
Abraham yang masih berdiri di dekat kitchen island pun terkejut. Tidak menyangka bahwa Mamanya akan datang dari Semarang ke Jakarta. Sebab, sebelumnya Mama Diah tidak mengatakan apa-apa. Kunjungannya ke Jakarta pun sangat mendadak. Angin apa yang membawa Mama Diah tiba-tiba datang ke Jakarta tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?
"Ma, kapan Mama datang?" sapa Abraham yang berjalan dan hendak memeluk Mamanya itu.
Mama dan anak itu berpelukan, sementara Marsha berjalan mundur dan memberi ruang untuk Abraham dan juga Mama Diah. Sungguh, Marsha tak ingin menginterupsi Abraham saat ini. Sesungguhnya, Marsha begitu tercekat, takut dengan Mama Diah. Terbayang dengan kenangan masa lalunya dulu ketika Mama Diah memintanya untuk memutuskan Abraham.
"Gimana kabar kamu, Bram?" sapa Mama Diah dengan mengurai pelukannya pada Abraham.
"Baik Ma … ayo, masuk, Ma. Oh, iya … Mama masih ingat Marsha kan?" ucap Abraham kali ini.
Pria itu masih bersikap begitu tenang. Walau Marsha sudah memberitahunya masa lalunya dulu, tetapi sekarang Abraham bisa bersikap tenang dan seolah tidak terjadi apa-apa di antara Mamanya dan Marsha.
Kendati demikian, tidak dipungkiri bahwa Abraham pun berharap bahwa Mamanya bisa menerima Marsha. Keduanya adalah wanita yang berharga bagi Abraham. Abraham ingin mendapatkan kasih sayang dari Mamanya, dan sekaligus mendapatkan cinta dari Marsha.
“Biar aku buatkan minum,” ucap Marsha.
Untuk mengusir kecanggungannya, Marsha memilih untuk menuju ke dapur dan membuatkan Teh hangat untuk Tante Diah. Selain itu, Abraham dan Mamanya bisa mengobrol terlebih dahulu.
“Kenapa Marsha bisa di sini Bram?” tanya Mama Diah yang memperhatikan punggung Marsha yang saat ini tengah menyeduh Teh di dapur.
“Iya Ma … sudah hampir dua bulan kami kembali bersama,” ucap Abraham.
__ADS_1
Tentu saja itu bukan jawaban yang gamblang. Sebab, walaupun Abraham sudah mengatakan perasaannya kepada Marsha, tetapi Marsha belum memberikan kepastian kepada Abraham.
“Kembali bersama yang seperti apa Bram?” tanya Mama Diah.
Tentu saja sebagai seorang Mama, agaknya Mama Diah meminta penjelasan secara detail kepada Abraham. Sebab, putranya itu sama sekali tidak pernah menceritakan perihal Marsha kepadanya.
“Kalian hidup bersama?” tanya Mama Diah.
Abraham memilih diam, menerka-nerka apa yang dimaksud oleh Mama Diah itu. Kali ini, rasanya Abraham ingin mempertahankan Marsha di sisinya. Tidak ingin berpisah lagi dari wanita yang sudah dicintainya sejak lama.
“Abraham masih sangat mencintainya, Ma,” jawab Abraham.
“Bisa belikan Mama Sate Ayam yang ada di bawah apartemen ini enggak Bram?” pinta Mama Diah kali ini kepada Abraham.
“Bisa Ma,” balas Abraham.
Abraham pun segera turun, sebelumnya pria itu merangkul bahu Marsha yang masih berada di dapur dan berpamitan untuk turun sebentar.
“Sha … Yang, aku turun sebentar yah. Baik-baik sama Mama,” pamitnya dengan berbisik lirih di telinga Marsha.
“Iya, jangan lama-lama yah,” balas Marsha.
__ADS_1
Sepeninggal Abraham, rupanya Mama Diah pun berjalan dan menghampiri Marsha.
“Bagaimana kabarmu, Marsha?” tanya Mama Diah.
“Oh, Marsha baik, Tante,” balasnya.
“Bukannya kamu baru saja bercerai dengan aktor top itu kan Marsha? Lalu, kamu sudah seatap dengan anak Tante?” tanya Mama Diah lagi.
Ada gelengan samar dari kepala Marsha, “Tidak Tante, Marsha hanya main ke apartemen Abraham. Marsha tinggal di gedung ini juga, di lantai 14,” jawabnya.
“Oh, baguslah … Tante kira kalian sudah seatap,” balas Mama Diah. “Kamu tentu tidak lupa dengan apa yang pernah Tante minta darimu dulu kan?” tanya Mama Diah.
Marsha menganggukkan kepalanya. Hatinya terasa begitu sakit, mengingat masa lalu. Di mana dia harus melepaskan Abraham di saat dia masih begitu sayang dengan Abraham. Perpisahan terpedih bukan lantaran kamu meninggalkan orang yang membencimu, tetapi adalah kamu meninggalkan dan mengucapkan perpisahan kepada orang yang kamu sayangi.
“Jika, sekarang … Tante sekali lagi meninggalkan Abraham bagaimana Sha?” tanya Mama Diah.
Jantung Marsha begitu sesak, seolah beban menghantamnya sekarang. Marsha tahu dia mungkin tidak akan pernah bersama dengan Abraham. Di saat dia mulai nyaman dengan Abraham dan semua romansa yang tercipta, Marsha harus kembali meninggalkan Abraham untuk kali kedua.
“Tante harap … kali ini kamu akan melakukan hal yang sama, Marsha. Bagaimana pun Tante tidak setuju dengan hubungan kalian berdua. Lebih-lebih sekarang kamu janda. Putra Tante masih bisa mendapatkan seorang gadis di luar sana,” ucap Mama Diah.
Kembali Marsha harus terluka. Bunganya layu sebelum berkembang. Wanita itu harus kembali menelan pahitnya patah hati, di saat dia sedang jatuh cinta lagi dengan mantan kekasihnya. Marsha hanya diam, tak menjawab setiap perkataan yang diucapkan oleh Mama Diah. Jika Cinta tidak mendapatkan restu, akhir seperti apa lagi yang ingin dikehendaki? Tidak, hanya bisa kembali lari, dan melukai kekasih yang mengharapkan untuk senantiasa di sisi.
__ADS_1