Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Memberi Jarak


__ADS_3

Selang beberapa hari berlalu, Marsha dan Abraham kian intens bertukar pesan melalui aplikasi pengiriman pesan berwarna hijau di handphonenya. Rasanya sebatas bertukar pesan saja sudah memberi kebahagiaan tersendiri untuk Marsha. Selain itu, Marsha pun tidak merasa begitu kesepian. Ada orang yang berkabar dengannya. Ada orang yang menanyakan apa yang sedang dia lakukan. Ada orang yang mengaku merindukannya. Untuk semuanya itu, Marsha benar-benar merasa bahagia.


Sama seperti malam ini, ketika tiba-tiba saja Abraham menelponnya. Marsha yang tengah melihat Drama Korea pun mulai mengecilkan volume di televisinya, supaya dia bisa berkomunikasi dan mendengarkan suara Abraham dengan jelas.


“Halo Bram,” sapa Marsha begitu menggeser ikon telepon berwarna hijau di handphonenya. Wanita itu tersipu dengan menundukkan wajahnya.


“Halo, Sha … baru ngapain?” tanya Abraham.


Suara bariton pria itu yang begitu khas, seketika mampu menghadirkan senyuman di wajah Marsha.


“Baru lihat drama Korea saja, Bram … kenapa?” balas Marsha.


“Enggak, aku kangen kamu. Kangen suara kamu,” jawab Abraham.


Secara jujur dan spontans Abraham mengatakan bahwa dirinya kangen dengan Marsha dan ingin mendengar suara dari mantan pacarnya itu. Atas dorongan rasa kangen itulah, Abraham memutuskan untuk menelpon Marsha, supaya dia bisa mendengar suara wanita itu dan menghapus sedikit kerinduan di hatinya.


“Apaan sih, Bram,” respons Marsha dengan sedikit tertawa.


Mendengarkan sang mantan yang mengakui bahwa dirinya kangen, tentu itu sangat menggelikan. Akan tetapi, justru ada rasa bahagia yang Marsha rasakan saat Abraham berterus terang dengan perasaannya.


“Seriously, aku kangen banget sama kamu. Kapan kita bertemu lagi Sha?” tanya Abraham kepada Marsha.

__ADS_1


“Baru juga beberapa hari, Bram … aku tidak tahu kapan bisa bertemu lagi,” jawab Marsha.


Walaupun hatinya begitu menggebu ingin bertemu dengan Abraham, tetapi Marsha sendirilah yang memberi jarak. Sebab, jika terus-menerus bertemu dengan Abraham, melakukan kontak fisik, Marsha takut jika tidak kuasa menahan gejolak hasratnya. Marsha takut, jika terjadi kekhilafan yang sungguh terlarang antara dirinya dan Abraham.


Alasan itulah yang membuat Marsha cukup menelpon dan berbalas pesan dengan Abraham. Godaan bisa datang dari mana saja. Jika, dirinya tergoda dan kekhilafan terjadi, maka bisa saja Marsha akan menyesali semuanya itu.


“Aku tahu Marsha, baru beberapa hari, tetapi rasanya ini sudah begitu lama buatku. Aku sudah ingin bertemu lagi denganmu,” balas Abraham.


Mungkin memang karena baru kasmaran, sehingga baru beberapa hari saja tidak bertemu, rasanya sudah begitu rindu. Akan tetapi, kali ini adalah keputusan Marsha. Dalam hatinya Marsha sudah membuat garis pembatas untuk mengurangi intensitas pertemuannya dengan Abraham. Semoga saja Marsha bisa konsisten dengan keputusan yang telah dibuatnya. Semoga saja hubungan terlarang ini tidak menjurus ke kekhilafan terlarang yang sewaktu-waktu bisa terjadi.


“Sabar … nanti kita bertemu lagi,” balas Marsha.


“Baiklah … tidak masalah. Sebagai gantinya, kita bisa berbalas pesan dan saling menelpon kan?” tanya Abraham kepada Marsha.


“Baiklah Marsha … good night. Kalau bisa mimpikan aku,” balas Abraham.


