
Siang itu, Abraham memutuskan tidak ke studio fotonya, melainkan Abraham mencari ke stasiun kereta api, ke terminal bus, dan juga bandara untuk mencari keberadaan Marsha. Walaupun jarak satu stasiun ke stasiun yang lain cukup jauh, tetapi Abraham tetap berusahan mencari Marsha. Di Terminal Bus, Abraham pun menengok ke beberapa PO. Bus yang berhenti dan menanyakan dengan menunjukkan foto Marsha. Selain itu, Abraham juga sampai ke Bandara Halim Perdana Kusuma dan Soekarno-Hatta.
Sampai tengah malam, Abraham seperti orang gila yang mencari keberadaan Marsha. Wajah Abraham sampai lusuh, tubuhnya lelah dan berkeringat, tetapi Abraham tetap mencari sampai dia bisa menemukan Marsha. Sayangnya, semuanya nihil … sosok Marsha sama sekali tidak dia temui.
Kamu di mana Sha? Stasiun, Terminal, sampai Bandara aku datangi untuk mencarimu, tetapi sama sekali aku tidak menemukan jejakmu. Bahkan sampai semalam ini aku masih berusaha mencarimu, Sha. Panasnya matahari, dinginnya angin malam tidak menyurutkan usahaku untuk mencari dan menemukanmu. Sejauh apa pun kamu pergi, aku akan menemukanmu, Sha,
Cintaku yang akan menemukanmu. Sekalipun kamu bersembunyi pun, aku akan menemukanmu. Kupastikan ini. Jika tidak hari ini mungkin esok, jika tidak esok mungkin lusa, jika tidak lusa mungkin pekan depan. Aku akan terus mencarimu, Sha.
Dengan langkah gontai, Abraham kembali masuk ke dalam mobilnya. Usahanya mencari Marsha laksana menjaring angin, tidak ada hasil yang dia dapatkan. Untuk hari ini, Abraham akan menyudahi pencariannya, dan esok dia akan mencari Marsha lagi.
Sampai lebih dari tengah malam, Abraham baru tiba di apartemennya. Rupanya kali ini Mama Diah masih berada di apartemen milik Abraham dan menunggu putranya itu pulang.
“Bram, kamu dari mana?” tanya Mama Diah. Wanita paruh baya itu juga merasa khawatir melihat kondisi Abraham sekarang ini.
__ADS_1
Abraham memilih diam dan sama sekali tidak menjawab pertanyaan Mamanya itu. Hatinya masih terasa sakit dengan perlakuan Mamanya kepada Marsha. Memang bukan dia yang disakiti, tetapi Abraham turut merasakan sakitnya.
“Tidak usah mempedulikan Abraham, Ma … dalam hidup ini yang Abraham inginkan adalah bisa bersama dengan Marsha. Abraham mencintainya Ma … sangat mencintainya, tetapi kenapa Mama tidak bisa melihat cinta Abraham yang besar dan tulus untuk Marsha? Pendamping hidup bukan perkara bibit, bobot, dan bebetnya. Pendamping hidup yang pasti adalah dua orang yang berbeda, tetapi bisa menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada dan bisa mengatasi setiap perbedaan yang ada. Abraham hancur, Ma … sekali lagi Abraham hancur,” aku Abraham kali ini.
Bagaimana Abraham tidak hancur, jika wanita yang dia cintai untuk kali kedua harus pergi jauh darinya. Kali ini, justru Marsha pergi menorehkan luka yang lebih dalam. Usai mereka menyatu untuk kali pertama, usai Abraham yakin bahwa tidak ada penolakan dari Marsha, justru Marsha kembali meninggalkannya. Hatinya sangat hancur, tetapi Abraham masih bisa berdiri dan dia akan mencari Marsha sampai menemukan Marsha. Tidak peduli, berapa lama dia mencari yang pasti misinya adalah menemukan Marsha.
Sementara Mama Diah juga merasa sesak melihat penderitaan yang dialami Abraham itu. Wanita paruh baya itu berusaha menepuk bahu Abraham, tetapi Abraham segera mengelak.
“Bram tidak butuh semua itu … yang Bram butuhkan hanya Marsha. Abraham tidak akan menikah dengan wanita lain mana pun jika bukan dengan Marsha,” ucap Abraham dengan yakin.
Abraham meyakinkan dirinya bahwa dia akan menutup seluruh pintu hatinya untuk wanita mana pun. Yang dia butuhkan hanya Marsha. Dia akan berjuang dan membuktikan kepada Mama Diah bahwa cintanya akan menang.
***
__ADS_1
Sementara itu di Ungaran, Semarang …
Ungaran sendiri adalah ibukota Kabupaten Semarang. Tempat berhawa sejuk dan biasa dijuluki dengan tempat seribu rumah makan karena memang tempatnya di jalan provinsi menuju Solo dan Jogjakarta, sehingga memang banyak kendaraan berlalu lalang di area ini.
Daerah berhawa sejuk ini menjadi tempat yang ditinggali Marsha untuk sejenak. Eyang Partinah adalah Eyangnya Marsha yang memiliki rumah di Ungaran, rumah yang begitu asri dan menghadap ke Gunung Ungaran. Lantaran berada di kawasan pegunungan, tentu saja tempat ini berhawa sejuk dan sering turun kabut.
Hari sudah begitu malam, di luar juga hujan rintik-rintik, tetapi Marsha tak bisa tertidur. Wanita itu justru selalu membayangkan Abraham. Dadanya begitu sesak rasanya mengingat bagaimana pagi-pagi buta dirinya keluar dari apartemen dan menuju Stasiun Gambir tanpa berpamitan sama sekali dengan Abraham.
Di atas tempat tidurnya, justru air mata Marsha berlinang dengan sendirinya. Kepiluan hidup seolah harus dia kecap untuk selamanya. Terlebih dalam dua bulan terakhir, hidupnya seolah dijungkirbalikkan. Semuanya hancur, mulai dari pernikahan rumah tangganya, dan sekarang ketika dia mulai merasakan kenyamanan bersama Abraham, tetapi tidak berselang lama Marsha harus meninggalkan Abraham.
"Kamu di Jakarta sedang apa Bram? Tadi pagi, aku masih berada di Jakarta. Semalam aku masih memelukmu. Sekarang, kita sudah terpisah begitu jauh. Aku di Semarang, dan kamu di Jakarta. Apa pun yang terjadi, aku harap kamu selalu baik-baik saja, Bram. Walau sejauh apa pun aku pergi, di hati ini selalu tersimpan setitik perasaanku untukmu. Berbahagialah dengan wanita pilihan Mama Diah nanti. Dari awal, aku memang tidak layak untukmu. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu," ucap Marsha dengan lirih.
Udara malam yang kian menusuk dan dentingan gerimis di luar sana akhrinya membuai Marsha ke alam mimpi. Biarlah malam membuainya dalam tidur yang nyenyak, dan esok pagi Marsha akan menyambut hari baru. Semoga saja Ungaran dengan hawa sejuknya bisa membantu Marsha untuk menenangkan dirinya dari berbagai masalah hidup yang menghimpitnya.
__ADS_1