sebuah buku Ensiklopedia dan boneka, yang tentu sangat disukai Mira. Bagaimana Mira tidak sayang, jika Elkan yang masih kecil saja begitu sayang dengannya. 


__ADS_2