
Kembali memiliki bayi, berarti kembali membuat Marsha menjadi ibu susu. Bagi Marsha sendiri, ketika bisa memberikan ASI untuk bayinya dan juga melakukan bounding dengan Marvel. Tampak Mama Marsha meng-ASI-hi Marvel dengan sesekali mengusapi rambut Marvel yang begitu tebal.
"Bobok Sha, Marvelnya?" tanya Mama Diah kepada menantunya itu.
"Iya Ma ... kalau dapat ASI, langsung bobok deh," balasnya.
"Abraham dulu juga begitu, Sha ... kalau dapat ASI langsung deh bobok. Mama lupa, kelihatannya pernah deh Abraham itu maunya ***** terus, Mama sampai tidak bisa ngapa-ngapain. Padahal, Mama cuma sendiri, gak ada yang bantuin. Dia juga tidak ada Papanya. Jadinya, ya sudah deh," balasnya.
"Oh, fase Growth spurt itu Ma, jadi si baby maunya ***** terus. Mira dulu kan juga begitu, untung ada Mas Bram. Jadinya, Marsha kebantu banget. Maaf, sampai makan saja disuapin sama Mas Bram," balasnya.
Mama Diah pun tersenyum, "Itu benar, Sha ... pengasuhan itu bukan hanya tanggung jawab Mamanya, Papanya juga. Kerja sama dengan pasangan itu rasanya spesial yah kalau punya baby. Bisa sama-sama mempedulikan satu sama lain," balasnya.
"Benar Ma ... secapek-capeknya suami, kalau untuk bayinya pasti dilakukan termasuk menemani begadang di malam hari," balas Marsha.
Mama Diah pun tertawa di sana. Kendati demikian, Mama Diah bersyukur karena walau Abraham tumbuh tanpa kasih sayang Papanya, tetapi ketika sudah menikah dan memiliki anak, Abraham menjadi pria yang sangat bertanggung jawab. Sudah pasti, Mama Diah merasa bangga dengan putranya itu.
"Seharusnya suami kan seperti itu, Sha ... kamu beruntung karena Abraham peduli, sayang, dan tanggung jawab kepada istri dan anak-anaknya. Dulu, Mama harus melewati semua masa sendirian. Sebab, Papanya Bram sudah terjerat sama Saras. Sekarang sih, ya sudah ... masing-masing orang memiliki ceritanya masing-masing kan. Mama sudah ikhlas dengan semuanya yang terjadi di masa lalu. Tidak mempermasalahkannya lagi."
"Justru Mama hebat karena Mama bisa memaafkan Mama Saras dan berdamai. Luar biasa, Ma ... Marsha bangga dengan Mama," balasnya.
"Ya, hanya berusaha, Sha ... menyimpan dendam bertahun-tahun juga tidak baik. Lebih baik memilih untuk berdamai dan hidup tenang di masa tua," balas Mama Diah.
"Saras tahu tidak kalau kamu sudah melahirkan?" tanya Mama Diah kemudian.
__ADS_1
"Tahu kok Ma ... kapan hari Mama Saras mengucapkan selamat melalui Whatsapp kok," balasnya.
"Kalau Mama kamu sendiri?" tanya Mama Diah.
Marsha tampak menghela nafas dan kemudian menggelengkan kepalanya perlahan, "Entahlah, Ma ... sejak di Semarang itu, Marsha dan mama kembali lost contact. Kenapa ya Ma, justru Mama tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandung Marsha sendiri," balasnya dengan kembali menghela nafas yang terasa begitu berat.
"Sabar ya Sha ... tidak usah sedih. Kamu masih punya Mama ... kan Mama juga sayang sama kamu, kalau kebanyakan pikiran nanti justru ASI-nya bisa mampet. Jadi, dijaga baik-baik moodnya, biar enggak berantakan. Ibu bahagia, ASInya juga sangat produktif," balas Mama Diah.
