
“Teman tapi mesra, aku juga tidak keberatan, Sha,” ucap Abraham saat itu dengan terus menggenggam tangan Marsha.
Abraham sangat tahu, tawarannya itu terlalu berisiko. Yang sedang dia dekati sekarang ini adalah istri orang. Akan tetapi, kenapa justru Abraham kian tertantang untuk bisa mendapatkan Marsha seutuhnya. Terlepas dari semua kenangan manis dan pahit di masa lalu, di masa kini Abraham justru bersyukur bisa bertemu lagi dengan Marsha.
Dulu, kisahnya dengan Marsha memang telah usai. Hanya saja dalam hatinya, Abraham tidak ingin mengakhiri kisah kasihnya bersama Marsha begitu saja. Terlebih saat itu, Marsha yang memutuskannya secara sepihak. Sampai dua tahun yang lalu, Abraham kemudian melihat pemberitaan di sebuah media hiburan tanah air bahwa Marsha menikah dengan seorang aktor papan atas di negeri ini.
Abraham akui, dua tahun yang lalu adalah titik terendahnya. Hatinya sangat sakit melihat gadis yang dia cintai bersanding dengan pria lain. Memang pria itu begitu tampan dan memiliki karir yang cemerlang. Hanya saja, hatinya tetap merasa tidak rela, jika Marsha bersanding dengan Melvin Andrian.
Abraham pun berusaha hijrah dari Semarang menuju kota Jakarta, dan mendapatkan pekerjaan yang dekat dengan pekerjaan Marsha yaitu sebagai Fotografer. Untung saja, takdir kembali mempertemukannya dengan Marsha. Melihat Marsha yang tidak menolak saat Abraham menggenggam tangannya, Abraham yakin bahwa dirinya bisa kian mendekat dengan Marsha.
Jika cinta memang tidak harus memiliki, biarlah kali ini perasaan terlarang membuat Abraham bisa memiliki Marsha dengan hubungan yang mereka sepakati bersama. Simbiosis mutualisme yang dia utarakan kiranya bisa menjadi penawar rindu bagi Abraham.
“Kita bukan teman tap mesra, Bram … melainkan, mantan tapi mesra,” jawab Marsha dengan menahan tawa.
Ya, dirinya memang bukan teman, melainkan hubungan mantan kekasih yang justru mulai mesra. Memang lucu rasanya, tetapi bagaimana jika kenyamanan yang lebih mendominasi dan mengoyak janji suci pernikahan yang sudah diikrarkan antara Marsha dengan Melvin.
“Pilihan kata yang bagus, Sha … mantan tapi mesra. Oke, aku tidak keberatan. Berarti boleh dong, aku bermesraan dengan kamu,” goda Abraham kali ini kepada Marsha.
Dengan cepat Marsha menarik tangannya dari genggaman tangan Abraham, wanita itu hanya tertunduk. Bagaimana mungkin justru sekarang Abraham mengatakan bahwa dirinya bisa bermesraan dengan dirinya.
“Bercanda, Sha … ya sudah, jalan-jalan yuk. Nonton bioskop. Kamu suka menonton kan?” ajak Abraham kepada Marsha kali ini.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, ide nonton bioskop bersama adalah ide yang bagus. Lagipula, tidak mungkin dirinya hanya berdiam di dalam kafe ini untuk sekian jam lamanya.
“Oke, boleh,” sahut Marsha.
__ADS_1
Abraham segera berdiri dan kemudian meraih tangan Marsha, menautkan jari-jemarinya di antara sela-sela ruas jari Marsha. Menggandeng wanita itu dan berjalan bersamanya. Tidak peduli dengan beberapa mata yang memandangnya. Lagipula, Marsha mengenakan masker yang bisa menyamarkan penampilannya bahwa Marsha adalah istri seorang aktor papan atas.
“Jadi keingat zaman dulu yah,” ucap Abraham dengan tiba-tiba.
Semua kenangan saat mereka masih berpacaran, seolah terulang kembali. Dulu, Abraham selalu menggandeng dan menggenggam tangan Marsha seperti ini. Pria itu bahkan merasa bangga bisa menggandeng tangan wanita yang cantik seperti Marsha.
“Masa lalu biarkan masa lalu, Bram,” sahut Marsha.
