Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Menemui Abraham Lagi


__ADS_3

Sepanjang hari ini nyatanya Melvin benar-benar berada di rumah. Bahkan pria itu tidak keluar dari rumah sama sekali. Tepat sama seperti yang Melvin ucapkan bahwa dirinya ingin menghabiskan sepanjang hari bersama dengan Marsha. Sekalipun Marsha bersikap biasa saja, tetapi Melvin tidak keberatan. Pria itu juga menempel dengan istrinya. Peredaran juga hanya radius sekian meter saja dari Marsha.


“Ayang, besok aku sudah harus kembali syuting yah … kembali ke rutinitasku,” ucap Melvin kali ini.


“Iya … lagian sebenarnya hari ini tidak cuti tidak apa-apa kok,” balas Marsha.


Cuti yang diambil Melvin kali ini adalah murni ide dari Melvin. Marsha bahkan tidak meminta suaminya itu untuk cuti. Sehingga, bisa dikatakan bahwa cuti yang diambil Melvin kali ini adalah murni dari inisiatif pria itu sendiri.


“Enggak apa-apa, Yang … enggak setiap hari juga kok. Sesekali meluangkan waktu bersama kan tidak masalah,” sahut Melvin.


Mungkin kepala pria itu usai terbentur sesuatu sehingga bisa menyadari bahwa sesekali meluangkan waktu untuk menikmati kebersamaan dengan Marsha tidak ada salahnya. Andai saja, sejak dulu Melvin berusaha meluangkan sedikit waktu untuk Marsha, pasti rumah tangga keduanya tidak akan hambar. Andai saja, sejak dulu Melvin sedikit memberi perhatian untuk Marsha, bisa dipastikan bahwa kehidupan rumah tangga keduanya akan lebih hangat.


“Makasih buat hari ini,” balas Marsha pada akhirnya.


Marsha menghargai inisiatif Melvin itu. Sekalipun beberapa kali dalam sehari, Marsha juga merasa sebal kepada suaminya, tetapi Melvin nyatanya telah berusaha untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dia coba selama dua tahun itu. Biasanya, Melvin akan fokus untuk bekerja. Kerja, kerja, kerja! Hidup Melvin tidak pernah lepas dari satu bentuk kata kerja itu. Sekarang, Melvin mau mencoba untuk mengambil cuti. Untuk apa yang sudah dilakukan Melvin, Marsha pun mengucapkan terima kasihnya.


“Sama-sama Yang … mungkin nanti aku akan bicarakan supaya bisa ambil cuti kayak gini. Biar hubungan kita kian hangat,” ucap Melvin kali ini.


Itu benar-benar ucapan yang sungguh-sungguh atau hanya sekadar tindakan impulsif yang dilakukan Melvin. Kendati demikian, Marsha tetap menganggukkan kepalanya merespons ucapan Melvin itu. 


***


Keesokan harinya … 


Pagi hari menjelang waktunya sarapan, Marsha mencoba membangunkan suaminya yang masih tertidur itu. 


"Yang, Ayang … bangun Yang, kamu mau berangkat ke lokasi jam berapa?" ucap Marsha yang membangunkan Melvin dengan menepuk lengan suaminya itu. 


"Hmm, sepuluh menit lagi. Aku masih ngantuk," balas Melvin kali ini. 


Pria itu masih memejamkan matanya dan hanya menggeliat di balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya. 


"Ya sudah, sepuluh menit yah … nanti aku bangunkan lagi," ucap Marsha kali ini. 


Usai mengatakan semua itu, Marsha lantas memilih untuk turun. Menikmati Teh Hangat di pagi hari adalah rutinitasnya hampir setiap hari. Marsha agaknya sukar menghilangkan kebiasaannya itu. Justru dia merasa pusing jika tidak meminum Teh Hangat di pagi hari. 

__ADS_1


Marsha memilih menuju dapur. Wanita itu tampak menyeduh sendiri Teh dan kemudian menuangkannya di sebuah cangkir keramik dengan ukuran bunga-bunga. Marsha perlahan menyesap Teh itu dan merasakan rasa pahit, kental, dan manisnya gula, berbaur dengan aroma Melati yang terasa begitu menenangkan. 


"Tidak sarapan sekalian Non?" tanya Bibi Wati dengan tiba-tiba kepada majikannya itu. 


"Nanti saja Bi, mau minum Teh dulu," sahut Marsha. 