"Iya Mama ... kemarin Marsha juga curhat sama Mas Bram ... katanya sedih boleh tapi gak boleh lama-lama. Kasihan Marvel yang nanti bisa kekurangan ASI. Meng-ASI-hi Marvel dengan penuh kasih dulu, Ma," balas Marsha.
Apa yang disampaikan oleh Marsha benar. Sebab, memang penting bagi ibu yang meng-ASI-hi mempertahankan dirinya tetap waras supaya ASI-nya selalu cukup dan terpenuhi untuk bayinya.Usai semalam banyak curhat dengan suaminya, Marsha pun memutuskan untuk lebih memilih menanggapinya dengan santai.
"Benar ... sabar yah ... kami juga kalau mau jangan menunggu, Sha. Kamu yang berinisiatif untuk menghubungi Mama kamu tidak apa-apa," nasihat dari Mama Diah.
Mama Diah pun menganggukkan kepalanya, "Nah gitu ... kalau sama-sama menunggu, akhirnya justru tidak ketemu. Sini, Marvel ikut Eyang dulu yuk ... Mamanya biar makan. Mama masak Soto Ayam itu, Sha ... makan dulu," ucap Mama Diah.
"Terima kasih banyak ya, Ma ... berkat Mama di sini, dapur di rumah bisa mengepul. Kami sudah dibuatkan makanan yang enak dan lezat," balasnya.
"Sama-sama, Sha ... Mama tidak bisa membantu banyak. Bisanya masak, ya sudah Mama masak saja," balasnya.
Ketika Marsha hendak mengeluarkan sumber ASI-nya dari mulut Baby Marvel, rupanya baru kecil yang usianya baru 7 hari itu tampak terbangun dan menangis di sana. Bibir mungil itu tampak melengkung dan wajahnya memerah, tidak berselang lama ada suara tangisan bayi yang cukup kencang.
Oekk ... Oekk ....
__ADS_1
"Yah, dilepas ASI-nya dia nangis Ma ... belum mau lepas," balas Marsha dengan kembali memberikan ASInya untuk Marvel.
Mama Diah pun tertawa, "Mirip Bram banget sih, Marvel ... sampai Mamanya tidak bisa kemana-mana, hanya ng-ASI-hi kamu terus ya Nak," balas Mama Diah.
"Belum apa-apa sudah seperti Papanya ya Ma," balas Marsha dengan tertawa dan mengusapi pantat Marvel untuk menenangkan bayi itu.
"Iya, mirip banget ... dulu masa kecilnya Bram juga kayak Marvel gini. Putih, setelah besar tahu yang namanya main, mulai deh menjadi coklat kulitnya," balas Mama Diah.
"Lebih cakep kalau cokelat gitu kok Ma ... keren," balasnya.
Mama Diah pun tertawa, "Kamu ini ... ya pasti cakep dong, kan suami kamu sendiri. Cakep wajahnya harus disertai dengan cakep hatinya, Sha," balas Mama Diah.
"Benar Ma ... setuju banget. Buat apa cakep wajahnya, kalau hatinya enggak dan juga sikapnya bikin makan hati," balasnya.
"Sabar, jangan emosi," goda Mama Diah dengan mengusapi punggung Marsha di sana.
"Hahahah ... bercanda, Ma ... tidak bermaksud apa-apa," balas Marsha.
"Iya-iya, Mama tahu. Yang penting kamu dan Bram yang rukun. Rumah tangga itu semakin lama, semakin banyak halangannya. Semoga saja, kamu bisa langgeng dengan Abraham. Menua bersama, saling sayang, saling cinta."
"Amin Mama ... doakan kami juga ya Ma," balas Marsha.
Ya, sama seperti Mamanya, Marsha pun juga menginginkan bisa menua bersama dengan Abraham. Berbagi dalam mengisi hari, saling menumbuhkan dan juga menguatkan. Itu yang juga menjadi keinginan Marsha.
__ADS_1