Abraham pun tersenyum mendengar ucapan Marsha itu, kemudian pria itu berbisik lirih di sisi telinga Marsha.
“Seperti lirik lagu, Sha … masa lalu biarkan masa lalu. Jangan kau ungkit, jangan ingatkan aku,” balas Abraham.
Mendengar ucapan Abraham, Marsha pun terkekeh geli. Wanita itu tidak menyangka bahwa Abraham masih sekocak itu.
“Aku tetap seperti ini, Sha … tahun-tahun berlalu, aku masih seperti ini,” balas Abraham. Seolah pria itu menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berubah.
Tahun boleh berganti dengan tahun, tetapi Abraham masih sama. Pria itu sama sekali tidak berubah. Bahkan perasaan hatinya pun masih sama untuk Marsha.
Sampai akhirnya keduanya tiba di studio bioskop. Abraham memilih film yang akan mereka lihat bersama, dan memilih tempat duduk. Bahkan Abraham menawarkan camilan kepada Marsha.
“Ingin Popcorn?” tanya Abraham.
“Tidak, tidak usah,” jawab Marsha. Itu memang karena Marsha tidak begitu menyukai Popcorn. Menonton film tanpa mengunyah camilan justru membuat diri lebih fokus.
“Kamu juga masih sama, Sha … tidak suka Popcorn,” balas Abraham.
__ADS_1
Keduanya kemudian menunggu sampai pintu studio dibuka. Memilih duduk bersama, dan menyamankan diri.
Sampai akhirnya, keduanya mengambil tempat sesuai dengan nomor tempat duduk mereka. Marsha menatap Abraham karena mereka berdua duduk di posisi cukup belakang. Berdebar-debar tentu saja, terlebih pikiran-pikiran di masa lalu kembali menyeruak begitu saja. Marsha bahkan menggigit bibirnya sendiri, panik sesungguhnya dan canggung duduk sedekat ini dengan Abraham. Begitu lampu di studio dimatikan, Abraham menggerakkan tangannya, dan merangkul pinggang Marsha.
Merasakan tangan Abraham di pinggangnya, Marsha menghela nafas dan melirik ke arah Abraham.
“Bram,” ucap Marsha dengan lirih.
Pria itu justru tersenyum dan menganggukkan kepalanya secara samar. “Hanya sebatas ini,” ucap Abraham.
Abraham kemudian beringsut, duduk lebih dekat dengan Marsha. Pria itu duduk sampai kedua pahanya bisa bersentuhan dengan paha Marsha. Dengan satu tangan yang merangkul pinggang Marsha di sana. Ya Tuhan, bersama dengan Abraham dengan posisi sedekat ini saja membuat Marsha begitu deg-degan. Sensasi di dalam hati yang tidak bisa dia bendung lagi.
“Suka filmnya?” tanya Abraham dengan berbicara tepat di sisi telinga Marsha.
Tentu hembusan nafas yang hangat dari Abraham dan juga suara bariton pria itu yang begitu khas, membuat Marsha terkesiap.
“Suka,” sahut Marsha dengan nafas yang terasa berat.
Abraham menggerakkan tangannya, memberi sedikit remasan di pinggang Marsha. Tangannya yang hangat menyentuh pinggang Marsha. Membuat Marsha justru tak bisa berkonsentrasi dengan film yang sedang dia tonton sekarang ini.
“Jangan Bram,” ucap Marsha mengingatkan Abraham untuk tidak berlaku lebih.
Abraham menganggukkan kepalanya, “Baiklah,” ucapnya. Pria itu menarik tangannya, dan kini tangan itu justru meraih tangan Marsha, menggenggamnya erat. Terkadang jari telunjuk Abraham justru bergerak dan memberi usapan yang mengenai telapak tangan Marsha. Ya Tuhan, sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh Abraham. Marsha benar-benar menghela nafas dengan gerakan jari telunjuk Abraham yang mengenai telapak tangannya itu.
Mungkin inilah sebuah definisi mantan tapi mesra. Tentu saja ini adalah tindakan yang salah dan terlarang. Namun, kenapa yang terlarang justru lebih menantang? Mengapa justru Marsha mendapatkan semua rasa ini dengan pria yang terlarang untuknya. Hasrat ini menolak dan mengelak, tetapi ada secercah perasaan untuk terus melakukan dan bersenang-senang dengan Abraham.
__ADS_1