Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Ungkapan Bahagia


__ADS_3

Pergumulan yang begitu panas dan hangat yang baru saja direguk manisnya oleh Marsha dan Abraham. Dengan tubuh yang masih sama-sama tanpa busana, hanya selimut berputih yang meng-cover tubuh keduanya, Marsha pun berbaring memunggungi Abraham, sementara Abraham memeluk erat tubuh Marsha. Sesekali pria itu justru mengecupi bahu Marsha yang tidak tercover oleh selimut.


Abraham lantas beringsut, dan menyangga kepalanya dengan satu tangannya, dan dia merapikan rambut di wajah Marsha.


“Shayang … I Love U,” ucap Abraham dengan berbisik lirih di telinga Marsha.


Marsha pun menoleh dan melihat Abraham di belakangnya, wanita itu tersenyum kemudian mengubah posisinya berbaringnya dan kini memeluk Abraham dengan begitu eratnya.


“Kamu kok jadi pendiam sih?” tanya Abraham kali ini.


“Lalu, aku harus apa? Harus teriak-teriak?” tanya Marsha dengan tertawa.


“Enggak … kamu gini saja udah cantik banget. Akhirnya hari ini tiba … tidak ada lagi hasrat terlarang. Sebab, sekarang … kita bisa bersatu dan menikmati momen-momen indah seperti ini,” ucap Abraham.


Mendengarkan Abraham, Marsha pun mengurai pelukannya dan dia menatap wajah pria yang baru saja menikahinya itu, “Bram, kamu beneran cinta aku kan?” tanyanya.


“Iya, cinta banget sama kamu,” balas Abraham dengan kesungguhan hatinya.


“Jadi, apa kah ungkapan cinta harus diakhiri dengan hubungan seperti ini?” tanya Marsha.


Abraham menggelengkan kepalanya, “Tidak … ada banyak cara untuk mengungkapkan cinta. Ada tutur kata yang manis, pelukan, ciuman, dan berbagai cara lainnya. Kenapa?” tanya Abraham kepada istrinya.


“Enggak … aku cuma bertanya saja kok,” sahut Marsha.


“Kamu tidak menyesal kan Shayang?” tanya Abraham.


 Marsha menganggukkan kepalanya secara samar, “Tidak … hanya saja, kenapa rasanya kamu begitu pro urusan begini ya Bram?” tanya Marsha.


Dalam benaknya, mungkinkah Abraham pernah coba-coba bermain seperti ini sebelumnya. Pria itu terlihat menguasai titik-titik yang menghasilkan kenikmatan. Bahkan Abraham melakukannya secara bertahap, layaknya mendaki gunung, yang memulai dari dasar, hingga sampai akhirnya menuju ke puncak.

__ADS_1


“Kamu yang pertama buat aku, Sha,” ucap Abraham dengan jujur dan sungguh-sungguh.


“Serius Bram?” tanya Marsha seakan tidak percaya.


“Iya … kamu yang pertama buat aku. Kejadian di apartemenku waktu itu adalah kali pertama untukku,” jawab Abraham dengan yakin.


Marsha tersenyum, tidak mengira dengan jawaban Abraham kali ini. Mungkinkah itu berarti dia adalah wanita satu-satunya untuk Abraham. Mengetahui fakta itu saja, dada Marsha membuncah dengan penuh kebahagiaan.


“Kenapa bisa Bram?” tanya Marsha lagi.


“Bisa Sha … karena aku cuma cinta kamu. Dua tahun aku berusaha untuk melupakan kamu, tetapi sia-sia, Sha. Sampai akhirnya aku ke Jakarta dan kembali bertemu kamu. Aku cinta kamu, Sha,” ucap Abraham.


Marsha mendekat, dia segera memeluk Abraham. Mendengar semua yang Abraham katakan rasanya membuat Marsha terharu.


“Aku juga cinta kamu, Bram,” balas Marsha.


“Tidak … dia baik-baik saja kok,” balas Marsha.


“Selama kamu hamil ini, kamu morning sickness enggak Sha? Maafkan aku tidak menemani kamu selama 14 minggu ini. Aku benar-benar menyesal, Sha,” aku Abraham.


Ada perasaan bersalah karena membiarkan Marsha seorang diri di saat Marsha tengah berbadan dua. Teringat bagaimana seorang wanita hamil mengalami Morning Sickness di pagi hari, merasa tidak bisa tidur di malam hari, dan mengalami ngidam. Abraham merasa bersalah untuk semua itu.


