Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Forbidden Kiss


__ADS_3

Tiga Tahun yang Lalu …


Di sebuah pantai yang berada di pesisir Laut Selatan Pulau Jawa, Marsha dan Abraham tengah menikmati liburan bersama. Liburan bertajuk One Day Trip dari fakultas tempatnya kuliah yang mengadakan liburan satu hari ke Pantai Gua Cemara, Jogjakarta.


Pantai Gua Cemara sendiri terbilang cukup unik karena ditemukannya beberapa pohon cemara yang ada di pesisir pantai. Mengunjungi pantai justru seolah berada di hutan cemara. Hingga pengunjung harus berjalan beberapa saat, barulah mereka akan menemukan bibir pantai.


“Bram, aku duduk di sini saja deh. Di sana panas banget,” keluh Marsha saat itu yang menunjuk pesisir pantai yang memang begitu panas. Sementara di sekitar pohon cemara justru banyak tempat berteduh.


“Ayo lah Sha, kita main-main dulu ke bibir pantai. Merasakan ombak. Abis itu aku temenin deh,” balas Abraham yang kala itu menarik tangan Marsha dan mengajaknya untuk bermain dan merasakan sapuan ombak yang mengenai kaki-kaki mereka.


“Ya sudah deh … sebentar saja yah. Panas, takut sunburn.” balas Marsha.


Abraham pun tersenyum, “Iya-iya Pacarku … sebentar saja kok,” sahut Abraham,


Dengan tenang, Abraham pun menggandeng tangan Marsha, mengajak pacarnya itu untuk berjalan di pesisir pantai. Kaki-kaki mereka berjejak di atas pasir tanpa mengenakan alas kaki. Sapuan ombak yang mengenai kaki mereka, membuat keduanya saling tersenyum dan bergandengan tangan bersama.


“Sudah … mau duduk di mana? Yuk, aku temenin,” ucap Abraham kini. Pria itu benar-benar membuktikan ucapannya bahwa cukup beberapa saat dirinya merasakan sensasi buaian ombak yang mengenai kakinya. Setelah merasa cukup, Abraham pun mengajak Marsha untuk kembali duduk.


“Di sana aja yuk … panas banget deh,” keluh Marsha.

__ADS_1


Abraham pun tersenyum. Pria itu masih setia menggandeng tangan Marsha dan kemudian mengikuti Marsha yang mencari tempat duduk yang cukup teduh. Keduanya duduk bersama beralaskan sandal mereka, Marsha menyandarkan kepalanya di bahu Abraham. Sejoli itu terlihat hanyut dalam romansa dan menikmati suasana di pantai dengan saling merangkul.


***


Kini ….


Seakan kenangan itulah yang coba dibangkitkan kembali oleh Abraham. Masa-masa saat dirinya masih berstatus sebagai pacar Marsha. Kenangan itu pula yang membuat Marsha seakan menghela nafas dan menggigit bagian dalamnya.


Pandangan mata Marsha menatap jauh ke depan. Tidak dipungkiri bahwa bersama dengan Abraham seperti ini seakan membuatnya kembali terjerat romansa masa lalu bersama pacarnya dulu itu. Kendati hubungan keduanya sudah lama berakhir, hanya saja Marsha dengan begitu mudahnya mengingat momen demi momen bersama Abraham dulu.


“Mau lihat senja bersama?” tawar Abraham kali ini kepada Marsha.


“Di mana? Senja di sini indah kan?” tanya Marsha kepada Abraham.


Pria itu kemudian berdiri dan mengulurkan tangan kanannya kepada Marsha, “Yuk, ikut aku,” ajak Abraham kali ini.


Marsha pun mengangguk. Wanita itu perlahan berdiri dan menautkan tangannya ke dalam uluran tangan Abraham. Mengikuti Abraham menuju parkiran dan memasuki mobilnya. Hingga akhirnya Abraham melajukan mobilnya dan kemudian mengajak Marsha menuju salah satu bukit yang berada tidak jauh dari lokasi Pantai Parangtritis. Sebuah bukit dengan hamparan lautan di bawahnya, sementara di atas angkasa membentang dengan begitu birunya.


“Ayo turun. Sini,” ucap Abraham.

__ADS_1


“Ini di mana Bram? Sepi banget di sini,” balas Marsha.


“Spot terbaik untuk melihat senja,” balas Abraham.


Abraham memilih duduk di atas rerumputan, sementara Marsha pun duduk di samping Abraham. Merasakan semilir angin yang menerpa wajah dan rambutnya. Beberapa kali Marsha tampak mengusapi lengannya yang terasa dingin.


“Anginnya kenceng?” tanya Abraham.


Wanita itu pun menggelengkan kepalanya, “Enggak kok,” sahut Marsha.


Hingga akhirnya, tercetak jelas warna jingga di langit yang biru. Dengan biasan rona kuning kenikir yang membuat tempat itu begitu indah. Surya yang kembali ke peraduannya, dengan pesona yang begitu indah, Marsha seakan terpukau dengan keindahan yang sangat indah ini.


“Suka?” tanya Abraham kemudian.


Tampak Marsha menganggukkan kepalanya, “Sangat … sangat indah,” balas Marsha. Bahkan beberapa kali Marsha tampak mengabadikan pesona senja yang sangat indah itu dengan kamera handphonenya.


Abraham sendiri tersenyum. Pilihannya membawa Marsha ke tempat ini sangat tepat. Pria itu kemudian menoleh ke arah Marsha, “Sha, aku mau melakukan sesuatu … jika menurutmu, tindakanku ingi tidak pantas, kamu bisa menamparku,” ucap Abraham dengan menatap tajam wajah Marsha.


Tidak membutuhkan waktu lama, Abraham mengikis jarak wajahnya. Mencondongkan sedikit badannya, kemudian pria itu melabuhkan bibirnya untuk mengecup bibir Sara. Tangan Abraham meraih tengkuk Marsha, dan pria itu menggerakkan bibirnya dengan perlahan, tetapi pasti.

__ADS_1


Entah hasrat dari mana, tetapi Abraham dengan begitu berani mencium bibir Marsha di tempat terbuka seperti itu. Bibir Abraham menekan bibir Marsha, bahkan pria itu menggerakkan bibirnya dan menyesap lipatan bawah bibir Marsha, setiap nafas yang dia ambil rasanya begitu berat, tetapi semua itu tidak menyurutkan tindakannya untuk terus memberikan ciuman, pagutan, dan lu-matan di bibir Marsha.


Marsha yang begitu tegang, tampak mendorong dada Abraham. Akan tetapi, kekuatan yang dia miliki tidak seberapa. Hingga akhirnya, perlahan Marsha justru membalas ciuman Abraham. Beberapa waktu berlalu, siluet keduanya yang tengah berciuman sama-sama menggebu, terlihat memabukkan. Bias rona senja di angkasa justru membuat Marsha dan Abraham kian menikmati ciuman terlarang keduanya. Namun, belenggu di dalam hati Marsha mungkinkah sudah pudar? Sehingga Marsha pun seakan larut bahkan hanyut dalam setiap ciuman demi ciuman yang diberikan Abraham di bibirnya.


__ADS_2