
Sudah Marsha duga sebelumnya bahwa pasti suaminya akan memintanya untuk berbicara baik saat ada wartawan yang mungkin saja menelponnya nanti. Kali ini, Marsha memilih mematikan handphonenya. Agaknya Marsha membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya. Di saat dirinya ingin menerima semua penjelasan Melvin, justru hatinya seakan bertolak belakang dan justru ragu dengan penjelasan yang baru saja Melvin ucapkan kepadanya.
Sampai pada akhirnya, Marsha memilih untuk tidur. Mengistirahat pikirannya yang terasa begitu lelah. Lantaran Marsha menon-aktifkan handphonenya, beberapa pesan dan panggilan dari Nania pun tidak terjawab. Nania sampai pada akhirnya memilih untuk menunggu sampai hari esok tiba dan menanyai Marsha sebenarnya apa yang terjadi.
Keesokan harinya, Nania pun segera menggedor kamar Marsha. Jujur saja, Nania khawatir dengan sikap Marsha. Terlebih tidak pernah sebelumnya Marsha bersikap demikian.
“Marsha, kamu ngapain sih? Dari semalam kamu membuat aku dan Abraham cemas tahu enggak,” ucap Nania begitu kamar milik Marsha telah terbuka.
“Aku semalam tidur, capek banget rasanya,” sahut Marsha.
“Lalu kenapa nomor kamu tidak bisa dihubungi?” tanya Nania lagi.
“Aku matikan … biar bisa beristirahat,” jawab Marsha dengan tersenyum. Sekalipun perasaannya kacau balau, tetapi Marsha masih mencoba menyembunyikan permasalahan yang saat ini dia hadapi.
“Kalau ada masalah cerita dong Sha … kita berteman sudah lama. Kita gak hanya punya hubungan kerja, kita adalah temen, sahabat,” ucap Nania.
Tampak Marsha menganggukkan kepalanya, “Aman … lagipula aku baik-baik saja kok. Oh, iya … jadwal hari ini kemana kita?” tanya Marsha.
“Ke Pantai Parangtritis, Sha. Pemotretan di sana, sekalian menghirup udara segar di pantai. Kayaknya kamu butuh relaksasi deh,” balas Nania.
“Ya sudah, aku ngikut saja,” balas Marsha.
Usai memastikan bahwa kondisi Marsha aman, Nania akan menunggu Marsha ke bawah. Siang itu, mereka akan menuju ke Pantai Parangtritis. Kurang lebih selama sepuluh menit, Nania menunggu di bawah, Abraham juga sudah bersiap dengan kamera dan beberapa lensa yang tersimpan di dalam mobilnya. Hingga akhirnya Marsha telah keluar dan menemui mereka.
“Berangkat sekarang?” tanya Marsha.
“Yuk, biar nanti tidak kemalaman sampai ke hotel,” sahut Nania. “Sha, kamu sama Abraham saja ya. Nanti kelihatannya aku juga balik dulu. Bram, lo enggak keberatan kan bawa Marsha?” tanya Nania kepada pria itu.
__ADS_1
“Ya, gak masalah,” sahut Abraham.
Kali ini wajah Marsha terlihat biasa saja. Jika sebelum-sebelumnya Marsha terlihat enggan, tetapi kelihatannya kembali menjadikan Abraham tempat curhat tidak ada masalah. Marsha pun segera memasuki mobil yang dikemudikan Abraham. Mengambil tempat duduk di samping kursi kemudi.
“Kamu baik-baik saja kan?” tanya Abraham begitu mengemudikan mobil itu.
“Iya,” jawab Marsha.
“Semalam hampir aku gedorin pintu kamar kamu, tetapi aku mencoba berpikiran positif dan kamu mungkin saja baru tidur,” sahut Abraham.
“Iya, gue memilih tidur,” sahut Marsha.
