
Kembali ke rumah, Abraham memapah Marsha untuk menaiki anak tangga dan kembali ke kamarnya. Sungguh, Abraham begitu menyesal karena sudah membuat Marsha menangis, hingga perutnya menjadi kram. Untung saja, tidak disertai dengan flek, sehingga kandungan Marsha masih aman. Akan tetapi, Abraham juga harus ekstra berhati-hati dan juga menambahkan kesabaran sekarang.
“Istirahat yah,” ucap Abraham dengan membantu Marsha menaiki tempat tidurnya. Bahkan Abraham pun menyelimuti kaki Marsha supaya tidak kedinginan di sana.
Agaknya kali ini Marsha masih mode silent, masih enggan dengan suaminya itu. Ada perasaan kecewa, dia hamil dan hanya menginginkan makanan tertentu saja Abraham tidak membelikannya.
Mira pun menaiki tempat tidur perlahan dan segera memeluk Mamanya, “Mama jangan sakit lagi yah … kalau Mama sakit, Mira sedih,” ucapnya.
“Iya, Nak … Mama tidak akan sakit lagi. Terima kasih banyak yah,” balas Marsha.
Dari gestur yang ditunjukkan Marsha bahwa hanya Mira dan Mama Diah saja yang diajak bicara, terlihat jelas bahwa memang di sini yang sedang dimarahi Marsha adalah Abraham. Pria itu hanya diam dan memperhatikan interaksi dari Marsha dan juga Mira.
***
Selang beberapa hari berlalu ….
Mama Diah kali mengatakan niatnya untuk pulang ke Semarang lebih dulu. Nanti jika Marsha sudah dekat dengan waktu bersalin, Mama Diah akan datang lagi ke Jakarta. Sebab, Mama Diah pun juga tidak tega membiarkan Marsha bersalin sendirian dan Mira juga butuh pengasuhan ketika orang tuanya berada di rumah sakit nanti.
“Marsha, Bram … lusa Mama akan pulang ke Semarang yah,” ucap Mama Diah kepada Marsha dan Abraham.
“Kenapa Ma?” tanya Marsha kepada Mama mertuanya itu.
“Iya, pulang dulu … nanti kalau sudah Mama akan ke sini lagi, ketika kamu sudah mendekati waktu bersalin,” balas Mama Diah.
Lagipula Mama Diah juga sudah cukup lama tinggal di Jakarta, sehingga sekarang waktunya untuk pulang dan nanti Mama Diah akan kembali ke Jakarta. Lagipula, dengan kereta api kota Semarang ke Jakarta hanya membutuhkan waktu lima jam saja. Termasuk dekat dan juga mudah untuk ditempuh.
“Marsha ikut pulang Mama ke Semarang saja ya Ma,” ucap Marsha dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Mama Diah yang mendengarkan ucapan dari Marsha pun mengernyitkan keningnya, untuk apa menantunya itu untuk memilih pulang ke Semarang dan tidak tinggal di Jakarta saja. “Kenapa Sha?” tanya Mama Diah.
“Marsha mau tinggal sama Eyang lagi saja. Lagipula, di sini juga tidak diperhatikan,” balasnya.
Abraham yang mendengarkannya pun langsung melirik ke istrinya. Mungkin memang Abraham kurang memperhatikan Marsha karena memang begitu banyaknya pekerjaan kali ini. Bahkan usai tragedi kram perut itu, Marsha tidak pernah meminta apa-apa lagi kepada Abraham. Hatinya masih terluka karena sekadar menginginkan Roti Gambang dan Dodol Betawi saja tidak dibelikan.
“Iya Ma … kita pulang ke Semarang saja,” balas Mira.
Mama Diah menghela nafas dan menatap Marsha dan Mira. Kasihan sebenarnya dengan cucu dan menantunya itu. Namun, jika Marsha dan Mira ke Semarang, yang kasihan juga adalah Abraham. Anaknya itu akan sendirian di Jakarta.
“Mira mau pulang ke Semarang? Di rumah Eyang uyut,” balas Marsha.
“Iya mau,” balas Mira.
Mama Diah kemudian kembali berbicara, “Bukan maksud Mama ikut campur dalam rumah tangga kalian berdua, tetapi jangan seperti ini. Mama tahu kamu baru hamil dan juga butuh perhatian lebih dan juga mood dan emosi yang naik dan turun. Sementara suami kamu baru sibuk dan kadang kala tidak bisa menuruti apa yang kamu mau. Namun, jangan pergi dari rumah. Abraham membutuhkan kamu dan Mira,” ucap Mama Diah.
