Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Baby M Junior!


__ADS_3

Kebahagiaan tahun baru yang akhirnya bisa dilewati bersama dengan menyambut sang bayi tercinta tentu menjadi momen yang sangat bersejarah untuk Marsha dan Abraham. Euporia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata atau teriakan sukacita. Namun, ada air mata bahagia yang mengalir di sana. Air mata bahagia yang membuatnya merasa bahwa ini adalah kebahagiaan yang sangat besar yang Tuhan anugerahkan kepada mereka.


"Putra kita Mas," isak Marsha dengan berlinangan air mata.


"Benar Sayang," balas Abraham.


Walau melakukan persalinan secara caesar, proses insiasi menyusui dini tetap dilakukan, dan juga kini bayi laki-laki dengan kulitnya yang kemerah-merahan, dan juga rambutnya hitam lebat itu ditengkurapkan di dada Marsha. Bayi yang baru lahir beberapa saat yang lalu itu akan dibiarkan untuk menemukan sumber ASI-nya sendiri. Ini adalah skin to skin pertama antara Marsha dan si baby.


"Dia ... anakku ... anak kita!"


Marsha masih menangis di sana. Melihat putranya, sampai dia tidak merasakan lagi sakit di area sayatan yang sekarang sedang dikatupkan kembali dan dijahit dengan benang dari gelatin di bawah pusar itu.


"Cakep ya Sayang," ucap Abraham.


Pria itu menyentuh bayi laki-laki itu dengan sangat hati-hati, kemudian dia membiarkan jari telunjuknya untuk digenggam si baby yang menangis dan mulai menemukan sumber makanan pertamanya itu.


"Dia bisa menemukan Shayang ... pinter banget," ucap Abraham.


"Iya, sekarang dia menghisap Mas," sahut Marsha.


Walau ini adalah anak keduanya, tetapi tetap saja semua momen pertama terasa begitu menyenangkan. Momen yang tentu akan mereka ingat bersama-sama.


"Sudah pinter anaknya Papa," ucap Abraham di sana.


"Nama bayinya siapa Pak?" tanya Dokter Indri kemudian kepada Abraham.


Marsha pun melirik suaminya, "Dulu waktu Mira, aku yang memberikannya nama ... sekarang baby boy ini giliran Papa Abraham yang memberikan nama," ucap Marsha di sana.


Abraham kemudian tersenyum, "Yakin?"


"Iya, yakin," jawab Marsha.


"Nama superhero kesukaanku boleh?" tanya Abraham lagi.


"Boleh saja ... siapa, superman?" tanyanya.


Abraham pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tidak dong ... dia akan seperti kakaknya, dimulai dengan huruf M," balasnya.


Marsha pun menganggukkan kepalanya. 


"Bagus dong. Kita punya duo M di rumah," balas Marsha. 

__ADS_1


Abraham pun tampak menganggukkan kepalanya perlahan, "Benar … nama anak kita adalah Marvel Narawangsa."


Ya, nama yang dipilih Abraham adalah Marvel karena pria itu menyukai film garapan MCU itu. Berharap putranya akan menjadi sosok yang kuat dan tangguh. Sosok yang bisa berhasil dan membantu mereka yang membutuhkan bantuan. 


"Captain Marvel," balas Medhina. 


Abraham pun tertawa, "Benar. Namanya Marvel. Boleh kan?" tanya Abraham kemudian. 


"Iya boleh. Baby Marvel."


Abraham menatap istrinya di sana, "Kamu tahu tidak apa akronim dari Marvel?" tanyanya. 


"Hmm, apa Mas emangnya?" balas Marsha. 


"Marvel adalah akronim dari Marsha Love Folever," balasnya dengan tertawa. 


Tidak mengira di kala tubuh Marsha masih dibersihkan dan sayatan demi sayatan dijahit kembali, keduanya terkikik geli. Tidak menyangka dengan guyonan Papa muda itu. 


"Sudah diberi nama?" Dokter Indri kembali bertanya kepada Marsha dan Abraham.


"Iya, sudah Dokter," balas Marsha lirih.


"Marvel Narawangsa," jawab Abraham.


Dokter Indri pun tertawa di sana, "Superhero ya Pak Abraham?" tanyanya.


Sebab, siapa saja yang mendengar nama Marvel sudah pasti akan langsung konek ke nama superhero itu. Begitu juga dengan Dokter Indri yang langsung mengingat bahwa itu adalah nama Superhero.


"Iya, Dokter," jawab Abraham lagi.


Begitu Marsha selesai ditangani dengan baik, dan juga Baby M Junior akan dipindah ke inkubator, hanya ada Marsha dan Abraham di dalam ruangan itu. Tampak Abraham, mengusapi kening istrinya perlahan.