Setelah itu, Marsha juga menyeduh secangkir Teh, menaruhnya di atas nampan dan kemudian membawanya ke kamar. Teh yang ingin dia berikan untuk Melvin. Lagipula, sudah lebih dari sepuluh menit, mungkin saja di kamar Melvin sudah bangun. 


Begitu masuk ke dalam kamar, rupanya Melvin masih terlelap. Untuk perkara bangun pagi, Melvin memang sangat susah. Mungkin juga karena sudah terbiasa tidur dini hari, sehingga di pagi hari pria itu justru sedang begitu terlelap dalam tidurnya. Namun, jika Marsha tidak membangunkan suaminya lagi bisa-bisa Melvin akan terlambat untuk sampai di lokasi syuting. 


"Yang, bangun dulu yuk," ucap Marsha yang lagi-lagi membangunkan Melvin. 


Sampai akhirnya Melvin pun mengerjap, pria itu membuka kelopak matanya perlahan-lahan dan tersenyum menatap wajah ayu Marsha. 


"Iya, aku bangun kok," balas Melvin. 


"Aku bawakan Teh hangat untukmu juga," ucap Marsha lagi. 


"Iya Ayang, makasih banyak yah," balas Melvin. 


"Ya sudah, aku pamit dulu ya. Aku mau ke lokasi lagi," pamitnya kepada Marsha. 


"Iya, hati-hati ya. Semangat bekerjanya," balas Marsha sembari tersenyum. 


Sepeninggal Melvin, Marsha kemudian mengambil handphonenya yang berada di dalam nakas. Wanita itu tersenyum membaca deretan pesan yang dikirimkan oleh Abraham. 


[To: Marsha]


[Sha, bagaimana hari kita bisa bertemu?]


[Aku kangen kamu.]


[Bisa aku menagih janjimu kali ini?]


Sebatas membaca pesan Abraham saja, wajah Marsha telah bersemu merah di sana. Sampai pada akhirnya, Marsha menggerakkan jari-jarinya dan membalas pesan Abraham tersebut. 

__ADS_1


[To: Abraham]


[Bisa bertemu hari ini.]


[Kita akan bertemu di mana?]


Agaknya kali ini Marsha harus segera bersiap untuk menemui Abraham. Wajah wanita itu berseri-seri. Sekadar bertemu dengan Abraham saja sudah bisa membuatnya begitu bahagia. Hingga akhirnya Abraham membalas pesan Marsha dan meminta Marsha untuk datang ke studio foto miliknya. Abraham juga sudah mengirimkan lokasi terkininya kepada Marsha. 


Maka dengan mengemudikan mobil seorang diri, Marsha segera bergegas menuju studio foto milik Abraham itu. 


'Nava Studio'


Begitulah nama studio foto milik Abraham. Marsha kembali bercermin, bahkan wanita itu kembali memulas bibirnya dengan lipstik berwarna pink satin yang lembut, setelahnya barulah Marsha memasuki Nava Studio milik Abraham itu. 


"Silakan, bisa dibantu?" sapa salah seorang pegawai yang bekerja di Nava Studio. 


"Mau bertemu dengan Abraham," jawab Marsha. 


"Sudah janji bertemu sebelumnya?" tanya pegawai tersebut. 


"Iya, sudah," jawab Marsha dengan menganggukkan kepalanya. 


"Baiklah, dengan Ibu siapa?" tanya pegawainya itu lagi. 


"Marsha," jawab Marsha dengan singkat. 


"Bu Marsha silakan ke lantai lima yah, sudah ditunggu Pak Abraham," balas pegawai tersebut. 


Marsha segera menuju lift dan memencet angka nomor lima. Sesuai dengan lantai yang hendak kunjungi sekarang. Marsha berjalan perlahan, jantungnya berdegup dengan kencang. Sampai akhirnya, Marsha menemukan ruangan dengan nama Nava Studio itu. 


"Bram," sapa Marsha begitu telah melihat sosok pria itu. 


Melihat Marsha yang akhirnya juga sudah datang, Abraham kemudian menaruh kameranya dan kemudian mulai menyambut Marsha dengan membuka kedua tangannya. 


"Hei, Sha… akhirnya kamu datang juga," sapa Abraham. 

__ADS_1


Marsha berjalan perlahan, dan mendekat ke arah Abraham. Kendati demikian, Marsha tidak menghambur ke dalam pelukan Abraham. Wanita itu tersenyum manis menatap Abraham yang berdiri tidak jauh darinya. Ini adalah sebuah perasaan yang gila, tetapi kenapa justru Marsha menikmati perasaan gila dan terlarang ini dengan Abraham.


__ADS_2