“Morning sickness sih … apalagi awal-awal hamil. Aku di rumahnya Eyang sampai enggak bisa bangun. Muntah terus, berat badanku sampai turun beberapa kilogram.” aku Marsha.


Ya, ketika baru saja tiba di Semarang, rupanya Marsha mengetahui bahwa dia telat menstruasi. Dengan cemas, Marsha mencoba membeli testpack dan mengetesnya dengan diam-diam. Betapa terkejutnya Marsha saat melihat dua garis merah pekat yang terpampang di testpack itu. Usai itu, Marsha memeriksakan dirinya, rupanya kehamilannya sudah berusia 4 minggu.


Mulailah dia merasa morning sickness sampai rasanya tidak bisa bangun. Hanya berbaring di atas ranjang. Mencium masakan tertentu, Marsha merasa mual dan muntah. Eyang Partinah pun khawatir dengan Marsha yang sakit dan lemas. Namun, kepada Eyangnya pula Marsha mengakui bahwa sebenarnya dia tengah hamil.


Mendengarkan semua cerita Marsha, ada helaan nafas yang begitu berat dari Abraham, “Maafkan aku ya Sha … aku tidak berada di sampingmu saat itu,” balasnya.

__ADS_1


“Tidak Bram … aku tidak salah. Ini karena aku yang memilih pergi darimu,” sahut Marsha.


“Jangan pergi lagi dariku ya, Shayang … aku akan benar-benar gila jika sampai kamu melakukannya lagi,” ucap Abraham kali ini.


Marsha pun menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya Bram … maafkan aku juga, sekarang kita sudah bersatu … sudah sah. Aku bahagia banget,” aku Marsha dengan jujur.


“Sama Shayang … aku juga bahagia banget,” sahut Abraham.


Abraham mengurai pelukannya, hingga dia bisa kembali menatap wajah Marsha. “Shayang, maaf aku mau berbicara sesuatu … dengarkan aku. Dengan hamilnya kamu, berarti meruntuhkan fitnah dari Mamanya Melvin dulu yang menyebut kamu mandul. Lihatlah, kamu hamil, Sha … kamu adalah wanita yang sempurna,” ucap Abraham dengan mengelusi perut Marsha.


“Benar Bram, saat tahu bahwa aku hamil, aku menangis sejadi-jadinya. Dulu, Mama Saraswati menuduhku mandul, tetapi lihatlah Tuhan menyemai benih dalam rahimku. Aku merasa menjadi seorang Ibu. Aku bisa hamil, Bram … aku bukan wanita yang mandul,” jawab Marsha.


“Jika kamu tidak mandul, mungkinkah Melvin?” tanya Abraham kemudian.


Marsha menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu Bram … hanya saja pernah dulu aku merasakan saat berhubungan dengan Melvin, dia menumpahkan semua cairannya hanya di bibirnya saja, tidak di dalam. Sampai membasahi tempat tidur kami, dan itu terjadi berkali-kali. Entahlah, aku tidak tahu,” cerita Marsha pada akhirnya.


Abraham menghela nafas, dan kembali membawa Marsha dalam pelukannya. “Ya sudah, itu masa lalu kamu. Sekarang kamu sepenuhnya milikku. Aku akan mencintaimu dan menjagamu, Shayangku,” balas Abraham dengan yakin.


Marsha menganggukkan kepalanya. Sungguh, perasaannya bukan hanya bahagia, tetapi juga terasa begitu nyaman dalam pelukan Abraham saat itu. Tubuh keduanya yang hanya tercover selimut justru memberikan kesan yang hangat.


“Mau tidur?” tanya Abraham kemudian.


“Kalau tidur boleh tidak?” tanya Marsha.


“Tentu boleh … tidak usah terburu-buru. Waktu kita berdua masih banyak. Cuma, besok pagi aku minta lagi yah,” pinta Abraham kali ini.


Sebuah pukulan pun jatuh di dada Abraham, Marsha begitu malu mendengar permintaan lagi dari suaminya itu di pagi hari. Sampai Marsha memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Itu adalah ungkapan bahagia dari keduanya. Semua luka di masa lalu, semua kepahitan di masa lalu telah sirna. Yang ada adalah keduanya yang saling mencintai dan akan selalu menjaga satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2