"Makasih Shayang, kamu sudah begitu. Bagiku, melahirkan baik normal atau Caesar sama sakitnya. Jika normal, kamu akan kesakitan ketika pembukaan dari pertama hingga sepuluh, mengejan dengan sepenuh tenaga, dan sekarang Caesar kamu juga merasakan sakit usai tindakan Caesar. Jadi, kamu adalah wanita yang hebat," ucap Abraham.


"Terima kasih juga sudah mendampingi aku, Mas. Tanpa kamu, sudah pasti bahwa aku akan lebih hancur dan tidak bisa menghadapi semua ini. Akan tetapi, karna ada kamu, aku seolah mendapatkan kekuatan lebih," balasnya.


"Sama-sama Shayang, akhrinya sekarang kita resmi memiliki dua anak di rumah yah, Mira dan Marvel."


Marsha tersenyum mendengar ucapan dari suaminya itu dan merasa kehidupan yang bahagia akan bisa mereka jalani bersama. Bersama Mira dan Marvel, mereka akan menjadi keluarga kecil yang saling menyayangi satu sama lain.


"Sakit?" tanya Abraham kemudian.

__ADS_1


"Sekarang sedikit ngilu, cuma nanti kalau obat biusnya sudah hilang pengaruhnya, mungkin akan terasa lebih sakit," balas Marsha.


Sekarang memang di bagian perutnya masih ada efek bius yang belum sepenuhnya hilang. Sehingga rasanya belum seberapa. Akan tetapi, ketika pengaruh biusnya hilang, sudah pasti rasanya akan menjadi lebih sakit.


"Yang kuat yah. Aku yakin bahwa kamu bisa menghadapi semua ini, aku bangga denganmu, Shayang," balas Abraham.


Marsha pun tersenyum tipis di sana, "Sama Mas, aku akan berusaha untuk kuat menghadapi semuanya ini. Aku harus kuat untuk kamu, Mira, dan juga Marvel," balasnya.


Ya, ketika sebenarnya tubuh merasa begitu lemah. Akan tetapi, Marsha akan berusaha untuk kuat. Untuk suaminya dan untuk kedua anaknya, Marsha akan selalu berusaha.


"Mas, telepon Mama Diah dong. Pasti Mama juga khawatir karena belum mendapatkan kabar dari kita," ucap Marsha.


Abraham pun menganggukkan kepalanya dan kemudian mengambil handphone di saku celananya, kemudian mulai menghubungi Mama Diah.


Mama Diah


Berdering


"Halo Mama," sapa Abraham melalui panggilan telepon itu.


"Ya, halo Bram ... bagaimana kabarnya Marsha?" tanya Mama Diah.


Bahkan begitu panggilan telepon tersambung yang Mama Diah tanyakan adalah Marsha. Di sana Abraham pun tersenyum, "Anak gadisnya Mama sudah melahirkan Ma ... cucu kedua Mama laki-laki," ucap Abraham.


"Alhamdulillah ... akhirnya Marsha sudah melahirkan. Selamat ya Bram, kamu sudah menjadi Papa dari dua anak sekarang," balas Mama Diah.


"Amin, Terima kasih Mama. Di rumah, Mira tidak menangis kan Ma?" tanyanya.


"Tidak, Mira sudah tidur tadi. Dia senang, tadi usai kalian berangkat ke Rumah Sakit ada Pak Belva dan Elkan kemari, memberikan Pizza untuk Mira. Sebenarnya mereka mau mengundang kalian merayakan pergantian tahun di rumah mereka. Akan tetapi, mereka baru tahu bahwa kalian akan melakukan persalinan Caesar sekarang. Akhirnya tidak jadi," cerita Mama Diah.


Abraham tampak mendengar cerita sang Mama. Kemudian Abraham pun menjawab, "Iya Ma, semoga saja bayi kami akan membawa harapan baru untuk keluarga. Bahagia banget di tahun yang baru bisa menyambut bayi," balas Abraham.


"Amin Bram, nama Cucunya Eyang siapa nih?" tanya Mama Diah kemudian.


"Namanya Marvel, Eyang. Marvel Narawangsa," jawab Abraham.


"Diawali huruf M yah? Kayak Mira. Besok Mama. jenguk ke Rumah Sakit boleh?" tanya Mama Diah terlebih dahulu.


"Kalau Mama tidak repot saja Ma. Kami menitipkan Mira kepada Mama yah, tolong jaga Mira dulu ya Ma," ucap Abraham.


"Iya, pasti. Ya sudah, istirahat sana. Salam buat Marsha yah. Selamat untuk kalian berdua yang hebat dan menjadi orang tua dua anak," ucap Mama Diah lagi.

__ADS_1


__ADS_2