
Siang itu, Marsha tengah berada di kamarnya. Sekadar rebahan dan melihat film favoritnya. Memang tinggal di rumah mewah dan memiliki beberapa asisten rumah tangga membuat hidup Marsha terbilang enak. Bahkan Marsha termasuk kaum rebahan jika berada di rumah.
Saat Marsha tengah fokus dengan film yang baru dia lihat, rupanya handphone miliknya berdering. Deringan bunyi telepon yang membuatnya terke siap. Marsha segera meraih benda pipih itu dan menggeser ikon telepon berwarna hijau di layar.
"Halo," sapanya dengan jantung yang berdebar-debar melebihi ambang batasnya.
"Halo Marsha, kamu baru ngapain?" tanya seseorang pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Abraham.
Ya, panggilan telepon siang itu adalah dari Abraham. Ini juga adalah panggilan pertama yang Abraham lakukan kepada Marsha. Panggilan pertama sejak keduanya bertemu kembali.
Sialnya, hanya sekadar menerima panggilan dari Abraham, Marsha merasakan jantungnya berdebar-debar. Wanita itu bahkan tampak gugup saat merespons ucapan Abraham.
"Ada apa, Bram?" tanya Marsha dengan ucapan yang begitu kelu.
"Kamu baru ngapain?" tanya Abraham.
Mungkin pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan basa-basi belaka. Akan tetapi, Abraham mendorong dirinya sendiri untuk mengetahui apa yang sedang Marsha lakukan di sana.
"Cuma rebahan," jawab Marsha.
Di seberang sana tampak Abraham tersenyum. Pria itu bahkan menggaruk sendiri tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Aku ingin rebahan di sampingmu," balas Abraham dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Mendengar ucapan Abraham yang ingin berbaring di sampingnya membuat Marsha tercekat. Tidak mengira dengan apa yang baru saja diucapkan Abraham.
"Bram!" ucap Marsha dengan nada yang terdengar lebih tegas.
Sayangnya nada yang tegas justru direspons dengan tawa oleh Abraham. Pria itu tampak memindahkan handphone yang sebelumnya berada di telinga kirinya, kini dia ubah ke telinga sebelah kanan.
"I am so seriously, Marsha. Aku ingin rebahan di sampingmu," balas Abraham.
Bahkan pria itu mengakui bahwa dirinya sangat serius kali ini. Pengakuan yang membuat Marsha salah tingkah di tempatnya. Hanya sebatas panggilan telepon saja, sudah membuat Marsha ingin bermain hati dengan pria itu. Main hati dengan mantan sendiri.
"Marsha, kapan kamu senggang? Aku ingin membelikanmu Es Americano," ucap Abraham lagi.
"Kemarin kamu sudah membelikanku Es Americano, Bram," sahut Marsha.
Tidak menjadi masalah bagi Abraham jika hanya membelikan satu cup gelas Es Americano asalkan bisa menatap wajah ayu Marsha. Lagipula harga satu gelas Americano terbilang murah dan terjangkau.
"Gombal," balas Marsha.
"Tuh, malahan dikira gombal kan? Padahal aku serius. Membelikanmu Americano setiap hari, aku tidak keberatan. Bahkan aku bisa membelikanmu yang lain," ucap Abraham kali ini.
Kali ini Marsha menahan tawa dengan menutup mulutnya. Hanya sebatas berbicara melalui sambungan telepon saja dengan Abraham sudah bisa membuatnya begitu bahagia. Bahkan dia bisa tertawa hari ini.
"Jika, aku pengen Gelato?" tanya Marsha tiba-tiba kepada Abraham.
__ADS_1
"Oke, boleh. Apa pun yang kamu mau, aku akan memberikannya. Ingat kamu punya kartu akses unlimited atasku, kamu bisa memanfaatkanku semaumu," ucap Abraham.
Kali ini Marsha justru memegang bibirnya. Mendengar ucapan Abraham, membuatnya kembali mengingat bagaimana Abraham mencium bibirnya di tepi bukit di Jogjakarta beberapa waktu yang lalu.
Hanya saja, Marsha segera menepis pikiran kotor yang baru saja menghinggapi kepalanya itu. Marsha kembali fokus dengan panggilan telepon Abraham itu.
"Jadi, bolehkah aku memanfaatkanmu?" tanya Marsha.
Entah dorongan dari mana yang membuat Marsha berani-beraninya bertanya seperti itu kepada Abraham.
"Boleh, silakan," sahut Abraham dengan cepat.
Kali ini Abraham bersungguh-sungguh bahwa dirinya memang tidak keberatan. Bahkan Abraham memberikan akses tak terbatas kepada Marsha untuk memanfaatkannya semaunya.
"Oke, bisa belikan aku Americano besok?" tanya Marsha kemudian kepada pria itu.
"Oke, bisa. Jam berapa?" tanya Abraham.
"Siang saja. Yang pasti malam aku harus sudah kembali ke rumah," balas Marsha.
"Baiklah, esok kita akan bertemu. Aku akan kirimkan lokasi di mana kamu harus datang," balas Abraham.
Kali ini, Marsha mengakui dalam hatinya bahwa dirinya kian gila. Pesona Abraham dan segala perhatian yang diberikan pria itu membuatnya larut dalam pesona sang mantan yang membuatnya justru ingin bermain hati. Agaknya benih-benih hasrat terlarang itu mulai muncul. Berawal dari rasa nyaman berakhir dengan permainan hati yang mulai terasa nyaman untuk dijalani.
__ADS_1