Sampai pada akhirnya, mobil yang dikemudikan Abraham memasuki area Desa Parangtritis, Kabupaten Bantul, Jogjakarta. Jalanan yang melewati perbukitan, angin yang semilir, dan beberapa pantai yang terlihat dari jalanan. Pemandangan yang tidak Marsha temui di Jakarta. Hingga akhirnya, mobil itu mengambil parkir di Pantai Parangtritis. Deburan ombak seakan menyapa mereka. Pasir berwarna hitam yang membuat pantai itu tampak kian eksotis.
“Kita pemotretan dulu ya Sha … setelahnya kalian boleh jalan-jalan, liburan,” ucap Nania kali ini.
“Sedikit ke kiri, Sha … ya gitu, bagus,” ucap Abraham.
Jepretan lensa kamera berkali-kali berkilau. Abraham juga tak jemu-jemu membidik Marsha dengan lensa kamera.
“Sekarang candid ya Sha, cuma agak menepi saja … ombaknya kenceng,” instruksi Abraham kali ini.
Marsha menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti arahan demi arahan yang diberikan Abraham. Sampai pada akhirnya pria itu berlalu mendekat ke Marsha dan menunjukkan hasil jepretannya kepada Marsha.
“Coba kamu lihat dulu, Sha … ada yang kurang tidak?” tanya Abraham.
Tangan Marsha pun terulur dan menggeser foto-foto di kamera digital milik Abraham. Terlihat raut wajah Marsha yang berubah-ubah, terkadang wanita itu diam, terkadang tersenyum, hingga akhirnya dalam diam Abraham menyunggingnya senyumannya menatap wajah Marsha.
__ADS_1
“Oke … bagus, Bram,” balas Marsha.
Mendengar suara Marsha, Abraham mencoba menyembunyikan senyumannya dan menerima kembali kamera dari tangan Marsha. Bahkan sekarang tangan Marsha dan Abraham saling bersentuh saat menerima kamera itu. Bisa Abraham rasanya halusnya permukaan kulit tangan Marsha yang menyentuh telapak tangannya.
“Sorry Bram,” ucap Marsha yang merasa tidak enak kepada Abraham.
“No problem,” balas Abraham. “Kelihatannya foto-foto kita sudah cukup deh, Sha … kamu tunggu sini ya. Aku masukkan kameranya ke mobil dulu, biar lensanya aman dan tidak kena air dan pasir. Mau minum air kelapa?” tanya Abraham kepada Marsha.
“Boleh deh, kelihatannya minum air kelapa seger deh,” sahut Marsha.
Abraham sedikit berlari menyimpan kameranya ke dalam mobil terlebih dahulu, kemudian pria itu kembali dengan membawa dua buah kelapa. Memberikan satu untuk Marsha yang kini duduk di atas pasir yang kering dan tidak terkena sapuan ombak.
“Minum dulu … jangan melamun loh,” ucap Abraham.
Marsha pun mengerjap dan kemudian menerima buah kelapa dari Abraham. “Thanks Bram,” balasnya.
Keduanya pun duduk bersama di atas pasir itu. Merasakan deburan ombak yang bergulung-gulung di depan mata, dengan angin di pantai laut selatan yang semilir, sembari meneguk air kelapa yang terasa benar-benar segar.
“Ingat enggak Sha, dulu kita pernah ke mari,” ucap Abraham dengan tiba-tiba.
“Hmm, iya,” sahut Marsha.
“Dulu kita duduk saling memeluk seperti pasangan di sana,” tunjuk Abraham pada pasangan kekasih yang duduk dan saling memeluk.
“Semua hanya masa lalu, Bram,” balas Marsha dengan tersenyum getir.
Perlahan Abraham pun menganggukkan kepalanya, “Benar Sha, tetapi semua itu terasa sesak. Aku masih ingat semuanya Sha,” balas Abraham lagi.
__ADS_1
Saat Abraham mengatakan itu, ombakpun berdeburan. Buih-buih ombak menyapa hingga ke bibir pantai. Perkataan Abraham barusan layaknya deburan ombak yang menggetarkan hati Marsha. Wanita itu menerka-nerka dalam hatinya sendiri, mungkinkah Abraham masih mengingat semuanya?