Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Sweet Time!


__ADS_3

"Hei, Sha … akhirnya kamu datang juga," sapa Abraham.


Pria itu tersenyum, menunjukkan wajahnya yang berseri-seri kemudian membuka kedua tangannya, mengisyaratkan supaya Marsha menghambur ke dalam pelukannya.


Akan tetapi, Marsha hanya berjalan mendekat dan tidak memeluk Abraham. Wanita itu memberikan senyuman manis dan menatap Abraham.


"Jadi, ini Studio kamu?" tanya Marsha sekarang ini kepada Abraham.


"Iya," jawabnya seraya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa namanya Nava?" tanya Marsha lagi.


Sebab nama itu justru terdengar seperti nama seorang wanita. Marsha agaknya ingin tahu mengapa Studio milik Abraham bernama Nava.


"Kenapa, kamu ingin tahu?" tanya Abraham.


"Iya, kekasih kamu yah?" tanya Marsha lagi kepada Abraham.


Melihat reaksi Marsha, Abraham tersenyum. Pria itu. Mengambil dua langkah ke depan untuk mengikis jaraknya dengan Marsha, dan kemudian tanpa permisi, Abraham memeluk Marsha dengan begitu eratnya.


"I miss u … I am really missing you," ucap Abraham dengan sungguh-sungguh kepada Marsha.


Sebab bagi Abraham tidak ada kata lain yang bisa mengungkapkan betapa rindunya dia kepada Marsha saat ini. Dengan memeluk Marsha, setidaknya kerinduan itu akan mendapatkan penawarnya.

__ADS_1


Sementara kedua tangan Marsha luruh, dan tidak membalas pelukan Abraham. Marsha akui dia senang dipeluk dan diperlakukan dengan hangat seperti ini. Hanya saja, masih ada ketakutan di dalam hati karena status Marsha yang adalah seorang istri pria lain.


"Bram," ucap Marsha dengan lirih. Mulut dan lidahnya begitu kelu. Sebatas memanggil nama Abraham saja rasanya begitu berat.


"Hmm, kenapa?" jawab Abraham.


"Jawab pertanyaanku," pinta Marsha.


Abraham pun mengurai pelukannya, tetapi keduanya tangannya masih memegangi kedua lengan Marsha. Lantas Abraham menakat lekat-lekat wajah Marsha di dalamnya.


"Nava itu Narawangsa Valentina. Na - Va. Jadi, ya begitulah," jawab Abraham.


Ah, rupanya Marsha baru mengetahui bahwa Nava adalah akronim (singkatan) dari nama belakang kedunya. Kenapa justru Marsha tidak bisa memikirkan semuanya itu. Mendengar jawaban dari Abraham, Marsha pun tersenyum. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Nava adalah nama belakangnya dan Abraham.


"Bagaimana bisa?" tanya Marsha sekarang ini kepada Abraham.


"Bisa dong… kan Studio ini milikku, jadi aku bebas untuk memberikan nama sesuai apa yang aku mau," jawab Abraham.


Kemudian Abraham membawa tangannya yang semula memegangi lengan Marsha, kini satu tangannya tampak meraih dagu Marsha, dengan pandangan yang saling bertaut, dengan sorot mata yang saling menatap hangat.


“Sha, may i kiss u?” tanya Abraham dengan suaranya yang terdengar begitu dalam.


Sungguh, Marsha laksana es krim yang meleleh. Bagaimana bisa dirinya tidak meleleh, jika Abraham berbicara semanis ini dan bersikap yang selalu saja bisa membuat jantungnya berdetak melebihi ambang batasnya.

__ADS_1


Dalam diamnya Marsha, dalam suasana sunyi di dalam ruangan Abraham, pria itu mengikis jarak wajahnya yang hanya beberapa centimeter saja dari Marsha. Pria itu meraih dagu Marsha dengan lembut, dan kemudian Abraham kian mengikis jarak wajahnya, bibirnya yang hangat memberikan sapaan berupa kecupan di bibir Marsha.


Permukaan kulit yang kenyal dan menyimpan beribu sel saraf sensorik itu saling menyapa, walau hanya sekadar menempel, tetapi itu sudah sangat mampu untuk menyulut partikel-partikel di dalam tubuh keduanya.


Dalam setiap detik yang berlalu, hanya nafas keduanya yang seolah terdengar melalui indera pendengaran masing-masing. Abraham mulai memejamkan matanya perlahan, merasakan hangatnya permukaan bibir Marsha. Pria itu menyadari bahwa tidak ada penolakan dari Marsha, sampai akhirnya Abraham pun sedikit membuka bibirnya, dan menjulurkan sedikit ujung lidahnya, mulailah pria itu membuai bibir Marsha yang begitu ranum itu. Menghisap lipatannya atas dan bawah bergantian, memagutnya dengan begitu lembut, bahkan melu-matnya dengan pergerakan bibir yang sangat melenakan.


Atmosfer yang tercipta benar-benar membuat Marsha begitu tegang. Lapisan udara yang dia hirup agaknya kian menepis. Hingga dadanya terasa sesak. Ciuman itu melenakan, tetapi juga terlarang di saat yang sama.


Abraham menahan tengkuk Marsha dengan tangannya, pria itu menelengkan sedikit lehernya, dan memperdalam ciumannya. Ciuman yang diselimuti oleh rasa rindu yang menggebu. Ciuman yang diselimuti dengan perasaan terlarang, tetapi begitu menantang. Tekanan bibir Abraham di bibir Marsha membuat Marsha tersulut. Ya, Marsha begitu tersulut.


Beberapa menit, ciuman itu masih berlanjut, sampai pada akhirnya Abraham menarik wajahnya. Pria itu tersenyum, dengan ibu jari yang memberikan usapan di lipatan bawah bibir Marsha.


“Thanks … this is a sweet kiss,” ucap Abraham.


Dalam senyumannya, Abraham mendekat dan dia kembali melabuhkan dua kali kecupan di bibir Marsha.


Chup! Chup!


Tindakannya diakhiri dengan rengkuhan Abraham yang begitu kuat dan hangat di tubuh Marsha. Tidak peduli dengan luruhnya kedua tangan Marsha yang tidak membalas pelukannya. Tidak peduli dengan status wanita yang berdiri di hadapannya adalah suami orang. Yang Abraham pedulikan adalah dia sangat menginginkan Marsha. Yang Abraham pedulikan bahwa dirinya begitu terpesona dengan sosok Marsha.


“Aku senang sekali bertemu denganmu, Sha … kemarin aku menunggu seharian, dan kini bisa bertemu denganmu dan menciummu rasanya energiku kembali terisi.” Abraham berbicara dengan masih memeluk tubuh Marsha dengan begitu eratnya.


Marsha perlahan memejamkan matanya, merasakan pelukan Abraham yang begitu hangat. Hasrat dalam hatinya kian terpercik. Hasrat dalam hatinya mengatakan bahwa dia suka disentuh oleh Abraham seperti ini. Jika benar-benar dia gila, biarlah dia akan menjadi gila untuk hasrat terlarangnya ini.

__ADS_1


__ADS_2