Terlihat Marsha kembali terkekeh mendengar ucapan Abraham. Rasa-rasanya bunga-bunga cinta bermekaran di dalam hatinya. Marsha seolah menjadi remaja yang baru pertama kali mengenal cinta. Bahkan saat menelpon Abraham saja, hatinya begitu riang gembira.


Mengakhiri teleponnya dengan Abraham, rupanya ada telepon masuk lainnya dari Melvin. Senyuman dan tawa di wajah Marsha pun perlahan sirna. Wanita itu mengernyitkan keningnya, sebelum mulai menggeser tombol hijau di layar handphonenya.


“Halo,” sapa Marsha begitu menerima telepon dari Melvin itu.

__ADS_1


“Ya, Halo Yang … kamu baru menelpon siapa? Sejak aku tadi menelpon kok nomor kamu sedang melakukan panggilan ke nomor lain?” tanya Melvin panjang lebar kepada Marsha.


“Iya … aku sedang bertelepon dengan temanku. Temanku di Semarang dulu,” balas Marsha.


“Oh, aku kira kamu menelpon terkait pekerjaan. Kamu masih belum ada jadwal pemotretan kan Yang?” tanya Melvin lagi.


“Belum, aku masih free. Nanti kalau ada jadwal pemotretan bakalan dikasih tahu kok tiga hari sebelumnya. Ada apa?” respons dari Marsha yang mengatakan bahwa dirinya masih belum ada jadwal untuk pemotretan.


“Oh, ya sudah … aman berarti. Soalnya Mama dan Papa akan menginap di rumah kita lagi. Seminggu Mama dan Papa tinggal di Jakarta, ada pekerjaan di Jakarta,” jelas Melvin kali ini kepada Marsha.


Bukan bahagia, wajah Marsha terlihat muram sekarang ini. Biasanya menantu akan senang kedatangan mertuanya, tetapi tidak dengan Marsha karena orang tua Melvin, terkhusus Mamanya yang begitu suka menyudutkannya. Terlebih perkara karena dirinya masih belum hamil sampai saat ini. Kali ini, kedua orang tua Melvin pun akan tinggal selama seminggu. Itu berarti Marsha harus bersabar selama satu minggu. Menahan ucapan pedas dan bahkan cercaan yang dilontarkan oleh Mama Saraswati.


“Tumben Mama dan Papa di Jakarta sampai seminggu?” tanya Marsha kali ini kepada Melvin.


“Iya … ada pekerjaan di Jakarta katanya. Gimana, kamu tidak keberatan kan kalau Mama dan Papa tinggal di rumah kita lagi?” tanya Melvin yang menanyakan hal tersebut kepada Marsha.


Marsha menghela nafas, dan kemudian memberi jawaban kepada Melvin. “Iya, enggak apa-apa … cuma nanti kalau terkadang aku pergi untuk keluar tidak masalah kan?”


“Tidak apa-apa lah. Kan kamu keluar untuk bekerja dan melakukan aktivitasmu. Mama dan Papa pasti akan ngertiin og,” ucap Melvin.


“Lalu, kamu cuti enggak Yang?” Marsha kembali bertanya, saat Mama dan Papanya datang dari Denpasar nanti apakah Melvin akan mengambil cuti lagi.

__ADS_1


“Aku belum tahu, Yang … kan pekan lalu abis cuti sehari buat me time sama kamu. Coba ntar yah aku bicarakan dulu. Semoga saja bisa. Oke deh Yang, aku udah dipanggil nih mau take lagi,” balas Melvin.


Usai panggilan itu berakhir, Marsha lantas menaruh handphonenya. Rasa semangat dan suka di hatinya hilang begitu saja. Semoga saja kali ini, mertuanya tidak akan mencibirnya dan menekannya untuk segera hamil. Sebab, bukannya Marsha tidak mau, hanya saja Tuhan belum mengizinkannya untuk mengandung. Semoga saja Marsha bisa bertahan dan mengelola perasaannya selama satu minggu saat mertuanya datang dan tinggal di rumahnya nanti.


__ADS_2