Kali ini Marsha tidak menutupi perasaannya. Dia marah, emosi, dan kecewa. Suaminya yang meminta anak, tetapi sekadar menuruti apa yang dia mau saja selalu saja alasan. Bukan ini yang Marsha inginkan. Mama Diah yang mendengarkannya pun juga memahami posisi Marsha.
“Maafkan suamimu itu, tetapi sebaiknya tinggallah di sini,” balas Mama Diah.
“Marsha menjalani hamil sendirian juga tidak masalah kok Ma,” balas Marsha kemudian.
Mama Diah menggelengkan kepalanya perlahan, “Tidak boleh seperti itu, Sha … semua dicari jalan solusinya baik-baik. Direnungkan mana yang salah, mana yang harus diperbaiki, dan juga diselesaikan bersama. Kamu juga Bram … dulu Mama masih mendengar kalau kamu ingin meminta anak lagi, tetapi apa ini … kamu sibuk bekerja, job banyak, tetapi tidak meluangkan waktu dan perhatian untuk istri. Istri ngidam aja, kamu juga banyak alasan. Kalau dalam dua hari ini, kamu tidak berubah, Marsha ikut Mama ke Semarang.”
Usai obrolan kali itu, memang Abraham dan Marsha menjadi dingin. Marsha yang mencoba menarik garis batas dan enggan untuk berbaikan dengan suaminya. Sementara Abraham juga lebih banyak diam. Agaknya badai salju menerpa keduanya.
Dua hari berlalu ….
__ADS_1
Tanpa izin Abraham, Marsha dan Mira benar-benar ikut Mama Diah pulang ke Semarang. Namun, Mama Diah tidak mengizinkan Marsha tinggal di rumah Eyangnya. Mama Diah ingin mengawasi Marsha secara langsung.
“Ini tidak benar loh, Sha … Bram bisa marah nanti,” balas Mama Diah.
“Biarin saja Ma … kamu butuh waktu untuk menenangkan diri. Kalau memang, Mas Bram tidak menginginkan anak ini tidak apa-apa kok Ma … Marsha bisa kembali bekerja dan menghidupi anak ini,” balasnya.
Dari hatinya ada rasa tertolak, rasa tidak diperhatikan, bahkan merasa tidak lagi dicintai oleh suaminya sendiri. Terlalu ironis memang, dulu ketika anak mereka hanya satu, ada keinginan untuk menambah anak. Namun, setelah Marsha hamil, perhatian yang didapat dari suami juga berkurang.
“Bukan begitu Sha … kalian butuh waktu bersama. Butuh waktu untuk mengobrol,” balas Mama Diah.
“Yang selalu tidur duluan tiap malam siapa Ma? Wanita hamil memang tidak menarik kok Ma, Marsha mengakui itu. Mungkin saja ada bunga yang lebih menarik untuk Mas Bram,” sahut Marsha lagi.
Memang hamil itu, wajah Marsha terlihat sayu. Bukan mengalami kenaikan berat badan, tetapi berat badannya justru turun. Juga cekungan hitam di bawah mata yang menjadi tanda bahwa Marsha juga kurang tidur. Ada perasaan tidak diperhatikan oleh suami sendiri, membuat banyak perubahan dalam diri Marsha.
Biarlah untuk sementara dia pergi. Dia butuh ketenangan, dia butuh memperbaiki situasi hati dan juga moodnya. Asal tetap membawa Mira, tidak menjadi masalah untuk Marsha.
***
Sementara di Jakarta ….
Untuk kali pertama Abraham pulang ke rumah dalam keadaan rumah kosong. Pria itu tidak menyangka bahwa Marsha benar-benar mengambil langkah besar untuk kembali ke Semarang. Pulang dari kerja, biasanya Abraham akan mandi dan bersih-bersih dulu, tetapi sekarang Abraham hanya merebahkan dirinya di kamar. Begitu sepi, tidak ada sosok di sana.
“Kamu beneran pergi Shayang?” gumamnya lirih.
Sangat tidak enak pulang ke rumah dalam keadaan kosong. Tidak ada sapa dari sang istri, tidak ada sapa dan pelukan hangat dari Mira. Semuanya begitu sunyi. Abraham pun menghela nafas kasar dan mengusapi wajahnya.
“Di sini aku yang salah, Sha … aku yang salah,” balas Abraham.
__ADS_1
Barulah Abraham merasa menyesal. Sebatas bersabar dan juga menuruti apa yang dimaui istrinya yang tengah hamil saja, dia terlalu banyak memberikan alasan. Abraham menyalahkan dirinya sendiri kenapa menjadi suami yang tidak peka. Rasanya begitu menyesal. Kalau sudah tiada, baru terasa, bahwa kehadiran Marsha dan Mira sangat berharga dalam hidup Abraham.